SURVEI

Survei: Orang takut bicara, takut menjalankan ajaran agama

Ada perubahan persepsi orang terhadap kebebasan pasca-21-22 Mei 2019. Termasuk kebebasan berbicara dan media, bahkan menjalankan ajaran agama.
Ada perubahan persepsi orang terhadap kebebasan pasca-21-22 Mei 2019. Termasuk kebebasan berbicara dan media, bahkan menjalankan ajaran agama. | Antyo® /Beritagar.id

Jika orang ditanya arah perjalanan bangsa, tujuh puluh lima persen menyatakan saat ini kondisinya ke arah yang benar. Menurut paparan hasil survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) Ahad lalu (16/6/2019) di Jakarta, 15,8 persen responden berpendapat arah perjalanan salah.

Meskipun mayoritas orang menganggap arah perjalanan bangsa sudah benar, mereka menganggap ada ketakutan untuk menjalankan ajaran agama. Hal sama berlaku pada kebebasan berbicara politik.

Menurut temuan SMRC, setelah kerusuhan 21-22 Mei 2019 di Jakarta — sebagai buntut demo memprotes hasil Pilpres 2019 — terjadi kenaikan persepsi bahwa orang takut menjalankan ajaran agamanya. Setelah Pemilu 2009 cuma tiga persen, lalu setelah Pemilu 2014 tujuh persen, dan setelah Pemilu 2019 naik menjadi 25 persen responden.

Survei selama 20 Mei-1 Juni lalu itu melibatkan 1.220 responden, namun perolehan yang sahih untuk diolah hanya 1.078 responden (88 persen). Terhadap Pemilu 2019, 68-69 persen warga menilainya jujur dan adil (jurdil), sementara yang menganggap kurang/tidak jurdil ada 27-28 persen.

Bila menilik latar belakang keagamaan responden, 87,9 persen beragama Islam, lalu 9,5 persen beragama Kristen atau Katolik, dan 2,6 persen beragama lain.

Temuan lain survei itu adalah rasa takut berbicara politik meningkat tajam pasca-kerusuhan. Pada Pemilu 2009 hanya 16 persen, lalu Pemilu 2014 naik sedikit jadi 17 persen, dan pasca-Pemilu 2019 menjadi 43 persen.

Jika menyangkut kebebasan berserikat dan berkumpul, pada Pemilu 2009 dan Pemilu 2014 hanya 10 persen yang menganggap ada ketakutan untuk ikut organisasi. Pasca-Pemilu 2019, anggapan adanya ketakutan itu naik, menjadi 21 persen.

Untuk kebebasan pers, 17 persen responden menganggap semua media bebas. Lalu 26 persen menganggap sebagian besar media bebas. Lantas 19 persen menganggap sebagian kecil media bebas. Kemudian 19 persen menilai media tidak bebas sama sekali.

Apa yang terpapar dalam artikel ini dan infografik penyerta hanyalah cuplikan dari paparan hasil survei untuk media. Untuk melihat hasil ukur alam pandang khalayak terhadap isu politik dan ekonomi pasca-21-22 Mei sila lihat presentasi SMRC.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR