TERORISME

Tes DNA pastikan pasutri WNI pelaku bom Filipina

Tentara Filipina tengah mengumpulkan bukti di depan Gereja yang meledak di Jolo, Sulu, Filipina (27/1/2019).
Tentara Filipina tengah mengumpulkan bukti di depan Gereja yang meledak di Jolo, Sulu, Filipina (27/1/2019). | Peewee Bacuno /EPA-EFE

Kepolisian RI (Polri), Kamis (5/9/2019) memastikan bahwa pelaku bom bunuh diri di Filipina pada 27 Januari 2019 adalah pasangan suami istri Warga Negara Indonesia (WNI). Kepastian tersebut didapat polisi melakukan tes DNA dari darah yang ditemukan di lokasi pemboman.

"Hasil (tes) DNA-nya sudah keluar. Identik bahwa pelaku bom itu atas nama yang laki-laki atas nama RR dan yang perempuan adalah istrinya atas nama U," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo, dikutip Kompas.com (5/9/2019).

Polri sebenarnya sudah sejak Juli lalu mengidentifikasi pelaku pemboman Gereja Katolik Maria Gunung Carmel di Jolo, Filipina, adalah pasangan suami istri asal Sulawesi Selatan, yaitu RRZ dan UHS. Dua nama tersebut keluar dari mulut lima tersangka yang ditangkap dan diperiksa bersama kepolisian Filipina. Pun dari N dan Y, anggota jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang ditangkap di Padang, Sumatra Barat.

JAD pimpinan Zainal Anshori alias Abu Fahry alias Qomaruddin bin M. Ali telah dinyatakan sebagai organisasi terlarang karena terkait terorisme pada 2018.

Namun uji DNA tetap dilakukan untuk mendapatkan kepastian. "Identik DNA tersebut dengan ayah dan ibu mereka dengan juga DNA yang ditemukan di TKP," terang Dedi.

Ia menyatakan tingkat ketepatan uji DNA mencapai 90 persen sehingga hasilnya tidak perlu diragukan lagi.

Kronologi peristiwa

Peristiwa pemboman gereja di Jolo, Filipina, terjadi saat ibadah misa berlangsung pada 27 Januari 2019 pada pukul 08.45 waktu setempat. Bom pertama meledak di dalam gereja, yang diduga dilakukan oleh RRZ dan UHS, dan bom kedua meledak di luar gereja atau di sekitar lokasi parkir kendaraan.

Sebanyak 22 orang dinyatakan meninggal dan sekitar 100 orang lainnya mengalami luka-luka. Sementara ISIS langsung menyatakan sebagai dalang pemboman itu.

Beberapa hari setelahnya, pemerintah Filipina langsung menyatakan bahwa insiden itu adalah bom bunuh diri yang dilakukan oleh perempuan dan lelaki asal Indonesia. Pemerintah Indonesia sempat memprotes Filipina yang dipandang terburu-buru dalam mengumumkan dugaan tersebut.

Namun kemudian, pada 18 Juli, Polri menangkap anggota JAD di Padang. Dari penangkapan itulah terungkap kronologi pemboman yang dilakukan oleh RRZ dan UHS di Filipina. Pun aliran dana untuk aksi terorisme itu yang berasal dari Afganistan.

"Rekam jejak yang bersangkutan, pernah mengikuti doktrinasi, pencucian otak, penanaman nilai paham radikalisme," kata Dedi kepada CNN Indonesia.

Pasutri tersebut diketahui terafiliasi dengan JAD dan mereka pernah dideportasi dari Turki pada 2017. Pada Desember 2018 mereka diselundupkan masuk ke Filipina melalui jalur ilegal oleh Andi Baso--orang yang dicari polisi Indonesia karena perannya dalam peledakan di Gereja Oikumene, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, pada 2016.

Andi Baso masih diburu polisi dan ia diduga tinggal di daerah Filipina selatan, wilayah yang terkenal sebagai markas kelompok separatis terafiliasi ISIS yang dipimpin Abu Sayyaf.

"Densus 88 (Datasemen Khusus 88 Antiteror) dan polisi di sana telah berkoordinasi melakukan pengejaran terhadap Andi Baso yang diyakini berada di Filipina Selatan,” kata Dedi, dalam Suara.com.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR