KESEHATAN

Teripang untuk mencegah stunting

Pekerja menjemur teripang di Galesong Takalar, Sulawesi Selatan, Jumat (07/12/2018).
Pekerja menjemur teripang di Galesong Takalar, Sulawesi Selatan, Jumat (07/12/2018). | Arnas Padda /ANTARA FOTO

Teripang atau timun laut bisa mencegah stunting. Indonesia adalah negara penghasil teripang terbesar. Namun, lebih dari 30 persen balita di negeri ini menderita stunting.

"Teripang dapat menjadi sumber bahan pangan, suplemen dan obat obatan yang bernilai ekonomi tinggi. Selain itu, teripang terbukti memiliki kandungan gizi sebagai sumber nutrisi untuk pencegahan stunting," kata Kepala Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dirhamsyah, Selasa (16/7/2019).

Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencatat, Indonesia adalah negara penghasil teripang terbesar di dunia. Ironisnya, republik ini merupakan negara ketiga dengan prevalensi stunting tertinggi di Asia pada 2017 menurut WHO (Organisasi Kesehatan Dunia).

Jika pada 2017 angka stunting mencapai 36,4 persen dari jumlah total anak balita, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat angkanya terus menurun hingga 23,6 persen. Pun demikian merujuk standar WHO, batas maksimalnya adalah 20 persen atau seperlima dari jumlah total anak balita.

Menyelisik khasiat hewan laut tak bertulang belakang ini, LIPI pun melakukan riset teripang di Indonesia. Lembaga penelitian tersebut mengeksplorasi kandungan anti-stunting dan mendorong budi daya teripang.

"Setelah dibudidayakan, akan di scale-up ke skala industri. Selanjutnya, kami akan berdiskusi dengan kementerian terkait untuk menyuplai daerah rawan stunting dengan itu," jelas peneliti P2O, Ana Setyastuti.

Tidak semua timun laut adalah teripang. Dari 1.400 spesies timun laut di dunia, lebih dari 350 jenis ada di Indonesia. Namun, menurut penelitian pada 2015, hanya ada 54 jenis yang masuk kategori teripang.

Teripang dari spesies Holothuria Scabra lah yang paling umum dikonsumsi. Biasanya teripang ini dikeringkan sebelum dikonsumsi.

Namun, peneliti P2O LIPI, Iskandar Azmy Harahap menyatakan, metode pengeringan yang salah bisa menghilangkan manfaat itu. Kini, pihaknya mengembangkan metode yang tepat.

"Jadi, ketika sebuah produk untuk digunakan oleh penderita stunting, paling tidak senyawa aktif atau kandungan gizi dalam Scabra masih bisa dipertahankan. Beda dengan yang di pasaran yang bentuknya sudah sangat kering sekali," terang Iskandar.

Alih-alih mengonsumsi teripang guna memerangi stunting, Indonesia justru mengekspornya. Sebab, teripang punya nilai ekonomi tinggi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), eskpor teripang per April 2019 mencapai 429.525 kilogram dengan nilai $3.981.312. Teripang yang ekspor terdiri dari teripang hidup, dikeringkan dan diasinkan, didinginkan, dan yang masih segar.

Selama lima tahun terakhir ekspor teripang mengalami fluktuasi. Ekspor tertinggi terjadi pada tahun 2016, volume ekspor mencapai 1.395.828 kilogram dengan nilai sebesar $6.745.334.

Biasanya teripang diekspor ke Singapura, Hong Kong, dan Tiongkok. Di Tiongkok, teripang jadi makanan mewah yang disajikan pada momen spesial seperti Imlek. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak abad ke-16, pada era Dinasti Ming.

"Mengapa? Karena menurut mereka (teripang) seperti ginseng laut yang membuat stamina tubuh makin tinggi dan meningkatkan vitalitas. Pengetahuan terkini menyatakan bahwa mereka memiliki kandungan anti-kanker,anti-HIV, anti-bakteri, dan kolagen yang tinggi," papar Ana.

Dalam dua dekade terakhir terjadi pergeseran jenis teripang tangkapan (spesies shifting). "Pergeseran tersebut mengindikasikan bahwa jenis tertentu sudah semakin sulit ditemukan di alam," ujar Dirhamsyah.

Karena itu, LIPI melakukan budi daya teripang di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tepatnya teripang dari spesies Holothuria Scabra.

Sebenarnya, ada spesies teripang lain yang juga berpotensi mencegah stunting. Namun, karena untuk penelitian dibutuhkan keberlanjutan, LIPI masih berfokus pada Scabra.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR