The Fed mencoba bermain dengan psikologi pasar

ara broker bekerja di lantai saham New York Stock Exchange setelah pengumuman dari Federal Reserve Bank di New York, Rabu (28/10). The Fed tetap mempertahankan suku bunga di angka yang sama pada hari Rabu dan referensi langsung ke pertemuan berikutnya yang membuat kenaikan suku bunga pada bulan Desember secara pasti.
ara broker bekerja di lantai saham New York Stock Exchange setelah pengumuman dari Federal Reserve Bank di New York, Rabu (28/10). The Fed tetap mempertahankan suku bunga di angka yang sama pada hari Rabu dan referensi langsung ke pertemuan berikutnya yang membuat kenaikan suku bunga pada bulan Desember secara pasti. | Lucas Jackson /ANTARAFOTO/REUTERS

Perekonomian dunia saat ini sedang berada di tengah ketidakpastian menantikan keputusan Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, terkait kenaikan suku bunga mereka. Gubernur The Fed Janet Yellen beberapa waktu lalu sempat mengirimkan sinyal akan menaikkan suku bunga, namun hal itu dinilai masih sumir.

Ekonom yang juga Kepala Mizuho Securities, Steven Ricchiuto meyakini, Yellen hendak bermain dengan psikologi pasar atas ketidakpastian ini. Steven meyakini Yellen akan melakukan normalisasi secara tiba-tiba dan tidak memberikan petunjuk jelas.

Tapi, menurut Steven di laman CNBC.com, hal itu lumrah terjadi bagi pemegang jabatan seperti Yellen. Karena, Ben Bernanke dan Alan Greenspan juga pernah mengambil langkah serupa untuk memicu gejolak di pasar.

"Menurut saya, Janet Yellen sedang mencoba untuk menyuntikkan ketidakjelasan ke dalam proses pengambilan keputusan, jadi ketika orang-orang sedang mencoba membuat keputusan berinvestasi, maka mereka harus menimbang risiko yang akan terjadi lebih jauh," kata Steven.

Steven pun melihat hal itu benar terjadi. Karena banyak perusahaan yang mulai mengajukan utang, sebagai tanda bahwa pasar mulai memasuki menetapkan suatu harga dalam sebuah risiko.

The Fed juga dinilainya tidak akan menaikkan suku bunganya pada Desember mendatang, karena ekspektasi atas nilai investasi masih rendah di Amerika Serikat, begitu juga data ekonomi sejumlah negara yang tercatat masih rendah serta dolar AS yang masih menguat.

Tapi, William Poole, ekonom dari Cato Institute menegaskan bahwa sebaiknya jangan terburu-buru menuding The Fed sebagai penyebab rendahnya tingkat inflasi AS itu.

Karena, meski The Fed berhasil membuat tingkat inflasi tetap berada di dekat target 2 persen, namun bukan The Fed yang mengatur besar tingginya salah satu faktor penentu kenaikan suku bunga itu.

Menurut Poole, suku bunga jangka panjang yang tetap rendah merefleksikan rendahnya data pekerja dan permintaan kredit.

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla kembali menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu bergantung kepada ketidakpastian yang sedang "dirancang" oleh The Fed ini.

"Kita tak perlu, dengan alasan apapun, The Fed lah naikkan suku bunga, apapun lah, untuk menolong negeri ini. Janganlah para analis keuangan bicara bunga The Fed, apa urusannya," kata JK dalam Liputan6.com.

Pernyataan JK itu juga untuk menyindir suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang masih terbilang tinggi yakni 7,5 persen, yang sudah tidak berubah selama 10 bulan terakhir.

"Dengan naik 0,25, itu masih kecil. Indonesia dengan 7,5 persen masih tinggi. Orang akan tetap percaya dengan Indonesia. Jangan dimain-mainkan itu di Republik ini," katanya.

Menanggapi itu, Gubernur BI Agus Martowardojo menilai jika Wapres JK mengingatkan peran BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar dengan memperhatikan inflasi.

Dia mengatakan, pada tahun 2013-2014 inflasi pernah tinggi mencapai 8 persen. Kemudian perlahan turun, hingga saat ini dikisaran 4 persen. Agus menambahkan, jika inflasi lebih rendah lagi maka ada peluang bagi BI menurunkan suku bunga acuan.

"Kalau Indonesia bisa terus jaga inflasi rendah dan stabil ini baik sekali. Karena negara-negara tetangga kita di ASEAN itu hampir semua yang besar-besar itu inflasinya hampir 3 persen. Nah, kalau Indonesia sudah bisa mengarah ke situ akan baik. Kalau inflasinya sudah rendah, kalo nanti kondisi eksternalnya kita sudah lebih stabil itu bisa membuat tingkat bunga menjadi lebih rendah," jelasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR