MITIGASI BENCANA

Tagana Masuk Sekolah, ajar anak hadapi bencana

Presiden Joko Widodo (kanan) meninjau simulasi Program Tagana Masuk Sekolah dan Kampung Siaga Bencana di SDN Panimbang Jaya 1, Pandeglang, Banten, Senin (18/2/2019).
Presiden Joko Widodo (kanan) meninjau simulasi Program Tagana Masuk Sekolah dan Kampung Siaga Bencana di SDN Panimbang Jaya 1, Pandeglang, Banten, Senin (18/2/2019). | Puspa Perwitasari / ANTARA FOTO

Indonesia adalah negeri rawan bencana. Dilalui oleh jalur cincin api, Nusantara ini rawan gempa, banjir, longsor, bahkan tsunami dan bencana lain.

Jumlah kejadian bencana di Indonesia sejak 2007 hingga 2018 cenderung terus bertambah. Mengajarkan generasi muda untuk lebih tanggap bencana adalah hal krusial.

Menurut data Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB) yang diolah Lokadata Beritagar.id, pada 2018, jumlah kejadian bencana di Indonesia turun 11,5 persen menjadi 2.532 kejadian. Sementara pada 2017, ada 2.862 kejadian.

Walaupun jumlah kejadian turun, jumlah korban yang meninggal dan hilang pada 2018 meningkat signifikan. Dari 378 korban pada 2017, menjadi 4.773 korban pada 2018.

Peningkatan ini disebabkan gempa bumi dan tsunami berskala besar yang berdampak signifikan. Seperti gempa bumi di Nusa Tenggara Barat, gempa yang disusul tsunami di Sulawesi Tengah, dan tsunami di Selat Sunda.

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Begitulah Presiden Joko Widodo meresmikan program Tagana--Taruna Siaga Bencana--Masuk Sekolah (TMS) di Pandeglang, Banten, (18/2).

"Tadi kita tes ke anak yang sudah (dididik), saya kira menangkapnya cepat dan bisa mempraktikkan," kata Jokowi usai meninjau praktik program TMS kala itu.

TMS yang merupakan sinergi Kementerian Sosial dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sudah digelar di sekolah sejumlah daerah. Peserta di setiap sekolah berkisar antara 100 hingga 400 murid.

Provinsi, kabupaten, dan kota yang sudah menggelar TMS di antaranya Belitung Timur Bangka Belitung, Sumedang dan Tasikmalaya di Jawa Barat, Ponorogo dan Tuban di Jawa Timur, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan beberapa daerah lain.

"Tagana Masuk Sekolah siap menjadi gerakan nasional. Kami siapkan pedoman operasional, jaringan kerja sama dengan Kemendikbud dan BNPB, serta melibatkan organisasi kemanusian peduli bencana. Sesuai arahan Bapak Presiden agar gerakan ini betul-betul menciptakan masyarakat yang tanggap bencana," ungkap Menteri Sosial, Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan resmi, Minggu (3/3).

TMS adalah bagian dari upaya Program Edukasi Kesiapsiagaan Masyarakat. Tujuannya agar masyarakat demikian juga petugas penanggulangan bencana paham dan siap siaga akan potensi terjadinya bencana.

Materi yang diberikan dalam TMS cukup beragam. Materi dasarnya berupa upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB).

Sebagai contoh, di Kabupaten Sleman, Tagana melakukan sosialisasi PRB, Logistik dan Shelter di Bumi Perkemahan Agro Merapi Kabupaten Sleman.

Sementara di Sumedang, TMS diikuti pelajar SMP dengan materi Pengenalan Bencana dan potensinya di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Peserta juga diajarkan evakuasi sederhana dan mandiri perorangan maupun kelompok.

Di Tasikmalaya, Jawa Barat, selain memberikan materi dasar pertolongan, TMS juga menyusun peta jalan dan rambu evakuasi, serta rencana pembentukan tim kebencanaan di sekolah.

Sedangkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Tagana mengajarkan potensi kebencanaan di wilayah Kalimantan, PRB Gempa Bumi dan Angin Puting Beliung, serta simulasi jika terjadi bencana.

"Targetnya, peserta mempunyai pengetahuan tentang bencana, potensi dan upaya pengurangan risiko bencana pada tingkatan yang paling sederhana sehingga mereka mampu menyelamatkan diri sendiri dan evakuasi sederhana bila terjadi bencana," urai Menteri Agus.

Tagana adalah kumpulan relawan dari unsur masyarakat. Mereka punya kepedulian dan aktif dalam penanggulangan bencana. Pada Maret 2019, Tagana sudah eksis selama 15 tahun.

Hampir semua anggota Tagana sudah mengikuti pelatihan di bidang penanggulangan bencana dan kesejahteraan sosial. Menurut Mensos, total ada sekitar 40 ribu Tagana yang terdaftar saat ini.

Selain Tagana, ada pula kelompok Relawan Tagana dan Sahabat Tagana. Kedua kelompok ini belum diberi pelatihan.

Jumlah Relawan Tagana dan Sahabat Tagana sekitar 65 ribu. Mensos mengklaim total keluarga besar Tagana bisa mencapai 100 ribu orang di Indonesia.

Bersiap menghadapi benana, Kemendikbud melihat pentingnya mulai sejak dini. Oleh karena itu, mereka menyiapkan bahan ajar pendidikan kebencanaan untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

"Lima bahan ajar yang sudah kami siapkan itu siaga banjir, siaga longsor, siaga tsunami, siaga gempa bumi, dan siaga gunung meletus untuk anak-anak PAUD," ujar Direktur PAUD Kemendikbud, Muhammad Hasbi.

Menilik bencana yang terjadi di Indonesia, pada 2018, puting beliung mendominasi bencana sepanjang tahun. Tetapi pada 2017, banjir yang mendominasi.

Jumlah kejadian puting beliung per 2018 menurun 7,4 persen menjadi 785 kejadian sementara banjir menurun 28,7 persen menjadi 697 kejadian.

Tidak ada kejadian tsunami dan gempa bumi yang disertai tsunami sepanjang 2017, namun ini terjadi pada 2018, masing-masing satu peristiwa. Hal ini berdampak pada meningkatnya jumlah korban meninggal dan hilang yakni 4.773 korban pada 2018.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR