Tidak semua produk mi Samyang haram

Ilustrasi mi ramen
Ilustrasi mi ramen
© Freeimages.com

Anda pasti pernah mendengar produk mi instan Samyang. Entah Anda pernah mencicipinya atau belum, namun mi instan asal Korea Selatan ini memang cukup fenomenal dengan rasa pedasnya yang di atas rata-rata.

Kompetisi Samyang atau yang lebih dikenal dengan sebutan "Samyang Challenge", bahkan sempat ramai di kalangan warganet, medio 2016.

Nama Samyang pun melambung tinggi sejak saat itu. Asia Tenggara, termasuk Indonesia, disebut berkontribusi 35 persen terhadap total pasar dari mi Samyang pada 2016.

Penjualannya melonjak hingga lima kali lipat dibanding 2015, yakni sebesar 30 miliar Won (sekitar Rp351,92 miliar), sebut sebuah laporan yang dibagikan oleh Korea JoongAng Daily.

Kepopuleran Samyang pun pada akhirnya harus berbenturan dengan persoalan klasik di negara dengan mayoritas Muslim ini. Tidak seluruh produk mi instan Samyang adalah halal, pun mengantongi sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meminta penarikan dua produk Samyang: Samyang U-Dong dan Samyang rasa Kimchi. Keduanya disebut BPOM mengandung DNA babi yang tidak boleh dikonsumsi Muslim.

Selain produk Samyang, ada dua mi instan asal Korea Selatan yang ditarik peredaraannya karena persoalan serupa: Nongshim Shin Ramyun Black dan Ottogi Yeul Ramen.

Surat edaran BPOM bernomor IN.08.04.532.06.17.2432 itu ditujukan untuk Kepala Balai Besar/Balai POM seluruh Indonesia sejak Kamis (15/6/2017).

Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito mengatakan, penarikan produk-produk tersebut dilakukan setelah laboratorium BPOM melakukan uji terhadap produk-produk tadi. Dari hasil pengujian diketahui keempat produk tadi menunjukkan hasil positif mengandung fragmen DNA spesifik babi.

Penny menjelaskan, produk-produk tersebut sebenarnya sudah didaftarkan ke BPOM untuk diberikan nomer registrasi makanan. Dalam dokumen pendaftaran yang disertakan, importir juga sudah menjelaskan produk yang mengandung babi dan tidak.

Namun setelah diuji, ternyata masih ada produk yang mengandung babi namun tidak diberikan label. "Tugas importir untuk memberikan gambar tempel babi," sebutnya dalam Detikcom, Minggu (18/6/2017).

Tapi apakah semua produk Samyang tidak bisa dikonsumsi Muslim? Sejatinya tidak. Di negara asalnya sendiri, dua produk Samyang ada yang memiliki lisensi halal dari Korean Muslim Federation.

Bahkan, dilansir Kumparan, produk halal Samyang diproduksi khusus di pabrik Wonju, Gangwon, Korea Selatan. Pabrik yang memiliki luas 130 meter persegi ini hanya berjarak 140 kilometer dari Seoul, ibu kota Korea Selatan.

Salah satu produk yang dimaksud adalah mi Samyang dengan rasa Hot Chicken Flavor Ramen, atau mi yang biasa dikonsumsi warganet untuk melakukan kompetisi Samyang tadi. Di Malaysia dan Singapura, produk serupa juga telah memiliki label halal pada kemasannya.

Persoalannya, mi Samyang yang beredar di Indonesia belum memiliki sertifikasi MUI.

Salah satu importir mi Samyang, PT Korinus, mengatakan bahwa proses sertifikasi MUI sebenarnya sudah diajukan, dan tengah dalam proses.

Bahkan kedua produk Samyang, Hot Chicken Ramen dan Mi Goreng Pedas Rasa Ayam, sudah terdaftar di BPOM dengan nomor BPOM RI ML: 331510033167 dan 231509027167, dengan gramasi masing-masing 140 gr dan 105 gr.

Berbicara pada kesempatan lain, anggota Komisi IX DPR RI yang membidangi kesehatan, Saleh Partaonan Daulay menyebut tindakan yang dilakukan BPOM ini semata-mata untuk melindungi konsumen yang memang semestinya rutin dilakukan.

Meski begitu, Saleh mengatakan, produk-produk yang ditarik itu tak berarti bahwa tidak boleh dijual, sebab masih akan ada yang membelinya, yakni konsumen dari kalangan non-Muslim.

"Tapi kalau tidak ada labelnya, ini bisa menjadi masalah. Ada ketidakjujuran yang dilakukan oleh importirnya," sebut Saleh pada Detikcom.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.