TRANSPORTASI

Tarif tiga ruas jalan tol di Jabodetabek segera naik

Kendaraan melintas di ruas tol dalam kota Jakarta di kawasan Semanggi, Jakarta, Jumat (15/3/2019). Tarif tol di ruas ini akan segera naik.
Kendaraan melintas di ruas tol dalam kota Jakarta di kawasan Semanggi, Jakarta, Jumat (15/3/2019). Tarif tol di ruas ini akan segera naik. | Indrianto Eko Suwarso /Antara Foto

Dengan alasan sudah dua tahun tidak naik, tarif di tiga ruas jalan tol Jabodetabek akan mengalami perubahan. Kenaikan tarif tiga ruas tol tersebut akan terjadi pada tahun ini, tapi belum diketahui waktu persisnya karena masih dibicarakan PT Jasa Marga, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Rencana kenaikan didasari pada Sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan yang memberi hak kepada Jasa Marga selaku Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) untuk mendapat penyesuaian tarif tol sepanjang memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM).

Sedangkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 115 Tahun 2005 tentang Jalan Tol menegaskan bahwa tarif tol dapat berubah tiap dua tahun sekali.

Adapun tiga ruas termaksud adalah jalan Tol Dalam Kota (Toldakot) Jakarta, Tol Jakarta - Bogor - Ciawi (Jagorawi), dan Tol Jakarta - Tangerang (Janger). Tiga ruas ini terakhir mengalami kenaikan tarif adalah pada 2017.

Soal waktu kenaikan tarif, Corporate Communication Department Head Jasa Marga, Irra Susiyanti, mengatakan; "...Seharusnya sesuai dengan tanggal lahirnya (tol)," kata dia kepada Kumparan, Kamis (22/8/2019).

Bila demikian, berarti hanya tarif Tol Janger yang bakal naik sesuai tanggal lahirnya atau pada pertama kali beroperasi; November 1984. Sementara Tol Jagorawi pertama kali beroperasi pada 9 Maret 1978 dan Toldakot pada April 1987.

Wacana kenaikan tarif tiga ruas tol tersebut sebenarnya sudah muncul sejak Februari lalu bersama dengan 12 ruas tol lain di Sulawesi Selatan, Bali, dan Jawa. Boleh diduga, kenaikan tarif bakal terjadi mendekati akhir tahun atau paling cepat pada akhir bulan depan.

Saat ini, menurut Corporate Communication & Community Development Group Head Jasa Marga Dwimawan Heru, pihaknya baru mengajukan dokumen penyesuaian tarif untuk ruas Jagorawi. Selain itu, Jasa Marga masih menunggu evaluasi dari BPJT.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian PUPR, Danang Parikesit, mengatakan evaluasi terhadap Jasa Marga adalah mengenai Standar Pelayanan Minimum (SPM). Antara lain tak boleh ada lubang di bahu jalan, tak boleh ada endapan air pada drainase, toilet harus bersih, dan tersedia bengkel di area peristirahatan (rest area).

Sambil menunggu evaluasi itu, Dwimawan Heru menjamin kenaikan tarif tol akan mempertimbangkan tingkat inflasi di setiap daerah dalam dua tahun terakhir. "Yang jelas sesuai tingkat inflasi, datanya kami dapat dari BPS," tutur Heru.

Merujuk pada data pemerintah, tingkat inflasi secara nasional adalah 3,61 persen pada 2017 dan 3,13 persen pada 2018. Jadi, jika dihitung secara kasar, boleh jadi kenaikan tarif tol di Jagorawi, misalnya, akan mencapai Rp6.700-6.800 dari tarif saat ini Rp6.500.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR