KISRUH LAPAS

Tes urine dan penyebab lain kericuhan di Lapas Jambi

Petugas mengevakuasi salah warga binaan saat terjadi kericuhan di Lapas Klas II A Jambi, Rabu (1/3) malam. Puluhan warga binaan perempuan dan laki-laki yang cedera dievakuasi untuk mendapatkan perawatan, sementara pemicu kericuhan masih dalam penyelidikan aparat terkait.
Petugas mengevakuasi salah warga binaan saat terjadi kericuhan di Lapas Klas II A Jambi, Rabu (1/3) malam. Puluhan warga binaan perempuan dan laki-laki yang cedera dievakuasi untuk mendapatkan perawatan, sementara pemicu kericuhan masih dalam penyelidikan aparat terkait. | Wahdi Septiawan /ANTARA FOTO

Kericuhan melanda Lapas klas II A Jambi, Rabu (1/3/2017) malam. Sejumlah napi membakar gedung aula, sel tahanan narapidana wanita dan kantin koperasi yang ada di dalamnya. Akibatnya, para tahanan wanita dievakuasi. Kericuhan menyebabkan tujuh orang terluka. Tak ada korban meninggal dalam peristiwa ini.

Antaranews.com menulis, ketujuh korban luka itu terdiri dari tiga anggota polisi dan enam orang narapidana."Ada satu anggota kepolisian yang cukup parah terkena lemparan baru cukup besar," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divisi Humas Polri, Kombes Pol Martinus Sitompul.

Tiga orang anggota polisi yang terluka akibat lemparan batu. Ketiga anggota polisi itu yakni Ipda Zulkifli yang mengalami luka robek di kepala, Bripda Bambang Heru menderita luka Robek bagian hidung, dan Bripda Alfazri Saputra menderita luka lebam punggung.

Menurut Menkumham Yasonna Laoly kericuhan di Lapas Klas II A Jambi ditengarai karena beberapa tuntutan fasilitas narapidana yang tidak kunjung terpenuhi.

Warga binaan di Lapas itu, kata dia, meminta adanya air bersih dan adanya perluasan septic tank.

"Saya sudah telepon ke Kanwil semalam (Kamis) dan Pak Danrem dan Polri yang ikut menjaga di situ. Ada beberapa tuntutan mereka, misalnya air bersih, pembesaran septic tank karena sudah sangat overcapacity," ujar Yasonna seperti dikutipTribunnews.com.

Karena tak juga dipenuhi, kekesalan para napi memuncak saat Rabu malam itu dilakukan razia dan tes urine.

"Ya sebelumnya ada tes urine. Ditemukan ada yang positif sekitar 20 orang," kata Menkumham Yassona Laoly, Kamis (2/3/2017), seperti dinukil Liputan6.com.

Setelah temuan itu, kata Yassona, Kanwil Kemenkumhan setempat meminta bantuan BNN dan Polri untuk melakukan penggeledahan. Saat penggeledahan itulah kericuhan terjadi.

Kakanwil Kemenkumham Jambi, Bambang Palasara mengakui aksi kericuhan di lapas akibat razia narkoba malam hari. Saat dilakukan razia para napi melakukan perlawanan. Kondisi memuncak saat pukul 21.45. Aksi penolakan yang tadinya biasa saja tiba-tiba memuncak dan terjadi keributan. Sejumlah tahanan nekat melempar batu ke petugas. Sebagian lainnya bahkan sampai membakar ruang koperasi, kantin dan aula dalam lapas. Akibat kejadian itu, napi wanita sejumlah 85 orang telah di evakuasi ke imigrasi Jambi.

Sekitar pukul 00.10 sebanyak 20 orang perwakilan napi melakukan dialog dengan Kalapas, Kakanwil Kemenkumham, Kapolda Jambi, Danrem, Sekda Prov Jambi, Kapolresta Jambi, dan Walikota Jambi.

Dalam dialog perwakilan napi menuntut tidak mau ada razia di malam hari. Mereka kahwatir jika razia dilakukan malam ada penyusup dari luar personil lapas. Martinus menjelaskan, dua pekan lalu, satuan narkoba Polresta Jambi dan Polda Jambi mengungkap adanya pabrik ekstasi dan sabu rumahan dan peredaran sabu di Jambi.

Dari para tersangka yang ditangkap, diketahui pembuatan ekstasi dan bisnis sabu di Jambi dikendalikan oleh beberapa napi yang berada di dalam Lapas Klas IIA Jambi.

Karena informasi itulah, pada Rabu itu dilakukan razia dan tes urine namun ternyata mendapat perlawanan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR