UU ITE

Tak terbukti, Baiq Nuril bebas dari jerat UU ITE

Ilustrasi menuju kebebasan
Ilustrasi menuju kebebasan | Klaus Hausmann/CC 0 /Pixabay

Baiq Nuril Maknun, akhirnya bebas dari jerat Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Majelis hakim Pengadilan Negeri Mataram memutusnya tak bersalah dalam kasus tersebarnya percakapan telepon dengan atasannya.

"Baiq Nuril Maknun tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan penuntut umum," ujar Ketua Majelis hakim Albertus Usada, Rabu (26/7) seperti dipetik dari rappler.com.

Koordinator kuasa hukum Nuril, Joko Jumadi sangat bersyukur dengan keputusan hakim tersebut. Menurut Joko, fakta persidangan menunjukkan yang mentransmisikan materi pornografi bukanlah Nuril.

"Tapi orang lain. Nuril sendiri tidak mendistribusikan (ke khalayak umum) selain ke Imam Mudawin," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (26/7).

Dalam persidangan, majelis hakim juga menemukan bahwa alat bukti yang dibawa ke pengadilan tidak sah. "Berupa rekaman CD (compact disc), bukan dari sumber asli, sehingga tidak sah," kata Joko.

Hakim juga memerintahkan Nuril dibebaskan dari tahanan kota segera setelah putusan ini dibacakan. Nuril menghuni tahanan sejak Jumat (24/3). Mulai Rabu (31/5) Nuril dalam jeratan tahanan kota.

Jaksa menyatakan pikir-pikir dengan putusan ini. Sedangkan tim kuasa hukum menimbang akan menggugat Kejaksaan Tinggi Mataram karena sejak awal kasus ini sudah terkesan dipaksakan.

Sedianya, dalam sidang Rabu (14/6) lalu, Nuril dituntut dengan pidana enam bulan kurungan dikurangi masa tahanan dan denda Rp500 juta. Jika denda ini tak bisa dibayar, bisa diganti dengan tiga bulan kurungan.

Jaksa menganggap Nuril melanggar Pasal 27 ayat (1) Jo Pasal 45 ayat (1) UU Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE. Nuril dianggap melakukan tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan, mentransmisikan, membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

Kasus yang menjerat Nuril dilaporkan oleh Muslim, Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram di mana dia bekerja.

Awalnya, pada Agustus 2012 lalu, Nuril yang masih berstatus pegawai honorer di bagian tata usaha SMAN 7 Mataram menerima telepon dari Muslim,

Menurut jaksa, dalam percakapan itu, Muslim (saksi korban) menceritakan "rahasia pribadinya" kepada Nuril. Tanpa sepengetahuan Muslim, Nuril merekam percakapan itu dengan ponselnya.

Dua tahun kemudian, di halaman kantor Dinas Kebersihan Kota Mataram, ponsel milik Nuril dipinjam Lalu Agus Rofik, kawannya yang duduk sebagai saksi. Selang beberapa jam, di tempat yang sama, datang Imam Mudawin. Dari pertemuan dan peminjaman ponsel itulah rekaman percakapan Nuril dan Muslim bocor.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR