KRIMINALITAS

Tersangka pembunuhan sekeluarga di Bekasi terancam hukuman mati

Petugas kepolisian melakukan pengamanan terhadap tersangka berinisial HS (tengah belakang) dalam rilis kasus pembunuhan satu keluarga  di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (16/11/2018).
Petugas kepolisian melakukan pengamanan terhadap tersangka berinisial HS (tengah belakang) dalam rilis kasus pembunuhan satu keluarga di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (16/11/2018). | Aprillio Akbar /AntaraFoto

Pelaku pembunuhan satu keluarga di Bekasi, Jawa Barat, akhirnya tertangkap. Lelaki bernama HS (23) yang juga adik kandung korban, Maya Boru Ambarita (37), itu kini terancam hukuman mati.

"Tindak pidana yang terjadi yaitu pembunuhan berencana dan pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan kematian, di mana pasal yang diterapkan adalah Pasal 365 Ayat 3, kemudian 340 dan 338 KUHP dengan ancaman hukuman mati," ujar Wakapolda Metro Jaya Brigjen Wahyu Hadiningrat di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, seperti dikutip Kompas.com, Jumat (16/11/2018).

HS merupakan pelaku pembunuhan satu keluarga yang terdiri dari suami-istri Diperum Nainggolan (38), Maya Boru Ambarita (37), serta kedua anak Sarah Boru Nainggolan (9) dan Arya Nainggolan (7).

Melalui hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi dan beberapa ahli sebelumnya meyakini peristiwa tersebut bukan ulah perampok.

Hal ini dibuktikan saat polisi berhasil menangkap tersangka HS di kaki Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat, Rabu (14/11) pukul 22.00 WIB. Dalam laporan detikcom, HS ditangkap setelah polisi menemukan petunjuk dari mobil korban yang ditemukan di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

Tim penyidik menemukan adanya bercak-bercak darah pada sejumlah bagian mobil, kuku, serta celana panjang milik HS.

"Kita tunggu labfor, kita menggunakan scientific sebagai ahlinya apakah darah itu identik atau tidak. Kunci mobil kan juga di HS saat dia ada di saung di Garut," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono dalam CNNIndonesia.com, Kamis (15/11).

Mobil Nissan X-Trail pun disita polisi sebagai barang bukti. Polisi juga menyita dua unit ponsel dan sejumlah uang tunai.

Setelah melalui proses pemeriksaan, tersangka yang awalnya mengelak kemudian mengakui bahwa ia adalah pelaku sekaligus otak dari pembunuhan satu keluarga kerabat dekatnya itu.

HS merasa tersulut amarahnya oleh perkataan tak mengenakkan dari mendiang Diperum Nainggolan dan sang istri.

"Keterangan kita dapat pelaku sakit hati karena korban sekeluarga yang mana pekerjaan (pelaku) mengelola kosan beberapa waktu lalu, saat keluar dari pengelolaan (pelaku) sering dihina, disebut tak berguna oleh para korban," kata Wahyu di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, dilansir Liputan6.com, Jumat (16/11).

Kronologi pembunuhan

Karena dendam, HS kemudian melancarkan aksinya dengan sadar dan terencana. Ia pun mendatangi rumah korban pada Senin (12/11/2018).

"Jadi pelaku malam jam 9 datang ke rumah korban, masuk rumah datang udah bertamu dia tidak congkel, dia masuk jadi beberapa hari sebelum aksi sudah direncanakan," lanjut Wahyu Hadiningrat.

Saat baru datang, HS sempat adu mulut dengan Nainggolan. Perdebatan usai sekitar pukul 23.00. Saat itu, Nainggolan beranjak ke kamar.

Namun, HS justru mengambil linggis yang didapatkannya di brankas rumah itu. Ia lalu menghabisi nyawa sang kakak ipar dengan memukul kepala dan menusuk lehernya. Maya Ambarita yang terbangun pun dihabisi dengan cara serupa.

Dua anak Nainggolan terbangun mendengar ribut-ribut. Mereka sempat melihat orang tua mereka. Namun HS menenangkan keduanya. Ia meminta dua keponakannya itu untuk kembali tidur. Saat Sarah dan Arya tidur, HS mencekik mereka hingga meninggal.

Namun, karena hasil autopsi anak belum keluar, polisi mengatakan masih akan mendalami lagi sebab kematiannya.

Sementara ini, polisi juga meyakini bahwa tersangka merupakan pelaku tunggal. Namun, tim penyidik masih akan mengembangkan temuan dan informasi untuk memastikan hal tersebut.

Sedangkan linggis yang digunakan untuk menghabisi nyawa keluarga tersebut kini sedang dalam pencarian. HS mengatakan linggis itu dibuangnya di Sungai Kalimalang, Jakarta Timur.

Upaya pencarian oleh polisi sempat terhambat karena hujan membuat arus di sungai tersebut cukup deras.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR