KEJAHATAN LINGKUNGAN HIDUP

Terduga pemenggal kepala orangutan berhasil ditangkap

Orangutan
Orangutan | Mikhail Leonov /Shutterstock

Kasus pembantaian terhadap seekor orangutan di Kalimantan yang jadi perhatian dunia kini menemui titik terang. Seperti yang dilaporkan Tempo.co, Rabu (31/1/2018), dua terduga pelaku ditangkap Polda Kalimantan Tengah (Kalteng).

Keduanya berinisial T bin R (41) dan M bin I (32), warga Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan, Kalteng. Selain keduanya yang merupakan petani karet, diamankan pula barang bukti sebilah parang (h/t Kompas.com).

Dalam konferensi pers, Kepala Polda Kalteng Brigjen Anang Revandoko mengutip keterangan terduga pelaku bahwa pemenggalan kepala orangutan terjadi pada 29 Desember 2017.

Saat itu, sekitar pukul 08.00, keduanya mendapati orangutan masuk ke dalam kebun mereka. Tanpa pikir panjang, tersangka T langsung menembak orangutan itu dengan senapan angin yang dibawanya dengan tujuan menjauhkannya dari area kebun.

Alih-alih pergi atau melemah, orangutan berusia empat tahun dan berjenis kelamin laki-laki ini justru menjadi ganas. Tak pelak, T kembali memuntahkan belasan peluru.

"Sejumlah peluru bersarang di bagian perut sebanyak 14 tembakan, punggung 2 tembakan, dan satu tembakan bersarang di paha kiri. Rupanya karena tertembak, primata yang dilindungi itu bukannya mati namun justru bertambah beringas," kata Anang.

Karena kewalahan dan takut akhirnya tersangka T kemudian meminta pertolongan M yang saat itu juga berada di lokasi untuk mengambil parang dari dalam pondok. Akhirnya dari arah belakang, M melumpuhkan orangutan dengan cara menyayat area leher orangutan tersebut.

Setelah memastikan orangutan mati, keduanya memenggal kepala orangutan lalu menguburnya di halaman belakang rumah salah seorang dari mereka. Sedangkan bangkai tubuhnya dibuang ke Sungai Barito.

Setelah beberapa hari dipendam di belakang rumah, ternyata bangkai kepala orangutan itu menguarkan bau menyengat. Pelaku kemudian membongkar kuburnya, lalu melarung kepala tersebut ke Sungai Maduru.

Centre for Orangutan Protection (COP) menyebut bangkai orangutan ini pertama kali ditemukan para penduduk di aliran sungai pada Senin (15/1/2018). Ditulis Liputan6.com, bangkai yang awalnya dikira manusia ini ditemukan tanpa kepala dan tubuhnya nyaris tanpa bulu.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalteng Komisaris Besar Agung Prasetyo menjelaskan, pihaknya harus membentuk tim investigasi untuk mengungkap kasus ini. Tim terdiri dari Polda Kalteng, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), COP, dan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).

Hasil autopsi menunjukkan orangutan tanpa kepala tersebut disiksa hingga mati oleh para terduga pelaku. Di tubuhnya ditemukan 17 peluru senapan angin yang menembus paha, punggung, jantung, paru-paru, dan lambungnya, serta ada tebasan senjata tajam serta beberapa tulang yang patah.

"Setelah kerja marathon selama 14 hari akhirnya kita bisa ungkap kejadian yang menjadi perhatian dunia ini," ujarnya.

Kedua pelaku ini dijerat pasal 40 ayat 2 juncto pasal 21 ayat 2 Undang-undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi sumber daya alam. Ancaman hukumannya lima tahun penjara.

Manajer Perlindungan Habitat COP Ramadhani mengatakan kasus pembunuhan terhadap orangutan ini bukan yang pertama. Sejak 2011, ada 11 kasus yang ditemukan dan 18 orangutan mati tidak wajar di Kalteng tapi tak semua berlanjut ke pengadilan.

"Dari 11 kasus ini sampai yang minggu kemarin itu, hanya satu yang maju pengadilan. Kenapa terus berulang? Karena efek jeranya tidak ada. Baru satu kasus pembunuhan orangutan yang diusut tuntas sampai diberi putusan hukum," sesal Ramadhani.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR