Temuan obat dan kosmetik illegal makin naik

Petugas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menunjukkan barang bukti jamu ilegal saat melakukan penggerebekan pabrik jamu ilegal di Bogor, Jawa Barat, Februari 2016.
Petugas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menunjukkan barang bukti jamu ilegal saat melakukan penggerebekan pabrik jamu ilegal di Bogor, Jawa Barat, Februari 2016. | Lazyra Amadea Hidayat /Tempo

Temuan kasus obat ilegal dan kosmetik dalam empat tahun ini selalu naik. Menurut Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Roy Alexander Sparringa sejak 2013 hingga 2016, jumlah kasus ini selalu bertambah.

Menurut data BPOM, pada 2013 temuan peredaran obat ilegal sebanyak 71 item dengan nilai Rp5,67 miliar. Setahun kemudian bertambah jadi 3.656 item dengan nilai Rp31,6 miliar. Pada 2015 ditemukan 3.671 item dengan nilai Rp20,8 miliar. Sedangkan tahun ini, untuk periode Februari-Maret 2016, sudah ada 4.441 item temuan dengan nilai mencapai Rp 49,83 miliar.

Untuk tiga bulan terakhir, BPOM menemukan 3.172.937 produk kosmetik, obat-obatan, dan obat tradisional ilegal, kedaluwarsa, serta mengandung bahan kimia obat dan bahan berbahaya.

Roy mengatakan, ada dua kemungkinan kenapa temuannya makin banyak. "Kemungkinan karena kami lebih aktif melakukan penangkapan atau kejahatan farmasi yang makin meningkat," kata Roy di Balai BPOM, Jakarta Pusat, Senin (25/4) seperti dikutip Kompas.com.

Temuan paling banyak adalah kasus kosmetik, yakni 2.220 item. Untuk kasus obat ilegal dan obat tradisional masing-masing sebanyak 1.115 item dan 1.067 item. Nilai temuan paling besar tahun ini adalah kasus obat sebesar Rp31,6 miliar. Lalu disusul kosmetik senilai Rp10,2 miliar, dan obat tradisional senilai Rp7,98 miliar.

Produk farmasi ilegal yang tersebar di Indonesia merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Sanksi hukum yang tidak membuat jera pelaku. Sehingga kasusnya kembali muncul. Roy menjelaskan ada beberapa modus yang digunakan para pelaku kejahatan farmasi di Indonesia. Terkait obat ilegal, ia mengatakan, para pelaku memanfaatkan sarana produksi yang legal sehingga sulit terdeteksi oleh BPOM. "Produksi obat ilegal dilakukan dengan tersamar," ujarnya seperti dikutip CNN Indonesia.
Obat-obatan itu lalu diedarkan melalui pedagang besar resmi, namun tanpa dokumen resmi.

Untuk kosmetik ilegal, kata Roy, pelaku kerap mengemas ulang produk kosmetik yang diimpor ke Indonesia dan kemudian dijual melalui media sosial. Roy berpesan agar konsumen waspada dengan penawaran obat dan makanan illegal. "Khususnya yang dijual secara online dan sarana tidak resmi," ujarnya.

Roy menuturkan, untuk obat tradisional ilegal, para pelaku kerap memproduksi di kawasan Tangerang dan Bogor. Setelah itu, para pelaku menjual obat tradisional di depot-depot jamu di berbagai daerah di Indonesia. "Ini sangat berbahaya. Obat tradisional tidak boleh ada bahan kimia," ujar Roy.

Kepala Bagian Kejahatan Internasional Mabes Polri Kombes Pol Puji Sarwono menjelaskan pelaku mencampur obat tradisional dengan bahan kimia obat jenis phenylbutazone, dexamethasone, dan paracetamol. Bahan-bahan kimia itu berdampak serius bagi kesehatan. Seperti luka pada lambung, pembengkakan bagian tubuh untuk jangka pendek. Sedangkan efek jangka panjang obat tradisional yang dicampurkan bahan kimia adalah gangguan darah, fungsi hati, dan fungsi ginjal.

Obat kimia ini dipasok produsen obat dari Jawa Timur. Provinsi ini menyandang kasus paling banyak. Ada 96 sarana produksi bermasalah di daerah tersebut. Lalu disusul DKI Jakarta sebanyak 34 produksi, Jawa Barat 24 produksi, dan Sumatera Utara sebanyak 4 produksi.

Temuan tersebut mencakup wilayah operasi di seluruh wilayah Indonesia yang dilakukan pada Februari-Maret 2016 dengan temuan sarana ilegal 174 dari 250 sarana yang diperiksa. Dari seluruh kasus tersebut sebanyak 52 kasus atau 29,89 persen dilanjutkan dengan proses hukum.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR