MUDIK 2019

Tiket pesawat mahal, Trans Jawa bakal jadi serbuan

Sejumlah penumpang kereta api berada di Stasiun Bandung, Jawa Barat, Jumat (26/4/2019).
Sejumlah penumpang kereta api berada di Stasiun Bandung, Jawa Barat, Jumat (26/4/2019). | Aloysius Jarot Nugroho /AntaraFoto

Trans Jawa diprediksi bakal jadi primadona saat musim mudik Lebaran 2019. Akses perjalanan yang sudah terkoneksi hingga makin tingginya harga tiket pesawat disebut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menjadi salah satu faktor yang mendukung pernyataan itu.

Di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (3/5/2019), Budi memprediksi adanya peralihan penumpang pesawat menuju moda transportasi lainnya sebanyak 10 persen selama musim mudik dan arus balik nanti.

Dari persentase peralihan itu, pihaknya menduga mobil dan motor bakal jadi pilihan yang terbanyak—meski Budi turut mengimbau masyarakat agar mempertimbangkan kembali opsi terakhir.

“Kita sarankan pakai mudik gratis karena motor sangat bahaya. Sebanyak 75 persen kecelakaan (selama mudik) itu karena motor,” kata Budi.

Pihaknya memprediksi puncak mudik bakal terjadi pada Jumat, 31 Mei 2019, khususnya untuk aktivitas yang keluar dari DKI Jakarta menuju kota lain di Pulau Jawa, Sumatra, dan Bali.

“Dari waktu libur yang telah ditetapkan, pemudik punya waktu dari tanggal 30 Mei sampai 5 Juni. Dari sebaran kita, kemungkinan masyarakat punya preferensi mudik menggunakan jalan tol,” ucap Budi.

Kendati demikian, Budi berharap masyarakat bisa mengatur waktu perjalanannya demi menghindari penumpukan pada hari terakhir masuk kerja tersebut. Dari perkiraannya, perjalanan yang dilakukan lebih awal, seperti 29 Mei (malam) dan 30 Mei (tanggal merah), bakal lebih aman dari macet.

“Mulai lah tanggal 30 (Mei), karena 30 libur kan, bahkan 29 Mei malam sudah mulai pulang. Itu sepi. Kita sampaikan, 31 Mei itu puncak, jangan pada tanggal itu,” pintanya.

Demi mengurai kepadatan, Budi berharap masyarakat mau beralih pada moda selain mobil, seperti misalnya bis dan kapal laut. Khusus untuk kapal laut, pihaknya kini tengah memaksimalkan jalur pelayaran dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, menuju Tanjung Emas, Semarang.

"Sekarang memang baru 1 kapal dengan kapasitas mengangkut 5.000-10.000 penumpang, kalau minatnya melampaui, ini akan kami tambahkan," kata Budi.

Selain mengatur waktu perjalanan, pemerintah pun memastikan kesiapan infrastruktur penunjang mudik bakal dikebut dalam satu waktu tiga pekan ke depan.

Untuk di Trans Jawa, Budi mengaku telah meminta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk menambah jumlah tempat pemberhentian (rest area) pada titik-titik yang tak terlampau jauh.

Beberapa ruas-ruas jalan yang rusak—terutama di jalan nontol—juga bakal diperbaiki. “Ada beberapa jalan di Salatiga (Jawa Tengah, Tembagi (Lampung) kita minta PU laksanakan (perbaiki). Di Palembang dan Jambi juga, KemenPU sudah lakukan tender sehingga bisa segera dilaksanakan,” jelas Budi.

Pengecekan kendaraan (ramp check) juga telah berjalan. “Semua moda, mobil, kereta api, pesawat, kapal. Kita memang minta ramp check itu dilakukan sendiri (self assessment). Nanti baru kita cek random,” tukasnya.

Tiket pesawat masih buram

Tak banyak progres yang disampaikan Budi Karya perihal harga tiket pesawat yang masih melambung tinggi.

Pihaknya kembali menyatakan bahwa upaya terbaik adalah melalui lobi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mengimbau maskapai Garuda Indonesia menurunkan tarifnya.

“Kalau Garuda turun pasti diikuti maskapai lain,” kata Budi.

Budi berencana melakukan pembahasan ini dengan Menteri BUMN Rini Soemarno pada pekan depan. Untuk sementara, pihaknya masih mengkaji penurunan tarif batas atas tiket bersama dengan Ombudsman dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terkait regulasinya.

Kementerian Perhubungan pada dasarnya memiliki kewenangan untuk mengubah tarif atas tiket pesawat. Namun, perubahan itu umumnya bersifat kenaikan, karena sudah 3 tahun tarif batas atas tidak dinaikkan sementara sejumlah harga komponen pendukung reratanya sudah naik.

“Kalau saya memiliki kewenangan, pasti akan saya turunkan. Tapi kan ini team work, tidak boleh bertindak sendiri. Saya tidak ingin ada satu aturan tidak governance, oleh karenanya saya perlu konsultasi,” tegas Budi.

Sementara itu, Rini Soemarno mengisyaratkan bahwa pihaknya tak bisa berbuat banyak terkait tarif Garuda Indonesia.

Loh kita lihatnya begini, sekarang batasnya di mana? Selama Garuda tidak lewati batas yang ditentukan oleh Kemenhub, ya harusnya normal-normal saja,” tandas Rini di Kantor Presiden.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR