LITERASI DIGITAL

Terpaksa puasa medsos lebih banyak ruginya

Ilustrasi pengguna media sosial.
Ilustrasi pengguna media sosial. | AN Photographer2463 /Shutterstock

Kebijakan pembatasan penggunaan internet sejak Rabu (21/5/2019) demi menekan penyebaran hoaks resmi disudahi. Sabtu (25/5), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menyatakan akses video dan gambar di media sosial kembali pulih lantaran situasi keamanan nasional pasca-kerusuhan 22 Mei mulai kondusif.

Kemkominfo mencatat hoaks berkurang menjadi 6-9 per hari setelah pembatasan, dibanding 20 hoaks beredar dalam sehari sebelum kerusuhan.

Di sisi lain, ada pelajaran dari kebijakan sementara nan kontroversial itu. Bila terpaksa diterapkan lagi, akibatnya malah lebih banyak yang merugi.

Beberapa sumber media di Indonesia melaporkan kerugian setidaknya di dua lini, ekonomi dan sosial.

Yessie D Yosetya, Direktur Teknologi operator seluler XL Axiata, via Kompas Tekno (25/5) mencatat penurunan keseluruhan sebesar 10 persen di lalu lintas data jaringannya.

Whatsapp, kata dia, mengalami penurunan trafik lebih dari 50 persen, sedangkan trafik Instagram yang notabene terdiri dari foto dan video, “Hampir habis semua.”

Akibatnya, kerugian turut diderita sejumlah pedagang daring. Di Sulawesi Selatan, pedagang kosmetik daring mengaku keuntungannya anjlok sampai Rp20 juta. Para pedagang Batik di Pekalongan juga berkurang pesanan hingga 60-75 persen.

Pun sejumlah pedagang daring di Bekasi dan Jember mengeluhkan banyak klien membatalkan pesanan lantaran sulit mengunggah foto barang.

Bahkan, merujuk kalkulasi situs KBR.id menggunakan Cost of Shutdown Tool (COST) yang dikembangkan Netblocks, simulasi dampak ekonomi dari pemblokiran medsos selama satu hari saja di Jakarta, adalah sebesar Rp22.524.837.743. Itu belum dikalkulasikan dengan kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.

NetBlocks Group adalah sebuah organisasi nonpartisan yang melacak kebebasan internet global dengan memonitor pembatasan. Merujuk data dari Organisasi itu, dampak ekonomi dan sosial bisa sangat serius bahkan dari pembatasan internet singkat.

Perlu diketahui, fenomena terpaksa puasa medsos di Indonesia, menurut Unggul Sagena dari Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), adalah bentuk internet throttling, atau pencekikan akses internet dengan menarget tujuan daring tertentu lewat perlambatan bandwidth.

Ini merupakan satu dari tiga strategi Internet shut down yang kini semakin marak diberlakukan pemerintah di seluruh dunia demi menjaga keamanan negara, terutama terhadap potensi kerusuhan publik.

Data Statista menunjukkan India merupakan negara yang paling sering mematikan internetnya, dengan 154 shutdown antara Januari 2016 sampai Mei 2018. Jaraknya terpaut jauh dari Pakistan di posisi kedua (19 shutdown).

Mirisnya, India selalu menerapkan strategi paling merugikan dengan memblokir akses internet ke semua platform. Menurut Indian Council for Research on International Economic Relations (ICRIER), memberlakukan strategi tersebut selama 16 jam saja bisa merugikan perekonomian India sampai $3,04 miliar

Meski dampaknya lebih kecil, negara yang sekadar memberlakukan internet throttling, pun membatasi internet dengan strategi pemblokiran konten tertentu seperti terjadi di Zimbabwe awal 2019 untuk meredam demo kenaikan BBM, juga merugi.

Internet Society, organisasi nirlaba asal AS yang berfokus pada kebebasan internet, memperkirakan kerugian 1 persen dari PDB harian untuk negara dengan konektivitas tingkat sedang, dan 0,4 persen untuk negara dengan konektivitas rendah macam Ethiopia.

Selain ekonomi, adalah bila masyarakat sampai terlibat kerugian sosial akibat puasa medsos.

Sebagaimana dipastikan CNBC Indonesia (24/5) lewat aplikasi trending dan top free di Playstore, masyarakat berbondong-bondong mengunduh Virtual Private Network (VPN)—semacam perantara koneksi antar jaringan—agar akses penuh internet kembali didapat,

Dalam list trending, 19 dari 20 aplikasi teratas sempat diduduki VPN. Pun dari 20 daftar aplikasi gratis teratas, 16 di antaranya adalah VPN dengan enam aplikasi berada di posisi teratas—mengalahkan facebook lite dan BBM. Turbo VPN menduduki posisi pertama.

Padahal, selain VPN berbayar atau dimiliki secara pribadi yang lebih aman digunakan, para pakar telah mewanti-wanti agar tak menggunakan VPN gratisan, tidak terverifikasi, atau dimiliki pihak ketiga karena berisiko dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab. Mulai dari pencurian data termasuk finansial perbankan, terinfeksi malware penyusup, dan profiling (mata-mata profil pribadi).

Keluhan merasa dirugikan juga bermunculan di kalangan warganet. Merujuk hasil poling CNN Indonesia (25/5) di Twitter terhadap 2.121 kalangan muda Indonesia, puasa medsos menyebabkan 24 persen responden merasa sangat galau dan jengkel, 15 persen mengaku galau, dan tertinggi (61 persen), mengatakan biasa saja alias tidak terlalu terpengaruh.

Menanggapi hasil poling, psikolog Erfiane Cicilia, akrab disapa Fifi mengatakan imbas terpaksa puasa medsos bak dua sisi mata uang. Pasti mengganggu, tapi mungkin bisa dipahami orang dewasa.

Namun, berdampak paling negatif pada psikologis remaja lantaran pola pikirnya belum matang, orang-orang yang ketergantungan pada medsos, pun pribadi introver, jika mereka semua tidak memanfaatkan momen ini sebagai ajang menilai tingkat ketergantungan diri terhadap media sosial.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR