Tanaman sereh dan desa pelopor penangkal DBD di Gorontalo

Seorang anak bermain di dekat barisan tanaman sereh di permukiman warga Desa Lupoyo, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, Rabu (6/2/2019). Warga menanam sereh untuk mencegah DBD.
Seorang anak bermain di dekat barisan tanaman sereh di permukiman warga Desa Lupoyo, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, Rabu (6/2/2019). Warga menanam sereh untuk mencegah DBD. | Franco Dengo /Beritagar.id

Demam Berdarah Dengue (DBD) yang sedang melanda Indonesia pada awal 2019 ini sebenarnya bisa dikurangi bila masyarakat sadar menjaga kebersihan lingkungan. Atau seperti terjadi di Provinsi Gorontalo, sejumlah warga melakukan gebrakan menanam sereh di permukiman.

Sejak 2018, masyarakat di Desa Lupoyo, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, berbondong-bondong menanam sereh di permukiman mereka. Penanaman dilakukan setelah muncul banyak korban DBD di desa tersebut pada tahun-tahun sebelumnya.

Dan terbukti, sejak gerakan menanam sereh dilakukan tak ada lagi warga yang menjadi korban DBD. Bahkan meski Provinsi Gorontalo memiliki 383 kasus DBD pada awal 2019 ini, tak satu pun datang dari Desa Lupoyo.

"Dua tahun lalu kalau tidak salah. Banyak tetangga saya yang terjangkit penyakit DBD. Tentu saja itu membuat kami panik. Alhamdulillah, sejak saya dan warga lain mulai menanam sereh di sekitar rumah, sampai sekarang belum ada korban lagi," kata Wati Kasim (54), warga setempat yang ditemui Beritagar.id, Rabu (6/2/2019).

Dari pantauan, sangat sulit menemukan rumah warga Desa Lupoyo yang tidak menanam sereh. Hampir seluruh rumah dipenuhi dengan tanaman rempah ini.

Desa Lupoyo memang merupakan salah satu area endemik DBD karena lokasinya yang sangat berdekatan dengan Danau Limboto. Dan keberhasilan mereka menangkal DBD melalui sereh layak diikuti oleh warga dari kawasan lain.

Sebenarnya sejumlah desa dan kelurahan di Gorontalo sudah menjadikan Desa Lupoyo sebagai percontohan. Mereka akhirnya kecipratan dampak positif, yaitu mendapat cukup banyak pesanan tanaman sereh.

"Baru saja kemarin, saya baru menjual puluhan ikat. Satu ikat harganya Rp5000. Lumayan, selain berfungsi menjadi pencegah DBD dan jadi bahan rempah-rempah rumah tangga, ternyata bisa menjadi sumber pendapatan," ungkap Wati.

Dari mana warga punya inisiatif menanam sereh? Jawabannya adalah dari pemerintah desa setempat.

Sekertaris Desa Lupoyo, Hasan Latif Kilo, menerangkan gerakan menanam sereh ini membuat Desa Lupoyo meraih sejumlah penghargaan dalam bidang lingkungan dan kesehatan dari tingkat kabupaten maupun provinsi

"Selain melakukan sosialisasi tentang penanaman sereh. Kami juga secara rutin turun lapangan, untuk memantau bila ada genangan-genangan di sekitar permukiman warga yang berpotensi menjadi tempat jentik nyamuk.

"Selain itu, setiap Selasa, ada program tambahan, untuk melakukan gerakan pembersihan lingkungan," jelas Hasan.

Kegiatan itu semua membuat Desa Lupoyo mendapat penghargaan Lingkungan Bersih dan Sehat (LBS). Hasan menegaskan, selama ini ketika ada kasus DBD, sering dilakukan fogging atau pengasapan.

Aktivitas fogging nyaris tak berguna karena korban tetap berjatuhan. Hasan mengatakan gerakan menanam sereh ini yang justru bisa menghentikan adanya korban.

Menurut data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo hingga Selasa (5/2), tercatat total 383 kasus DBD di Gorontalo yang tersebar di enam Kabupaten/Kota. Empat kasus di antaranya meninggal dunia.

Angka awal 2019 ini hampir menyentuh 50 persen jumlah kasus DBD di Gorontalo pada 2018 (813 kasus).Peralihan musim kemarau ke musim penghujan yang terjadi pada awal tahun ini membuat jentik-jentik nyamuk tumbuh subur dimana-mana.

Sereh menjadi tanaman yang ampuh dalam mengusir nyamuk karena kandungan wangi citronela tidak disukai nyamuk. Selain sereh, ada juga tanaman lain yang bisa digunakan, seperti lavender, kosmarin, akar wangi, dan lain-lain.

Disamping itu, faktor lingkungan bersih menjadi sangat penting dalam usaha mencegah penyakit DBD. Yang jelas, menanam sereh cukup mudah dan harga bibitnya murah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR