KECELAKAAN KERJA

Tambang nikel berizin di Halmahera longsor, keselamatan dipertanyakan

Aktivitas pencarian korban longsong tambang nikel di Gunung Moro-Moro, Desa Fritu, Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, Senin (10/3/2019).
Aktivitas pencarian korban longsong tambang nikel di Gunung Moro-Moro, Desa Fritu, Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, Senin (10/3/2019). | Hairil Abdul Rahim /Beritagar.id

Empat orang karyawan PT Bakti Pertiwi Nusantara (BPN) yang mengoperasikan tambang nikel di Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, tertimbun longsor. Ahli pertambangan pun heran bagaimana mungkin faktor keselamatan di pertambangan legal bisa sedemikian ringkih.

Kapolres Halmahera Tengah, AKBP Andri Harianto, menjelaskan bahwa longsor terjadi di Gunung Moro-Moro di Kilometer 15, Desa Fritu, pada Minggu (10/3/2019) sekitar pukul 03.00 WIT. Di lokasi kejadian saat itu ada 12 orang karyawan tambang nikel PT BPN.

Para pekerja subkontraktor itu naik ke Gunung Moro-Moro pada Sabtu (9/3) malam untuk melakukan penggarukan biji nikel. Namun ketika pekerjaan sedang dilakukan, hujan deras turun.

Saat itulah terjadi longsor dan akibatnya dua orang operator excavator serta dua orang pekerja lainnya tertimbun material. Seorang berhasil ditemukan seketika, sementara satu operator lainnya sempat dinyatakan hilang.

"Salah satu korban lainnya yang dikabarkan hilang tertimbun tanah longsor itu sudah ditemukan oleh tim evakuasi pada Senin pagi, pukul 08.00 WIT," kata Andri saat dihubungi Beritagar.id dari Ternate, Senin (11/3) siang.

Ketiga karyawan subkontraktor PT BPN yang ditemukan meninggal adalah Bayu Hendra Togo (25) warga Fritu; Anto Pipa (31) warga Desa Waleh, Halmahera Tengah; dan Yusuf Lini (40) asal Toraja, Sulawesi Selatan. Sementara korban selamat adalah Novian Sumampau (29) warga asal Manado, Sulawesi Utara, yang sudah diterbangkan ke kota asal untuk perawatan medis pada Minggu.

Sejauh ini belum diketahui pasti penyebab tanah longsor. Enam orang saksi yang berada di lokasi kejadian mengatakan longsor terjadi saat cuaca hujan deras. "Keenam saksi yang sudah diperiksa ini seluruhnya adalah karyawan PT BPN yang shift malam. Yang naik (ke gunung) untuk pekerjaan malam," kata Andri.

Ia menambahkan pemeriksaan terhadap para saksi yang berlatar karyawan PT BPN tersebut adalah untuk mencari tahu standar prosedur (SOP) pertambangan di sana.

"Yang dimulai dari pemeriksaan saksi-saksi (karyawan PT BPN) yang ada saat kejadian. Baru setelahnya kami akan periksa pihak manajemen," ujar Andri.

Sementara itu Ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Maluku Utara, Ruslan M Umar, mempertanyakan teknis keselamatan PT BPN yang diterapkan kepada karyawannya. Bagi Ruslan, insiden seperti itu bisa terjadi kapan saja dalam aktivitas pertambangan, jadi perusahaan semestinya menyiapkan faktor safety.

"Safety ini menyangkut pelindungan diri karyawan atau pekerja. Apakah itu sudah diutamakan oleh perusahaan tersebut atau belum. Itu SOP yang harus ada.

"Sekarang perusahan itu ada SOP-nya atau tidak, kalau ada dijalankan sesuai prosedur atau tidak. Kalau tidak maka itu berarti fatal,” ujar Ruslan di Ternate.

Ruslan mendengar bahwa penanganan keselamatan PT BPN sejauh ini belum mencapai 100 persen. Demikian pula soal geotekniknya, urusan kekuatan tanah dan batuan serta mengukur kemampuannya menahan bangunan yang berdiri di atasnya.

Ruslan menambahkan, bila aktivitas pekerjaan di sana tidak didukung dengan standar prosedur yang jelas, maka aktivitas perusahaan bisa dihentikan dengan alasan menyebabkan kematian dari insiden tanah longsor tersebut.

"Pandangan saya atas insiden itu kalau hal tekniknya diperlukan data konkret semacam data geoteknik. Pekerjaan ini harus menggunakan data sehingga sistem penambangan itu sesuai perencanaan.

"Saya belum tahu data geoteknik itu lengkap atau tidak. Jadi peristiwa yang menimbulkan korban jiwa ini harus ditelusuri lebih dalam. Terutama soal data geoteknik di wilayah pegunungan tersebut," lanjutnya.

Ruslan menduga, insiden tanah longsor tersebut terjadi karena daya dukung tanah sekitar pekerjaan penggarukan tidak kuat. Sehingga pada titik-titik tertentu menimbulkan longsoran seperti yang terjadi pada Minggu dini hari tersebut.

Lalu dengan adanya korban longsor, menurut Ruslan, berarti ada faktor keselamatan yang hilang. "Saya intinya pertanyakan safety-nya dulu. Karena kalau pekerjaan tambang itu terutama safety. Aman baru bisa kerja, kalau tidak aman tidak boleh. Jangan sampai tidak aman tapi dipaksakan kerja, itu yang fatal," tukas Ruslan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR