Terduga teroris di Serpong dan sumber pendanaan ISIS

Petugas berpakian sipil berada di depan rumah terduga teroris SPT (38) yang digerebek Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri di Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (11/8/2017).
Petugas berpakian sipil berada di depan rumah terduga teroris SPT (38) yang digerebek Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri di Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (11/8/2017).
© Muhammad Iqbal /Antara Foto

Detasemen Khusus 88 Antiteror menangkap seorang pria berinisial SP di Perumahan Melia Grove, Paku Jaya, Serpong, Tangerang Selatan, Jumat (11/8/2017). S diduga mendanai orang-orang yang hendak berangkat ke Suriah dan Filipina.

SP ditangkap saat hendak mengantar anaknya ke sekolah. Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul mengatakan, SP merupakan orang yang memberangkatkan dan menggalang dana bagi warga negara Indonesia untuk bergabung dengan kelompok ISIS.

Martinus mengatakan penangkapan SP itu merupakan hasil pengembangan dari penangkapan dua terduga teroris di Desa Kasang Kumpeh, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muara, Jambi, yakni S (38) dan R (39).

Densus 88 menangkap S dan R di Jambi pada Kamis (10/8) sekitar pukul 15.00 WIB. Terduga teroris yang ditangkap di Jambi diduga membantu pengiriman orang-orang ke Filipina dan membuat bahan peledak

Terduga teroris yang ditangkap di Serpong semakin menguatkan dugaan bahwa pendanaan berupa sumbangan untuk aktivitas kelompok ISIS masih mengalir meski kekuatan ISIS sudah terdesak di Suriah maupun di Irak pada 2017 ini.

Prajurit ISIS dari berbagai negara kocar-kacir sehingga banyak yang pulang kampung, balik ke negeri asal, termasuk Filipina dan Indonesia. Terkoyaknya sejumlah markas ISIS kemungkinan akan mengurangi sumber pendanaan kelompok ini.

Kelompok ISIS pernah dikabarkan memiliki dana besar sebelum kocar-kacir seperti sekarang. Pada 2015 lalu, laporan IHS Inc, pemantau keuangan yang berkantor di Inggris menunjukkan kelompok ISIS mendapatkan dana sekitar US$80 juta per bulan.

Laporan yang disusun oleh IHS Inc, pemantau keuangan yang berkantor di Inggris, menyebutkan sekitar 50 persen pendapatan ISIS berasal dari pajak yang dipungut di wilayah-wilayah yang dikuasainya dan perampasan aset.

Adapun sekitar 43 persen sumber dana berasal dari penjualan minyak. Sisanya berasal dari penyelundupan narkotika, penjualan listrik, dan bantuan.

Berbeda dengan IHS, laporan yang dikutip DW.com, menyatakan sumber utama pemasukan ISIS adalah dari penjualan minyak ilegal. ISIS berhasil merebut beberapa ladang minyak penting di Suriah dan Irak. Pentagon menaksir tiap bulan ISIS meraup omset US$40 juta dari pasar gelap minyak.

Kelompok ISIS juga mendapatkan dana melalui penjarahan di bank. Pemerintah Amerika menaksir antara US$500 juta hingga US$1 miliar berhasil diraup ISIS dari bank-bank tersebut. Saat menaklukkan kota Mossul di utara Irak, dilaporkan US$420 juta raib dijarah. Jumlah ini cukup buat membayar gaji 50.000 jihadis selama setahun.

Rakyat yang berada di kekuasaan ISIS harus membayar pajak 5-10 persen dari pendapatan. Pemerintah Jerman melaporkan, ISIS juga terapkan pajak khusus bagi warga non Muslim. Juga perusahaan di kawasan taklukan harus membayar rutin sejumlah uang perlindungan.

Para jihadis biasa mempropagandakan aksi menghancurkan berhala dari kota-kota antik yang dikuasai ISIS. Tapi barang antik berharga tinggi biasanya diamankan dan diselundupkan untuk dijual di pasar gelap. Juga banyak artefak temuan arkeolog yang disita dan dijual di pasar gelap. Sejauh ini tidak ada angka pasti omset penjualannya.

Kelompok ISIS juga mendapatkan sumber pendanaan melalui penculikan dan permintaan uang tebusan. ISIS diyakini mengantungi puluhan juta dolar uang tebusan. Sandera yang punya efek propaganda besar, biasanya dieksekusi dan videonya ditayangkan lewat Internet. Dengan sekali pukul, ISIS mencapai dua sasaran.

Sumber dana lainnya adalah sumbangan. Simpatisan ISIS tersebar di mana-mana dan menyumbang dana bagi kelompok teror ini. Total sumbangannya ditaksir US$40 juta per tahun. Lembaga riset terorisme internasional melaporkan, kasus tertinggi dipegang Arab Saudi, yang sejak 2010 menghukum 860 orang dengan tuduhan membiayai teror. Posisi kedua diduduki AS dengan 100 vonis.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.