PENINDAKAN KORUPSI

Tas Louis Vuitton di pusaran kasus Lapas Sukamiskin

Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) Sri Puguh Budi Utami (tengah) memberikan kesaksian pada sidang lanjutan dugaan suap fasilitas mewah Lapas Sukamiskin di Pengadilan Tipikor PN Bandung, Jawa Barat, Rabu (9/1/2019).
Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) Sri Puguh Budi Utami (tengah) memberikan kesaksian pada sidang lanjutan dugaan suap fasilitas mewah Lapas Sukamiskin di Pengadilan Tipikor PN Bandung, Jawa Barat, Rabu (9/1/2019). | Novrian Arbi /Antara Foto

Kasus pemberian fasilitas terhadap terpidana korupsi di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin Bandung terus bergulir. Kasus ini pun kian diramaikan dengan munculnya tas merek Louis Vuitton dalam persidangan.

Jaksa KPK menunjukkan tas mewah yang diduga akan diberikan eks Kalapas Sukamiskin, Wahid Husen kepada Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM), Sri Puguh Budi Utami.

Tas merek Louis Vuitton yang masih dibungkus itu diperlihatkan jaksa dalam sidang dengan terdakwa Wahid di Pengadilan Tipikor Bandung, Rabu (9/1/2019). Dalam sidang itu, jaksa menghadirkan saksi sopir Dirjen PAS bernama Mulyana.

Jaksa mengatakan tas itu diberikan oleh Wahid kepada Sri sebagai kado ulang tahun. Tas diberikan oleh Wahid melalui ajudannya Hendry Saputra ke sopir Sri Puguh.

Mulyana mengakui menerima pemberian tas dari Hendry. Ia pun mengetahui bahwa hadiah itu ditujukan untuk majikannya Sri Puguh.

Mulyana mengatakan tas tak langsung diberikan kepada Sri Puguh, tetapi disimpan di dapur kantor Sri. "Disimpan di pantry karena tahu Ibu tidak mengizinkan menerima barang. Dari dulu tidak boleh menerima barang," kata Mulyana dikutip Detikcom.

Mulyana menyebut tak mengetahui isi dari hadiah yang masih terbungkus itu. Dia baru tahu setelah barang dikembalikan ke KPK. Pengembalian itu dilakukan atas inisiatif Mulyana sendiri usai diperiksa KPK.

Komisi Pemberantasan Korupsi menerima pegembalian tas merek Louis Vuitton pada 12 Desember 2018. KPK menjadikan tas itu sebagai bukti dan masuk berkas perkara.

Sri Puguh, yang hadir dalam sidang sebagai saksi, membantah telah menerima tas mewah itu. Sri mengatakan tidak pernah diberitahukan oleh sopirnya bahwa ada titipan tas dari Wahid Husein.

Sri Puguh juga mengatakan sempat bertemu dengan Wahid Husein, namun tidak menyampaikan titipan tas tersebut. "Demi Allah, saya Muslim, saya melihat tas itu ada di sini tadi," kata Sri Puguh dilansir Kompas.com.

Dalam dakwaan Wahid Husein disebutkan bahwa narapidana korupsi Fahmi Darmawansyah melalui tahanan pendamping Andri Rahmat memberikan satu clutch bag merek Louis Vuitton untuk Wahid Husein. Berdasarkan laman Louis Vuitton, harga tas tipe clutch berkisar Rp24 juta.

Tas itu diterima melalui Hendry Saputra sebagai staf umum merangkap sopir Kalapas Sukamiskin. Tas tersebut akan dihadiahkan Wahid kepada atasannya, Sri Puguh Budi Utami sebagai kado ulang tahun, 2 Juli.

Kasus yang menyeret Wahid itu bermula dari operasi tangkap tangan KPK di Sukamiskin pada 21 Juli lalu. Beragam fasilitas mewah terhadap terpidana korupsi kian menjadi sorotan.

KPK menetapkan Kalapas, Wahid Husein; Hendry Saputra, staf umum merangkap sopir Kalapas Sukamiskin; tahanan pendamping, Andri Rahmat; dan terpidana korupsi, Fahmi Darmawansyah.

Wahid didakwa menerima suap dan hadiah dari tiga narapidana kasus korupsi. Ketiganya adalah Fahmi Darmawansyah, Chaeri Wardhana alias Wawan, dan Fuad Amin Imron.

Fahmi merupakan terpidana kasus suap Bakamla. Fahmi divonis 2 tahun 8 bulan penjara dan denda Rp150 juta pada Mei 2017.

Chaeri Wardhana merupakan adik mantan Gubernur Banten, Atut Chosiyah yang dihukum 7 tahun karena pengaturan Pilkada Lebak dan 1 tahun penjara dalam kasus korupsi proyek pembangunan tiga puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Tangerang Selatan.

Adapun Fuad Amin merupakan mantan Bupati Bangkalan yang divonis 13 tahun penjara karena kasus korupsi gas alam dan pencucian uang.

Dari Fahmi, Wahid mendapatkan satu unit mobil double cabin merek Mitsubishi Triton. Wahid juga mendapatkan, sepasang sepatu boot, sendal merek Kenzo, serta tas merek Louis Vuitton. Wahid pun menerima uang Rp39 juta dari Fahmi.

Dengan setoran itu, Fahmi mendapatkan aneka fasilitas seperti alat pemanas air (water heater), pendingin ruangan (AC), TV layar datar, wastafel, kulkas hingga kloset duduk.

Fahmi pun leluasa membuat bilik asmara dalam penjara . Ruangan khusus berukuran 2x3 meter persegi yang dilengkapi dengan tempat tidur untuk hubungan suami istri.

Wahid juga menerima suap dari Chaeri Wardhana totalnya mencapai Rp63,3 juta. Uang dari Wawan diberikan kepada Wahid mulai dari untuk makanan hingga perjalanan dinas Wahid ke Jakarta dan Cirebon.

Dengan setoran itu, Wawan leluasa bepergian, termasuk menginap di Hotel Hilton Bandung selama dua hari.

Suap terhadap Wahid juga bersumber dari Fuad Amin. Wahid menerima uang dari Fuad yang jumlah keseluruhannya sekitar Rp71 juta. Dari Fuad Amin, Wahid menerima fasilitas dipinjamkan mobil Toyota Innova serta dibayari menginap di hotel Ciputra Surabaya selama 2 malam.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR