MENJELANG PEMILU 2019

Survei: Ma'ruf bebani Jokowi, Sandi kerek Prabowo

Politisi Maruarar Sirait, Bambang Soesatyo, dan Mardani Ali Sera saat rilis survei Indikator Politik Indonesia di Jakarta, Rabu (26/9/2018). Dalam hasil survei ditemukan, Cawapres Sandiaga Uno mampu mengerek keterpilihan capres Prabowo.
Politisi Maruarar Sirait, Bambang Soesatyo, dan Mardani Ali Sera saat rilis survei Indikator Politik Indonesia di Jakarta, Rabu (26/9/2018). Dalam hasil survei ditemukan, Cawapres Sandiaga Uno mampu mengerek keterpilihan capres Prabowo. | Antara Foto / Rivan Awal Lingga

Sosok Calon Wakil Presiden (Cawapres) Ma'ruf Amin dan Sandiaga S Uno ternyata memiliki efek yang berbeda bagi Calon Presiden (Capres) yang mereka dampingi.

Ma'ruf Amin, yang mendampingi Capres Joko 'Jokowi' Widodo justru membuat tingkat keterpilihan (elektabilitas) pasangan ini menurun. Sebaliknya, Sandiaga S Uno justru mengerek popularitas Capres Prabowo Subianto.

Temuan ini diperoleh dari survei nasional yang digelar Indikator Politik Indonesia antara 1-6 September 2018 pada 1.220 orang yang memiliki hak pilih di seluruh Indonesia. Sampel survei dipilih secara dan diwawancarai tatap muka. Tingkat keterpercayaan mencapai 95 persen dan margin eror kurang lebih 2,9 persen.

Dalam paparannya, Direktur Eksekutif Indikator, Burhanuddin Muhtadi menjelaskan, jika Pilpres digelar saat ini, Jokowi-Ma'ruf lebih unggul dari Prabowo-Sandiaga. Sebanyak 57,7 persen responden akan memilih Jokowi, dan 32,3 persen akan memilih Prabowo.

Namun jika para responden itu mengetahui sosok cawapres, angka itu berubah. Para pemilih Jokowi turun jadi 54,9 persen dan pemilih Prabowo naik menjadi 35,1 persen.

Salah satu sebabnya, sosok Sandiaga lebih dikenal responden dibanding Ma'ruf. Skornya 73 persen banding 70 persen. Citranya juga lebih positif.

"Pada citra personal cawapres, Sandiaga Uno lebih positif pada sejumlah aspek dibanding Ma'ruf Amin. Kecuali pada citra jujur, bisa dipercaya dan bersih dari korupsi serta religius dan taat beragama," kata Burhanuddin, Rabu (26/9/2018), seperti dikutip dari Merdeka.com.

Di mata responden, citra Sandiaga unggul dalam aspek perhatian pada rakyat, tegas dan berwibawa, mampu mengatasi masalah bangsa, dan mampu memimpin Indonesia. Sedangkan citra Ma'ruf hanya unggul dalam aspek kejujuran dan religiusitas.

Publik yang mengetahui penetapan cawapres, lebih banyak yang setuju dengan sosok Sandiaga sebagai pendamping Prabowo. Porsinya 75,7 persen. Sedangkan yang setuju Ma'ruf mendampingi Jokowi 63,4 persen.

Sebanyak 55,4 persen responden percaya pemilihan Ma'ruf sebagai cawapres Jokowi untuk meredam pertentangan pandangan politik di kalangan umat Islam di Indonesia. Alhasil, 49,1 persen publik percaya Ma'ruf akan membuat politik identitas berdasar SARA akan berkurang dalam Pemilu 2019.

Pemilihan dua cawapres ini sama-sama kontroversial. Sandiaga muncul diiringi dengan kicauan Wakil Sekretaris Jenderal partai Demokrat soal Jenderal Kardus.

Namun, nama Ma'ruf muncul sebagai lebih mengagetkan. Namanya muncul mendadak di detik-detik terakhir, dan mengalahkan Mahfud MD.

Mahfud mengaku dijegal oleh Ma'ruf Amin, Ketua PBNU Said Aqil Siroj, Ketua Harian PBNU Robikin Emhas, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, dan Ketua Umum PPP Romahurmuziy.

Walau dibebani oleh Ma'ruf, namun Jokowi masih punya peluang besar memenangkan Pilpres. Burhanudin dalam kesimpulannya menjelaskan hingga awal bulan September 2018 ini, dukungan terhadap capres Jokowi dan Prabowo banyak berubah selama setahun terakhir.

Kedua capres itu sama-sama populer, sehingga peta dukungan juga tidak berubah. Jokowi didukung kepuasan publik atas kinerjanya selama ini sebagai Presiden yang mencapai 72 persen.

Tapi popularitas Sandiaga bisa membuat jarak perbedaan dukungan antara kedua pasangan jadi lebih menyempit.

Tinggal bagaimana Sandiaga mampu memenuhi pengharapan para pemilih, apakah bisa melampaui keyakinan pemilih terhadap kemampuan Jokowi saat ini atau tidak.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR