FINTECH

Tekfin alias fintech yang 'nyekek'

Bunga mencekik. Begitu Anda cari di Google, semua hasilnya berhubungan dengan kredit, bukan dengan kembang.

Dan saat ini yang sedang ramai dipercakapkan adalah bunga pinjaman dari perusahaan fintech (financial technology; Indonesia: tekfin, teknologi finansial). Di Twitter ada cuitan yang menyebut bunga tekfin itu nyekèk – artinya mencekik.

Emangnya seberapa nyekèk? Ilustrasi CNN Indonesia pekan lau mencontohkan, perusahaan tekfin Dana Rupiah memungut bunga 14–27 persen untuk pinjaman berjangka 21 dan 30 hari.

Sedangkan Kumparan pekan ini melaporkan, seorang nasabah harus mengembalikan pinjaman via tekfin – ambil Rp1 juta, saat melunasi harus setor Rp1,4 juta – dalam sebulan. Bunga sebulan sampai 40 persen.

Kasus bunga tinggi tekfin, dan cara penagihannya, akhirnya menjadi urusan Lembaga Bantuan Hukum, Jakarta. Sekitar 500 nasabah mengadu ke sana.

Banyak masalah dalam peer to peer lending (P2P Lending) berbasis aplikasi daring. Misalnya tak semua perusahaan tekfin terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selain itu adalah transparansi bunga hingga cara penagihan yang tak elok, bahkan meneror.

Maka Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), dalam jumpa pers pekan lalu di Jakarta, mengaku dirugikan oleh pemberitaan ihwal tekfin. Para tekfin yang terkabarkan negatif itu, menurut Wakil Ketua Umum AFPI Sunu Widyatmoko, bukan anggota asosiasi.

Hingga Oktober lalu, kompeni tekfin yang terdaftar dan terawasi oleh OJK ada 73 perusahaan dan diumumkan di laman lembaga.

Perihal bunga pinjaman, OJK tak dapat mencampuri karena hal itu merupakan kesepakatan kreditor dan debitor. Prioritas OJK, menurut wakil ketua Dewan Komisioner Nurhaida, adalah mewajibkan keterbukaan informasi sehingga calon peminjam dapat menakar risiko (Liputan6.com, 13/11/2018).

Di sisi lain, menurut direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK Hendrikus Passagi kemarin, ada nasabah yang cenderung mengemplang utang. Malah ada seorang nasabah yang menyasar 19 perusahaan tekfin legal.

Maka urusan pinjam dan bayar ilegal itu, menurut Passagi, menjadi "... tempat pertemuan mereka yang berkarakter buruk melalui transaksi online." (Kompas.com)

Sebenarnya konsumen produk keuangan tahu, semakin mudah kredit diperoleh semakin berat risikonya. Masalahnya, data OJK hanya berupa ikhtisar keuangan, suatu hal yang belum tentu mudah dicerna awam.

Misalkan ada pemeringkatan risiko, tentu para calon pengutang akan terbantu. PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia, yang menyediakan platform tekfin untuk usaha kecil dan menengah, mencontohkan credit scoring.

Kredit ringan biasanya pakai agunan. Dalam tabel dicontohkan bunga teringan 11,7 persen per tahun, dengan tingkat risiko terendah (A++).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR