RINGKASAN SETAHUN

Teror bom Surabaya mewarnai peristiwa selama 2018

Ilustrasi gambar. Anggota Gegana Polda Sulbar mengamankan tas yang di yang diduga  bom di depan hotel Matos Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (02/11/2018).
Ilustrasi gambar. Anggota Gegana Polda Sulbar mengamankan tas yang di yang diduga bom di depan hotel Matos Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (02/11/2018). | Akbar Tado /Antara Foto

Tahun 2018 bagi Indonesia juga berisi peristiwa tragis serupa teror bom. Pada Mei, kota Surabaya di Jawa Timur mengalami rentetan ledakan bom.

Seiring dengan peristiwa itu, terungkap pula modus baru terorisme yang menyertakan anak-anak kandung pelaku. Kekejian ini pun mendapat sorotan dari media seperti terangkum dalam media monitoring Beritagar.id.

Bom gereja

Minggu, 13 Mei 2018, pukul 06.30 WIB, menjadi pagi yang tidak akan pernah luput dari memori jemaat Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Surabaya. Sewaktu jemaat tengah khusyuk menjalani misa pagi, sebuah bom berdaya ledak tinggi mengguncang gereja dan menewaskan tujuh orang.

Berdasarkan rekaman CCTV, ledakan terjadi tak lama sepeda motor yang ditumpangi oleh dua orang kakak beradik, Y (18) dan F (16), memasuki halaman gereja dan nyaris menabrak seorang jemaat.

Selang tiga puluh menit dari insiden di Santa Maria, ledakan bom mengguncang Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro Surabaya. Kali ini pelakunya adalah seorang ibu rumah tangga, PK (43) yang mengajak dua anaknya berinisial F (9) dan F (12). Di sini, hanya PK dan dua anaknya yang tewas.

Sementara pukul 07.53 WIB pada hari yang sama, DO (48) menabrakkan mobil Toyota Avanza yang dikendarainya ke gerbang Gereja Pantekosta Pusat Surabaya. Pada saat itu, ia pun meledakkan diri dari dalam mobilnya.

Bangunan depan gereja dan belasan sepeda motor yang terparkir di area gereja hangus terbakar. Dua jemaat yang kebetulan bertugas mengatur parkir di gereja juga tewas.

Pelaku satu keluarga

Tidak ada yang menyangka, jika semua pelaku peledakan diri di gereja Surabaya itu ternyata adalah satu keluarga.

Bila ditotal, bom keluarga DO itu menewaskan 18 orang -- masing-masing terdiri dari enam pelaku dan 12 warga. Pada 1 Juni, satu korban luka bakar 90 persen akibat bom Gereja Pantekosta meninggal dunia.

Namun, rangkaian teror belum berhenti. Pada malam pada hari itu, pukul 20.00 WIB, ledakan terjadi di sebuah Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Wonocolo, kawasan Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur.

Ledakan tersebut terjadi di Blok B lantai 5 dan terdengar hingga lima kali dan dikonfirmasi merupakan sebuah ledakan bom rakitan yang dibuat oleh penghuni rusunawa, AF.

Dalam insiden ini setidaknya tiga orang tewas, dua di antaranya tewas akibat ledakan bom, yakni istri A (Puspitasari), dan anak tertua HAR. Sementara A tewas ditembak polisi akibat memberi perlawanan. Tiga anak lainnya yang terluka dibawa ke Rumah Sakit Siti Kodijah.

Polisi berjaga di lokasi yang diduga terdapat bom di kawasan Kanigoro, Blitar, Jawa Timur, Jumat (19/10/2018) .
Polisi berjaga di lokasi yang diduga terdapat bom di kawasan Kanigoro, Blitar, Jawa Timur, Jumat (19/10/2018) . | /HO-Brigadir Haryo Catur /Antara Foto

Teror di kantor polisi

Belum pulih dari maraton bom pada hari Minggu, masyarakat Surabaya kembali dikejutkan oleh aksi bom bunuh diri di kantor polisi. Senin, 14 Mei, pukul 08.50 WIB, bom meledak di Polrestabes Surabaya, Jalan Sikatan. Pelakunya adalah keluarga TM (50) bersama istrinya TE (43) dan ketiga anaknya. Namun, hanya satu anak yang tak tewas.

Serangan teroris yang menyasar polisi juga terjadi di Pekanbaru Riau. Markas Polda Riau tiba-tiba diserang sejumlah terduga teroris yang mengendarai sebuah mobil Avanza warna putih, Rabu (16/5) sekitar pukul 09.00 WIB.

Dalam insiden itu, polisi menembak mati empat orang teroris. Sedangkan dua polisi mengalami luka-luka akibat bacokan dan Ipda Auzar meninggal akibat ditabrak.

Serangan di Mapolda Riau juga melukai dua wartawan dari TVOne dan MNC TV. Setelah diidentifikasi, para teroris berasal dari Jaringan Dumai.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (tengah), Sesmenko Polhukam Letjen TNI Agus Surya Bakti (kanan) dan Kasum TNI Laksamana Madya TNI Didit Herdiawan (kiri) memberikan keterangan pers terkait kesiapan libur natal dan tahun baru di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (19/12/2018).
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (tengah), Sesmenko Polhukam Letjen TNI Agus Surya Bakti (kanan) dan Kasum TNI Laksamana Madya TNI Didit Herdiawan (kiri) memberikan keterangan pers terkait kesiapan libur natal dan tahun baru di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (19/12/2018). | Hafidz Mubarak A /Antara Foto

Jaringan ISIS

Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Jenderal Pol. Tito Karnavian menyatakan, bom yang diledakkan di tiga gereja Surabaya dan di Sidoarjo berjenis triacetone triperoxide (TATP) yang termasuk berkekuatan ledak tinggi (high explosive). Semuanya berjenis TATP yang sering digunakan kelompok militan negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Polisi memastikan, pelaku teror di Surabaya dan para pelaku yang ditangkap di Sidoarjo dan Riau memiliki hubungan dengan Jamaah Ansarut Daulah (JAD). Menurut Tito, JAD merupakan pendukung utama ISIS di Indonesia.

"Di peta negara luar, ISIS saat ini sedang terpojok, karena itu mereka menginstruksikan jaringannya untuk melakukan serangan," ujarnya dalam Kompas.com.

Tak lama berselang setelah tudingan Kapolri, ISIS kemudian mengklaim sebagai dalang bom bunuh diri di tiga gereja tersebut. Klaim tersebut diberitakan oleh Amaq News yang merupakan kantor berita ISIS.

Amaq menerbitkan artikel itu dalam bahasa Arab melalui aplikasi Telegram. Kemudian tulisan itu diterjemahkan dan dimuat di situs komunitas intelijen antiteroris, Siteintelgroup.com.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR