FLUKTUASI RUPIAH

The Fed tak berganti arah, Rupiah terus memerah

Lembaran mata uang rupiah dan dollar AS diperlihatkan di salah satu jasa penukaran valuta asing di Jakarta, Senin (2/7/2018).
Lembaran mata uang rupiah dan dollar AS diperlihatkan di salah satu jasa penukaran valuta asing di Jakarta, Senin (2/7/2018). | Puspa Perwitasari /Antara Foto

Tingkat pengangguran yang terus merosot serta optimisme ekonomi Amerika Serikat (AS) yang solid membuat Federal Reserve tetap menahan suku bunganya.

Hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FMOC) pada Rabu (1/8/2018) waktu AS, memutuskan untuk membiarkan tingkat Federal Fund Rate (FFR) di kisaran 1,75 persen hingga 2 persen, atau posisi sama sejak terakhir kali dinaikkan pada Juni 2018.

Ini adalah pertemuan perdana The Fed, panggilan familier untuk lembaga keuangan itu, setelah Presiden AS Donald Trump mengkritisi keputusan untuk menaikkan suku bunga.

Idealnya rapat FMOC selalu digelar setiap bulan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi serta menentukan arah kebijakan selanjutnya.

Kendati begitu, Gubernur The Fed Jerome Powell sudah pernah mengatakan akan menaikkan suku bunga sebanyak empat kali pada tahun ini demi mengejar pemulihan ekonomi AS pasca-krisis, sepuluh tahun silam.

The Fed tercatat sudah dua kali menaikkan suku bunganya, yakni pada Maret dan Juni 2018. Artinya, masih ada dua kali kesempatan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunganya di sisa tahun ini.

Salah satu dampak positif yang diharapkan dari kebijakan suku bunga The Fed adalah penguatan mata uang Negeri Paman Sam. Tak ayal, fluktuasi Dolar kerap terjadi jelang dan setelah rapat dewan gubernur (RDG) The Fed dilaksanakan.

Sebagai mata uang yang kuat (hard currency), keperkasaan Dolar tentu langsung berdampak sebaliknya pada negara-negara yang memegang mata uang lemah (soft currency), seperti Rupiah Indonesia.

Dampaknya terlihat jelas. Sejak pengumuman itu, Rupiah berada di posisi genting. Bloomberg Index mencatat, pada perdagangan Kamis (2/8/2018), mata uang Garuda ditutup di posisi 14.478 , naik 38 poin dari perdagangan di hari sebelumnya.

Sampai pembukaan Jumat (3/8/2018), Rupiah juga masih ada di posisi merah dengan dibuka pada level 14.498, atau naik 20 poin dari penutupan kemarin.

Beberapa mata uang di kawasan Asia juga rontok. Won Korea Selatan melemah 0,47 persen, Dolar Singapura minus 0,29 persen, Baht Thailand minus 0,22 persen ,dan Rupee India minus 0,19 persen.

Begitu juga dengan Ringgit Malaysia (minus 0,19 persen), Peso Filipina (minus 0,14 persen), Renminbi Tiongkok (minus 0,11 persen), dan Dolar Hong Kong (minus 0,01 persen). Hanya Yen Jepang yang berhasil menguat 0,13 persen.

Suku bunga yang lebih tinggi juga berdampak pada gerak komoditas logam mulia, emas. Keputusan untuk tidak mengubah suku bunga justru membuat harga emas dunia turun sekitar 0,5 persen ke posisi $1.227,6 (sekitar Rp17,78 juta) per ons.

“Emas membutuhkan nilai Dolar yang lebih rendah atau data inflasi yang lebih kuat untuk melanjutkan reli. Kekhawatiran geopolitik yang saat ini terjadi juga membuat emas sulit untuk itu,” ucap Tyler Richey, analis the Sevens Report yang dikutip MarketWatch.

Waspada menghadapi September

Keputusan The Fed untuk menahan suku bunganya pada awal Agustus ini memperkuat spekulasi bahwa kenaikan selanjutnya bakal terjadi pada September dan Desember 2018.

Aplikasi FedWatch dari CME Group bahkan menghitung tingkat probabilitas kenaikan FFR pada September sebesar 91 persen, perkiraan serupa juga berlaku untuk kenaikan pada Desember 2018.

Dengan kata lain, sejumlah pasar perlu mempersiapkan diri menyambut spekulasi tersebut dengan menyiapkan kebijakan yang “tahan banting”.

Catatan KONTAN memaparkan, saat The Fed menaikkan FFR pada Maret 2018, IHSG langsung merespons dengan bergerak turun 0,93 persen ke posisi 6.254,07 (22/3/2018) dibandingkan posisi satu hari sebelumnya 6.312,83.

Begitu juga saat The Fed tidak mengubah suku bunganya pada Januari 2018. Meski tidak parah, namun IHSG tetap merespons dengan turun sebesar 0,1 persen dari posisi 6.605,6 ke 6.598,4.

Direktur Keuangan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Anggoro Eko Cahyo pernah mengatakan, salah satu cara yang bisa dilakukan BI untuk meminimalkan dampak dari kebijakan The Fed adalah dengan ikut “mengutak-atik” suku bunga dalam negeri.

“Jika BI konsisten dengan langkah-langkah pre-emptive, maka dengan menaikkan suku bunga acuan (BI 7-day reverse repo rate) hingga akhir 2018, bisa mengimbangi kenaikan FFR,” kata Anggoro pada laporan lain KONTAN.

Apalagi, kebijakan The Fed bukan satu-satunya penyebab Rupiah melemah. Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim, mengatakan pelemahan Rupiah saat ini juga disumbangkan oleh faktor geopolitik seperti perang dagang AS-Tiongkok.

“Meski ada rencana pertemuan tingkat menteri antara kedua negara, namun perang tarif ini langsung membuat ketidakpastian bagi pasar,” kata Ibrahim mengutip CNN Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR