MITIGASI BENCANA

Tak perlu panik saat gunung api erupsi

Seorang warga bersembahyang saat Gunung Agung mengeluarkan abu vulkanik di Desa Tulamben, Karangasem, Bali, Jumat (22/2/2019). Gunung Agung yang berstatus Siaga (Level III) kembali erupsi sebanyak dua kali dengan ketinggian abu vulkanik 300-700 meter di atas puncak gunung.
Seorang warga bersembahyang saat Gunung Agung mengeluarkan abu vulkanik di Desa Tulamben, Karangasem, Bali, Jumat (22/2/2019). Gunung Agung yang berstatus Siaga (Level III) kembali erupsi sebanyak dua kali dengan ketinggian abu vulkanik 300-700 meter di atas puncak gunung. | Nyoman Hendra Wibowo /Antara Foto

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengimbau masyarakat agar tidak panik ketika gunung berapi meletus.

Masyarakat, saran Sutopo, harus tetap tenang saat mendengar informasi gunung meletus. Yang penting, mereka harus tetap berada di area aman sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

"Tidak perlu panik. Itu fenomena yang alami gunung meletus. Tapi, jangan mendekati kawah untuk mendokumentasi aktivitas vulkanik di kawah. Itu berbahaya," imbuh Sutopo dalam keterangan tertulis yang dikutip Beritagar.id, Selasa (23/4/2019).

Imbauan itu diungkapkannya saat terjadi erupsi Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Erupsi Gunung Agung terjadi dengan tinggi kolom abu vulkanik mencapai 2.000 meter atau 5.142 meter di atas permukaan laut pada Minggu (21/4), pukul 03.21 WITA.

Berdasarkan pengamatan BNPB sebut Sutopo, kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat daya. Pos Pengamatan PVMBG Gunung Agung merekam di seismogram dengan amplitude maksimum 25 mm dan durasi ± 2 menit 55 detik.

Erupsi Gunung Agung juga menyebabkan hujan abu vulkanik dengan intensitas tipis hingga tebal yang terjadi di beberapa tempat, seperti di Kabupaten Karangasem, Bangli dan Klungkung. Sebaran abu tergantung dari arah angin.

"Tidak korban jiwa, tidak ada pengungsian, dan aktivitas masyarakat juga normal. Bahkan aktivitas car free day di lapangan Puputan Klungkung dan seputaran perempatan Agung berjalan normal," sebutnya.

Status Gunung Agung sebut Sutopo, tetap Siaga (level III), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah membagikan ribuan masker kepada masyarakat. Namun tidak mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional IGK Ngurah Rai. Semua penerbangan normal.

"Masyarakat, pendaki, dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas di dalam radius 4 km dari puncak kawah Gunung Agung. Di luar radius itu aman," imbuhnya.

Erupsi adalah fenomena biasa yang terjadi pada gunung berapi aktif lantaran Indonesia termasuk dalam deret Sirkum Pasifik yang dikenal dengan sebutan Ring of Fire (Cincin Api). Lokadata Beritagar.id mencatat, terdapat 68 gunung api aktif dengan beragam status di dalam data grafik.

Indonesia berada di zona pertemuan lempeng atau patahan aktif sehingga aktivitas tektonik begitu tinggi. Misalnya di bagian barat Bukit Barisan (Sumatra) dan pesisir selatan Jawa. Alhasil muncul busur vulkanik (volcanic arc).

Selain itu, Indonesia juga memiliki busur gunung api terpanjang di dunia. Dari 68 gunung api aktif tersebut, 60 persen di antaranya menyimpan potensi bahaya sangat besar bagi penduduk di sekitarnya.

Sutopo menyebutkan, tidak akan menjadi bencana jika masyarakat berada di radius aman. "Tidak perlu khawatir berlebihan. Ikuti rekomendasi PVMBG untuk berada di radius aman," tegasnya.

Gunung Bromo misalnya, hingga kini, sebut Sutopo, masih erupsi. Hampir setiap hari mengeluarkan abu vulkanik dari kawahnya. "Suara gemuruh dan tremor terus-menerus, belum ada tanda-tanda aktivitas menurun," ujarnya.

Statusnya, tambah Sutopo, tetap Waspada (level II) dengan zona berbahaya di dalam radius 1 km dari puncak kawah. Masyarakat, pendaki, dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas di dalam radius 1 km. "Di luar itu aman. Aktivitas Bandara Abdulrachman Saleh Malang juga berjalan normal," jelasnya.

Begitu juga dengan aktivitas Gunung Merapi, guguran lava pijar, sambung Sutopo, berlangsung hampir setiap hari. Berdasarkan pengamatan BPPTKG pada 21/4/2019 pukul 00:00-06:00 WIB, teramati guguran lava pijar 4 kali jarak luncur 250-1.000 meter arah hulu Kali Gendol.

Gunung Merapi tetap berstatus Waspada (level II). Area dalam radius 3 km dari puncak diimbau tidak ada aktivitas manusia. "Masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa di luar radius 3 km dari puncak Merapi. Aktivitas masyarakat berjalan normal, termasuk pariwisata," beber Sutopo.

Bahkan Gunung Sinabung di Sumatera Utara yang hingga kini masih berstatus Awas (level IV). PVMBG mengimbau masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 3 hingga 7 kilometer dari kawah. Begitu juga Gunung Gamalama di Pulau ternate yang hingga kini sering "batuk".

Erupsi sulit diprediksi

Minimnya peralatan dan teknik yang canggih menjadi penyebab utama sulitnya pemantauan dalam perut gunung, begitu juga dengan kurangnya data lengkap erupsi sebelumnya.

Bahkan, sejumlah ahli vulkanologi menyebut gunung berapi memiliki perilaku yang rumit dan tidak dapat diprediksi.

"Memprediksi erupsi gunung api sama sulitnya dengan memperkirakan bagaimana letusan akan berkembang setelah terjadi. Sama seperti gempa bumi... Masih tidak mungkin," ujar ahli vulkanologi di Michigan Technological University, Simon Carn dalam Popular Science.

Untuk menganalisis tanda-tanda gunung api akan meletus, sebut Carn, vulkanolog biasanya mengamati aktivitas gunung berapi. Padahal, dampak erupsi gunung api di Indonesia makin besar dalam satu dekade terakhir.

Terdapat sejumlah gunung api aktif yang menebar ancaman bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Penentuan tingkat risiko ini mengacu pada pembobotan Kawasan Rawan Bencana (KRB) berdasarkan pedoman PVMBG pada 2011.

Begitu pula menurut standar data BNPB, KRB rendah atau III hanya memiliki kepadatan penduduk kurang dari lima jiwa per hektar. BNPB dan sejumlah pemerintah daerah pun proaktif menangani jumlah masyarakat yang rentan pada bencana erupsi gunung api ini.

Untuk saat ini, sebut Carn, peringatan dini potensi letusan gunung berapi bisa diukur menggunakan teknologi satelit dan Global Positioning System (GPS).

Satelit berguna untuk membantu mengukur berapa banyak karbon dioksida yang keluar dari magma sebelum dirilis ke permukaan gunung. Sedangkan GPS bisa mengukur seberapa banyak tanah yang menonjol di sekitar gunung.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR