TRANSPORTASI UMUM

Tarif taksi online meroket saat Lebaran

Pengemudi transportasi online di Jakarta (13/12/2017) mengecek pesanan yang masuk melalui aplikasi.
Pengemudi transportasi online di Jakarta (13/12/2017) mengecek pesanan yang masuk melalui aplikasi. | MAST IRHAM /EPA-EFE

Sejumlah pengguna jasa taksi daring (online) mengeluhkan kenaikan tarif layanan pada hari pertama Idulfitri 1439 Hijriah.

Salah satunya Tunggul Putra (29), pengguna taksi daring di Jakarta. Ia mengatakan tarif taksi online ke Stasiun Gambir Jakarta Pusat naik drastis saat ia memesannya pada Jumat (15/6) dini hari. Ia memesan lantaran dirinya harus mengejar kereta untuk mudik ke kampung halaman di Bandung, Jawa Barat.

"Biasanya dari Tebet ke Gambir hanya sekitar Rp40 ribu, tapi kemarin kena sekitar Rp73 ribu," ujarnya kepada Beritagar, Sabtu (16/6).

Noer Maya (26) juga menyampaikan keluhan serupa. Ia memesan jasa taksi daring Jumat pagi untuk bersilaturahmi ke rumah kerabat yang merayakan Lebaran.

Menurut dia, tarif yang tercantum dalam aplikasi meroket meski jarak yang ditempuh tidak jauh. Tarif yang melonjak diyakini dia karena minimnya pengemudi taksi online yang beroperasi selepas salat Id.

"Saya pesan yang satu tarifnya hampir Rp90 ribu, akhirnya coba aplikasi pesaingnya dapat Rp23 ribu. Itu untuk jarak dekat kurang dari 10 kilometer," tuturnya.

Kurangnya jumlah pengemudi selama Idulfitri diakui oleh Ketua Umum Asosiasi Driver Online (ADO) Christiansen Wagey. Kepada Kompas, ia mengatakan selama ini pengemudi taksi online giat bekerja selama Lebaran karena iming-iming bonus yang besar dari pengelola aplikasi.

"Yang membuat driver (pengemudi, red.) tetap bekerja pada saat Lebaran adalah tawaran bonus yang ditawarkan aplikator. Tapi, tahun ini salah satu aplikator tidak memberikan bonus pada hari Lebaran. Selain itu, banyak driver yang mudik," kata dia.

Layanan aplikasi yang dimaksud Christiansen adalah Grab. Pada Lebaran kali ini perusahaan yang bermarkas di Singapura tersebut tidak memberikan insentif khusus pada pengemudi yang bekerja saat Idulfitri.

Tahun lalu, dituturkan CNNIndonesia.com (12/6), Jumlah insentif yang diberikan Grab cukup menggiurkan. Seorang supir mengaku bisa mendapat Rp11 juta selama Lebaran.

Sebagai ganti insentif tersebut, pada tahun ini mereka memberikan tambahan istimewa untuk para mitra pengemudi. Setiap sen yang didapat pengemudi yang bekerja pada tanggal 20-21 Juni 2018--masa akhir cuti bersama--tidak akan dikenai pemotongan biaya administrasi.

"Tarif tersebut 100 persen untuk pengemudi," jelas Marketing Director Grab Mediko Azwar.

"Biasanya Grab mengambil untuk potongan administasi. Pada dua hari itu, jumlah tarif sepenuhnya untuk pengemudi. Anggap saja itu sambutan selamat datang kembali dari kami untuk para mitra."

Berbeda dengan Grab, aplikator taksi online dalam negeri Go-jek justru memberi insentif kepada mitranya yang ingin tetap melayani selama libur Lebaran. Insentif tambahan ini berlaku di hampir seluruh kota, kecuali di Sabang, Pematangsiantar, dan Padang Sidempuan.

"Di hari raya ini, ayo tetap jalankan order Go-Ride, Go-Food, atau Go-Send karena Anda berkesempatan untuk mendapatkan insentif tambahan spesial Lebaran," demikian bunyi pengumuman Go-Jek kepada para mitra pengemudinya, Minggu (10/6).

Ketentuannya, bila pengemudi mendapat lima poin, ia akan mendapat bonus sebesar Rp100 ribu. Jumlah itu berlipat hingga jika mereka dapat mengumpulkan 15 poin, maka bonus yang bisa dikantongi menjadi Rp300 ribu.

Sementara basis penghitungan poin sendiri tetap. Misalnya tiap menyelesaikan sekali order Go-Ride pengemudi akan mendapat 1 poin, dan 1,5 poin untuk pesanan Go-Food.

Selisihnya cukup besar jika dibanding hari biasa. Sebab, biasanya para pengemudi itu hanya mendapat bonus senilai Rp10 ribu untuk 12 poin, Rp30 ribu untuk 16 poin, Rp40 ribu untuk 20 poin, Rp50 ribu untuk 24 poin dan Rp70 ribu untuk 30 poin.

Dengan begitu, nilai bonus maksimal yang bisa mereka dapatkan hanya Rp200 ribu untuk 30 poin harian yang dikumpulkan pada hari biasa.

Berdasarkan catatan ADO, permintaan jasa taksi online selama bulan Ramadan 2018 turun sekitar 50 persen dibandingkan tahun lalu. Dalam tiga tahun terakhir, permintaan taksi online meningkat saat memasuki minggu ke-3 bulan Ramadan. Permintaan justru semakin tinggi menjelang hari raya Idulfitri.

"Tahun ini mengalami penurunan drastis akibat semakin banyaknya kendaraan online," ucap Christiansen.

BACA JUGA