KRIMINALITAS

Teror panah wayer menghantui kota Gorontalo

Foto ilustrasi aktivitas memanah.
Foto ilustrasi aktivitas memanah. | Novrian Arbi /Antara Foto

Warga Gorontalo sedang resah oleh teror panah wayer yang marak lagi. Terbaru, Minggu (10/2/2019) malam, seorang pengemudi ojek online bernama Muhammad Tasdik (29) menderita luka di bagian dada kanan akibat tertusuk panah wayer di Jalan Bali, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo.

Tak diketahui siapa pelakunya. Sedangkan korban yang berdomisili di Desa Dumati, Kecamatan Telaga Biru, itu langsung dilarikan ke rumah sakit.

Polres Gorontalo Kota pun langsung mengolah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengejar pelakunya yang diduga lebih dari satu orang. Tak berapa lama, Polres Gorontalo bisa membekuk tiga orang pelakunya satu per satu.

Mirisnya, para pelaku masih ABG. Bahkan dua di antaranya adalah pelajar SMA.

RY (19), RA (17), dan AM (17) ditangkap di lokasi berbeda, Selasa (12/2). RY, warga Kelurahan Tomolobutao, mengakui dirinya adalah pelontar panah wayer malam itu.

Sedangkan keesokan harinya, Rabu (13/2), Tim Alap-Alap (Buser) Polres Gorontalo Kota menangkap RM (19). Ia diduga sebagai otak penyerangan termaksud dan bersama tiga orang lainnya sudah menjadi tersangka.

"Keempatnya memiliki peran masing-masing. Penangkapan berdasarkan keterangan saksi-saksi, barang bukti, dan verifikasi. Adanya rekaman CCTV dari minimarket di sekitar kejadian perkara juga memudahkan identifikasi pelaku," terang Kasat Reskrim Polres Gorontalo Kota, AKP Handy Senonughroho, kepada Beritagar.id.

Pada awal 2019 ini, lanjut Handy, sudah ada sedikitnya dua laporan mengenai teror panah wayer. Sedangkan pada 2018, pihaknya telah mengungkap sedikitnya 18 kasus serupa. Oleh karena itu, Handy menyatakan akan menindak tegas para pelaku.

"Jika ada masyarakat ataupun anggota yang terancam nyawanya, saya perintahkan untuk tidak segan-segan tembak pelaku di tempat. Tindakan mereka bisa menghilangkan nyawa siapapun dan mereka sangat liar menyasar siapa saja. Kasus ini masih dalam proses pendalaman lebih lanjut," tegas Handy.

RM mengatakan bahwa ia dan tiga rekannya tergabung dalam komunitas bernama rombongan hantu malam (Rohama). Menurut RM, anggota Rohama cukup banyak dan beragam --pelajar dan non-pelajar.

"Sebelumnya saya memang bermasalah dengan korban. Malam harinya saya mengajak ketiga teman sesama geng untuk mencarinya.

"Pas ketemu, saya menyuruh RY untuk menembak si korban dengan panah wayer. Setelah itu kami lari," ungkap ABG yang kesehariannya berprofesi sebagai abang bentor (becak motor) ini.

Rangkaian teror ini sangat meresahkan masyarakat. Semenjak kejadian, warga jadi takut beraktivitas di Kota Gorontalo, terutama pada malam hari.

"Teror ini sudah berulang kali terjadi. Setiap pulang dari kantor, saya selalu merasa was-was dan tidak aman lagi. Bisa saja saya jadi korban berikutnya. Saya berharap agar pihak kepolisian segera membasmi para pelaku teror sampai ke akar-akarnya," ujar Apriyanto (30), warga Kelurahan Heledulaa Selatan, Kota Gorontalo.

Kepala Bidang Humas Polda Gorontalo AKBP Tri Wahyu Cahyono mengimbau agar masyarakat tidak panik dan risau. Ia menjamin pihak kepolisian akan terus menjaga situasi kamtibmas di wilayah Gorontalo.

"Tentunya kami juga berharap adanya peran serta semua pihak. Termasuk masyarakat sendiri, agar mengaktifkan kembali sistem keamanan lingkungan di daerahnya masing-masing," ujar Wahyu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR