KRIMINALITAS

Teror bom pimpinan KPK, Istana minta publik tak berspekulasi

Ketua KPK Agus Rahardjo saat menyampaikan laporan capaian dan hasil kinerja KPK tahun 2018 di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (19/12/2018)
Ketua KPK Agus Rahardjo saat menyampaikan laporan capaian dan hasil kinerja KPK tahun 2018 di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (19/12/2018) | Putra Haryo Kurniawan /Antara Foto

Rumah dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dilempari benda diduga bom molotov, Rabu (9/1/2019) dini hari.

Laporan pertama berawal dari penemuan dua benda berbentuk botol berisi bahan peledak yang dilempar ke halaman rumah milik Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di Kalibata, Jakarta Selatan.

Insiden pelemparan terjadi pada sekitar pukul 01.00 WIB. Bambang, sopir Laode, yang pertama kali menemukan botol diduga bom molotov tersebut. Laporan saksi mata yang dinukil dari tempo.co menyebut ketika itu Laode dan istrinya sempat keluar dari rumah untuk mengecek benda mencurigakan itu.

Tak lama berselang, dua polisi datang ke kediaman Laode. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Raden Argo Yuwono mengonfirmasi benda yang dilemparkan ke rumah Laode adalah bom molotov.

"Dua yang dilemparkan, sekali tidak pecah. Yang kedua pecah," sebut Argo, dalam lansiran IDN Times.

Sementara pada kediaman Ketua KPK Agus Rahardjo di Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat, ditemukan benda diduga berisi bahan peledak tergeletak di halaman rumah. Saat kejadian, Agus sedang tidak ada di rumah. Benda ditemukan pertama kali oleh petugas keamanan di rumah Agus.

Beruntung, seluruh bom yang diletakkan di dua rumah pimpinan KPK itu tidak ada yang meledak dan menimbulkan korban luka.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo memastikan pihaknya akan menindaklanjuti laporan dugaan teror ini. Dedi mengaku telah membentuk tim yang dibantu Detasemen Khusus (Densus) 88 untuk mengungkap dalang di balik pelemparan bom molotov.

"Densus 88 akan secepat mungkin mengungkap peristiwa yang menimpa kediaman Pak Agus dan Pak Laode," tegas Dedi.

Terkait aksi teror yang menimpa dua pimpinan KPK, Juru Bicara Kepresidenan Johan Budi Sapto Pribowo meminta semua pihak untuk tidak membuat spekulasi tentang pelaku berikut dengan dugaan kasus yang tengah disidik KPK sehingga memicu teror.

Johan mengaku saat ini Istana belum mendapat laporan detail terkait dugaan teror kepada pimpinan KPK.

"Kita tunggu bagaimana penjelasan Polri. Saya yakin Polri segera melakukan proses penyelidikan kalau sudah memperoleh informasi dari kejadian itu," sebut Johan ketika ditemui di Kompleks Istana, Jakarta.

Johan menegaskan, Negara telah memberikan perlindungan yang semaksimal mungkin kepada jabatan-jabatan strategis seperti pimpinan KPK. Namun, perlindungan tersebut tetap memiliki celah yang bisa disusupi oknum.

"Waktu saya di KPK (juru bicara) juga ada pengamanan. Tetapi, ruang gerak kita tidak mungkin diawasi 24 jam, itu kan gak mungkin. Mungkin di sela-sela itu ada pihak yang tidak suka dengan KPK dan memanfaatkan untuk melakukan intimidasi atau apapun," sambung Johan.

Teror yang menimpa dua pimpinan KPK memunculkan keprihatinan dari mantan Ketua KPK periode 2007-2009, Antasari Azhar.

"Astaghfirullah, KPK kok masih diserang terus sih? Saya pikir dengan memenjarakan saya sudah selesai, rupanya masih ada juga yah," ucap Antasari saat ditemui usai menghadiri diskusi di Gedung Bina Graha, Jakarta Pusat.

Menurut mantan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan ini, pelaku teror yang mengincar pimpinan KPK umumnya ingin mengintimidasi agar lembaga antirasuah ini tidak melanjutkan penyelidikannya atas kasus tertentu.

Kendati demikian, Antasari meminta para petinggi KPK untuk tidak berhenti mengungkap korupsi meski nyawanya terancam sekalipun. "Jangan takut, jalan terus. Dan saya juga yakin, meski KPK diteror, KPK tidak akan berhenti berantas korupsi," tukasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR