TERORISME

Teroris berencana ledakkan bom saat pengumuman hasil pemilu

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo (kanan) dan Kabag Penum Divhumas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra, menunjukkan sejumlah gambar barang bukti hasil penangkapan sejumlah teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Mabes Polri, Jakarta, Senin (6/5/2019).
Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo (kanan) dan Kabag Penum Divhumas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra, menunjukkan sejumlah gambar barang bukti hasil penangkapan sejumlah teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Mabes Polri, Jakarta, Senin (6/5/2019). | Indrianto Eko Suwarso /Antara Foto

Teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang tertangkap di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (4/5/2019) berencana meledakkan bom pada saat pengumuman hasil rekapitulasi suara Pemilu 2019 pada 22 Mei.

Bom yang akan diledakkan itu, sebut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal (Pol) Dedi Prasetyo, adalah bom rakitan jenis TATP (triaseton triperoksida).

"Bom ini sudah siap meledak. Satu tersangka yang sudah membawa bom ini telah dilumpuhkan," terang Dedi, Senin (6/5).

Jika terjadi, catatan teror di Indonesia akan bertambah. Sejak awal tahun 2019 hingga 13 Maret 2019, telah terjadi setidaknya tiga ledakan, yakni di Bogor, Jakarta, dan Sibolga, Sumatra Utara. Sejak 1977 telah terjadi 755 peristiwa teror di negeri ini.

Daya ledak bom jenis TATP itu, kata Dedi, serupa dengan bom yang diledakkan pada peristiwa di tiga gereja di Surabaya pada 13 Mei 2018 silam.

"TATP ini merupakan salah satu komponen jenis bom yang berdaya ledak tinggi. TATP merupakan jenis bom yang sama digunakan pada saat serangan bom di Surabaya di tiga gereja maupun di Mapolrestabes Surabaya," terang Dedi.

Selain akan diledakkan saat pengumuman hasil rekapitulasi suara, bom itu direncanakan juga untuk menyerang pos polisi di Jati Asih, Bekasi, Jawa Barat.

Dedi mengungkapkan, bom jenis TATP itu ditemukan saat Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap terduga teroris berinisal SL (34) dan AN (20) di Bekasi, Sabtu (4/5).

Dari hasil pemeriksaan, tambahnya, AN memiliki peran dalam membantu merakit bom TATP bersama SL, pimpinan JAD Lampung. "Dia (AN) memiliki peran juga selain menyembunyikan DPO SL, juga mengetahui dan ikut membantu membuat bom TATP. Mereka satu tim," terangnya.

Densus 88 terang Dedi, berhasil menjinakkan bom tersebut dan menyita sejumlah barang bukti bahan untuk merakit bom.

Setelah penangkapan SL dan AN di Bekasi, Densus 88, tambah Dedi, menangkap MC (28), di Jalan Waringin, Tegal Timur, Jawa Tengah.

Usai penangkapan tiga terduga teroris itu, tim Densus 88, Minggu (5/5), kembali menangkap dua orang lainnya. Mereka ialah IF alias SA (19) dan TA (34) di wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat. Keduanya terlibat dalam menyembunyikan SL serta telah membuat bahan peledak jenis TATP.

Mereka juga diketahui terlibat dalam penyerangan bom Thamrin, Jakarta, pada 2016 lalu serta kerusuhan di Mako Brimob pada 2018 yang menewaskan lima anggota Densus 88.

Tingkatkan antisipasi

Polri menjamin sejumlah agenda besar dalam satu bulan terakhir, mulai dari bulan Ramadan, perayaan Idulfitri, hingga pengumuman hasil Pemilu 2019, dapat berjalan dengan aman dan lancar.

Untuk itu, Polri berupaya meningkatkan antisipasi sejumlah gangguan keamanan prioritas, terutama aksi kelompok teroris.

Target para terduga teror itu sebut Dedi, penyerangan terhadap anggota kepolisian, di antaranya, pasukan pengamanan Pemilu 2019. Densus 88 terus mengembangkan penyelidikan setelah penangkapan lima terduga teroris itu.

Menko Polhukam Wiranto mengatakan, selama masa pemilu telah terjadi banyak kejadian yang menganggu ketertiban dan keamanan nasional.

"Karena ada dinamika kondisi nasional yang perlu terus kita kawal, kondisi nasional yang harus terus kita lakukan langkah antisipasi," ujar Wiranto, Senin (6/5).

Pengamat terorisme Al Chaidar menekankan, agar tim Densus 88 Antiteror tidak mengurangi kewaspadaan terhadap sejumlah potensi sasaran lain.

Merujuk sejumlah aksi teror yang terjadi di luar negeri, di antaranya Sri Lanka dan Filipina, Chaidar menyebutkan, sasaran aksi teror ialah tempat keramaian yang terdapat banyak anggota kepolisian dan tempat yang banyak melibatkan warga negara asing.

"Intinya, tempat keramaian harus jadi fokus pengamanan. Apalagi ada agenda terkait pemilu yang ada peluang dimanfaatkan kelompok teroris," ujar Chaidar.

Selain momen Pemilu 2019, bulan Ramadan, tambah Chaidar, juga dijadikan waktu yang telah direncanakan kelompok teroris terafiliasi kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) untuk aksi teror.

Kelompok JAD Lampung, menurutnya, memiliki modal sumber daya manusia dan logistik yang cukup untuk melakukan aksi teror. Mereka telah melakukan pengaderan secara struktural yang melibatkan sejumlah orang di luar Lampung. Selain itu, sejumlah simpatisan jaringan teroris itu juga telah mengumpulkan uang untuk rencana aksi teror.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR