PILKADA 2018

Target partisipasi Pilkada di tengah ingar-bingar Pilpres

Tenaga relawan menunjukkan surat suara pilkada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar yang telah disortir, di kantor KPU Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (13/6/2018).
Tenaga relawan menunjukkan surat suara pilkada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar yang telah disortir, di kantor KPU Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (13/6/2018). | Darwin Fatir /Antara Foto

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di 171 wilayah tinggal memasuki hitungan hari. Ingar-bingar Pilkada 2018 yang bersaing dengan Pemilihan Umum Legislatif serta Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden memicu kekhawatiran rendahnya partisipasi masyarakat.

Gebyar Pilkada 2018 tahun ini memang bersaing dengan Pemilihan Anggota Legislatif dan Pemilihan Presiden 2019. Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, mengharapkan semua yang berkompetisi dapat menjadikan Pilkada benar-benar menjadi pesta demokrasi yang bermartabat.

Tjahjo mengatakan optimistis partisipasi pemilih pada hajatan Pilkada 2018 bisa lebih baik dari sebelumnya. Ia yakin partisipasi tinggi dari pemilih itu bisa terwujud, bila semua proaktif, baik dari penyelenggaranya, pemerintah, dan masyarakat itu sendiri.

"Partisipasi pemilih menjadi salah satu kunci kesuksesan Pilkada, saya berharap masyarakat pro aktif," kata Tjahjo dalam keterangan tertulisnya yang dikutip Sabtu (16/6/2018).

Angka partisipasi pemilih pada Pilkada 2018, kata Tjahjo, harus melebihi angka partisipasi pemilih pada Pilkada 2015 dan tahun 2017 lalu.

Pada Pilkada 2015, angka partisipasi pemilih tercatat sebesar 70 persen dan Pilkada 2017 angka partisipasi pemilihnya sebesar 74 persen.

"Ini tentunya tren positif yang harus lebih ditingkatkan lagi," ujar Tjahjo. "Setidaknya, Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan Amerika Serikat negara yang disebut kampiun demokrasi. Sebab di negeri Paman Sam, partisipasi pemilih tak lebih dari 50 persen," imbuhnya.

Pilkada 2018 akan diselenggarakan di 171 daerah dengan rincian 17 provinsi, 39 kota dan 115 kabupaten. Pencoblosan akan digelar pada 27 Juni nanti.

Pemerintah menargetkan angka partisipasi pemilih pada Pilkada 2018 mencapai 78 persen atau ada peningkatan sebesar 4 persen dari tahun 2017 dan 8 persen dari tahun 2015.

Tjahjo mengimbau warga yang sudah punya hak pilih, agar menggunakan hak pilihnya. Ia juga mengingatkan, pemilih yang sudah merekam tapi belum mengantongi KTP elektronik, agar meminta surat keterangan ke Dinas Kependudukan setempat.

Bagi pemilih pemula yang nanti pada 27 Juni telah berusia 17 tahun, Tjahjo mengingatkan agar bisa merekam datanya dan meminta surat keterangan.

Kata Tjahjo, pemerintah akan berupaya keras menjamin hak pilih warga. Mendagri telah mengintruksikan jajaran Ditjen Dukcapil dan juga Dinas Dukcapil di daerah tetap membuka layanan di hari libur.

Tjahjo mengharapkan pemilih yang berada di luar daerah yang akan menggelar Pilkada, diusahakan untuk pulang ke kampung ke daerah asalnya pada saat pemungutan suara nanti. Tingkat partisipasi sangat penting, karena itu kunci keberhasilan Pilkada tahun 2018.

"Sempatkan waktu untuk pulang ke daerah asal, karena setiap suara yang diberikan pemilih sangat menentukan pembangunan di suatu daerah dalam lima tahun ke depan," kata Tjahjo.

Tjahjo yakin, penyelenggara pemilu, dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah bekerja keras, memaksimalkan sisa waktu yang ada jelang pencoblosan untuk melakukan sosialisasi sehingga partisipasi pemilih bisa meningkat.

Adapun persentase suara sah pileg di Indonesia pada periode 1971-2014 cenderung menurun. Sepanjang periode itu, peningkatan jumlah suara "golput" justru terjadi setelah reformasi, dan kian meningkat dalam pileg berikutnya.

Seperti pada Pileg 1999, persentase suara tidak sah dan yang tak memilih mencapai 6,7 persen, lalu pada 2004 meningkat menjadi dua kali lipat lebih, dan terus meningkat hingga Pileg 2014 mencapai sekitar 33 persen.

Apakah Indonesia lebih baik dibanding Amerika Serikat? Data International Institute for Democracy and Electoral Assistance (International IDEA) menunjukkan, persentase "golput" di AS pada pemilihan legislatif 2016 mencapai 34,8 persen. Artinya, tak jauh berbeda dengan capaian Indonesia pada Pileg 2014.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR