TRANSPORTASI UMUM

Tarif ojek online bisa lebih besar dari yang diumumkan

Pengemudi ojek online Go-Jek berunjuk rasa memprotes kebijakan pemberlakuan tarif baru di kantor Go-Jek, Solo Baru, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (22/3/2018). Pemerintah akhirnya menetapkan tarif ojek online antara Rp1.850 hingga Rp2.600 per km.
Pengemudi ojek online Go-Jek berunjuk rasa memprotes kebijakan pemberlakuan tarif baru di kantor Go-Jek, Solo Baru, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (22/3/2018). Pemerintah akhirnya menetapkan tarif ojek online antara Rp1.850 hingga Rp2.600 per km. | Mohammad Ayudha /Antara Foto

Pemerintah mengumumkan tarif ojek online, berkisar pada rentang Rp1.850 hingga Rp2.600 per kilometer. Namun tarif yang berlaku di lapangan, bisa lebih besar dari yang diumumkan.

Dalam pengumumannya, tarif langsung ini dibagi dua menjadi tarif bawah dan tarif atas. Batas bawah tarifnya Rp1.850-Rp2.000 per km. Untuk tarif batas atas antara Rp2.300 hingga Rp2.600/km.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi mengatakan, dalam ketentuan, ada tarif langsung dan tarif tidak langsung. Kemenhub baru mengumumkan tarif langsung, yang merupakan hak pengemudi.

Tarif tidak langsung milik perusahaan aplikasi ditentukan sendiri oleh Go-Jek dan Grab. Tapi persentasenya tidak boleh lebih dari 20 persen dari komponen tarif langsung.

"Kami gunakan adalah biaya langsung saja. Sedangkan biaya tidak langsung 20 persen di aplikator, 80 persen hak pengemudi," kata Budi dalam konferensi pers, Jakarta, Senin (25/3/2019) seperti dikutip dari CNBC Indonesia.

Dalam pasal 11 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 Tahun 2019 tentang Perlindungan Keselamatan Pengguna Sepeda Motor yang Digunakan untuk Kepentingan Masyarakat, disebutkan tarif langsung memang hanya meliputi apa yang menjadi hak pengemudi. Sedangkan tarif tak langsung meliputi biaya sewa aplikasi.

Misalnya, untuk Jabodetabek, jika tarif yang berlaku tarif bawah, yang diterima pengemudi Rp2.000/km. Jika perusahaan aplikasi mengambil fee 20 persen makan tarif yang dibayar konsumen adalah Rp2.400/km.

Tarif ini direncanakan berlaku mulai 1 Mei 2019.

Tarif juga tergantung pembagian zona

Berdasarkan keputusan pemerintah, ada tiga zona wilayah yang dibagi untuk operasional ojek online.

Zona 1 (Sumatera, Bali, Jawa selain Jabodetabek) sebesar Rp1.850 per km. Sedangkan batas bawah tarif zona II (Jabodetabek) ditetapkan sebesar Rp2.000 per km. Zona III (Kalimantan, Sulawesi, Nusa tenggara, Maluku, dan Papua) ditetapkan sebesar Rp2.100 per km.

Untuk batas atas, zona I Rp2.300 per km, zona II Rp2.500 per km, dan zona III sebesar Rp2.600 per km. "Jabodatebek Rp2.000/km rupiah nett diterima oleh pengemudi. Tapi tetap ada beban dari aplikator 20 persen," ucap Budi seperti dinukil dari Tirto.id, Senin (25/3/2019).

Budi mengatakan untuk Jabodetabek biaya jasa minimal yang ditetapkan adalah Rp8.000-Rp10.000 untuk 4 km pertama. Jika naik ojek kurang dari 4 km, biayanya sama. Nah, perusahaan aplikasi yang menentukan antara rentang Rp8.000-Rp10.000.

Keputusan tarif ini tak sesuai harapan para pengemudi ojek online. "Itu masih di luar ekspektasi, karena kami berekspektasi Rp2.400 paling rendah hingga Rp3 ribu," ujar Anggota Presidium Gabungan Aksi Roda Dua (Garda), Igun Wicaksono kepada CNNIndonesia.com, Senin (25/3). Igun menyatakan, mereka bakal berdiskusi mengupas tarif ini malam atau besok.

Konsumen, bisa jadi juga tak sepakat dengan tarif baru ini. Jika tarif bawah yang berlaku, mungkin masih ramah dengan kantong mereka. Namun jika tarif atas yang dipakai, di luar kemampuan mereka.

Menurut penelitian yang digelar Research Institute of Socio Economic Development (RISED), konsumen berharap tarif maksimal Rp2.000 per km. Menurut peneliti RISED Fitra Faisal, 71 persen konsumen saat ini hanya mampu menghadapi kenaikan pengeluaran per hari kurang dari Rp5.000. Oleh karena itu, kenaikan tarif maksimal Rp2.000/km dianggap masih sesuai dengan kemampuan ekonomi pengguna ojol.

“Dengan jarak tempuh rata-rata konsumen 8,8 km per hari, berarti kenaikan tarif yang ideal maksimal Rp600 per kilometer atau menjadi Rp2.000 per kilometer,” kata Fitra seperti dikutip dari Bisnis, Selasa (19/3/2019).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR