ATURAN LALU LINTAS

Tilang elektronik akan dicoba di Jakarta mulai 1 Oktober

Polisi menunjukkan bukti cetak pelanggar lalu lintas yang terekam kamera CCTV di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (2/8). Polrestabes Surabaya serta Dinas Perhubungan Kota Surabaya terus melakukan sosialisasi dan uji coba penerapan e-tilang.
Polisi menunjukkan bukti cetak pelanggar lalu lintas yang terekam kamera CCTV di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (2/8). Polrestabes Surabaya serta Dinas Perhubungan Kota Surabaya terus melakukan sosialisasi dan uji coba penerapan e-tilang. | Didik Suhartono /Antara Foto

Era sistem tilang elektronik (e-Tilang) semakin dekat. Setelah Polrestabes Surabaya, Jawa Timur, memulai sosialisasi dan uji coba penerapannya, kini giliran Polda Metro Jaya yang akan melakukannya.

Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE), demikian nama resmi e-Tilang, akan diuji coba di Jakarta mulai 1 Oktober 2018. Sebagai awal, sistem tersebut akan mulai diberlakukan di ruas jalan protokol sepanjang jalur Jl. Sudirman hingga MH Thamrin.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Yusuf, dikutip Merdeka.com, bahkan menyatakan seharusnya uji coba sudah dilakukan sejak 22 September. Namun, karena ada kegiatan Asian Games 2018, rencana tersebut ditunda.

"Kita Oktober uji coba sambil sosialisasi. Satu bulan kemudian penerapan penegakan," sambungnya. Berarti, E-TLE kemungkinan akan mulai resmi diberlakukan di Jakarta pada November 2018.

Penegakan hukum lalu-lintas secara elektronik ini sudah lama dibahas dan disiapkan oleh Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Bahkan pada tahun 2016 sempat diumumkan penerapannya bakal dimulai pada 2017, diawali di DKI Jakarta, lalu meluas ke 15 daerah lainnya.

Selain untuk memproses hukum para pelanggar lebih cepat dan efektif, e-Tilang juga dianggap bisa menekan pungutan liar (pungli) atau sogokan oleh oknum penegak hukum. Alasannya, semua tercatat secara elektronik dan pembayaran denda pun dilakukan langsung ke bank yang bekerja sama dengan Polri.

Namun entah mengapa pengejewantahan e-Tilang terus mundur, seiring diperkenalkannya program lain, seperti tilang melalui perekaman CCTV yang ditempatkan di jalanan secara tersembunyi.

Kemudian pada September 2017 kemudian beredar soal telah diberlakukannya e-Tilang melalui rekaman CCTV di beberapa kota seperti Jakarta, Medan, Depok, Bekasi, dan Bandung. Namun polisi membantah dan menyatakan kabar itu adalah hoax.

Akan tetapi kali ini sepertinya pihak kepolisian benar-benar ingin mulai menerapkan sistem tilang elektronik tersebut.

Petugas, menurut Kombes Yusuf, telah mulai memasang CCTV buatan Tiongkok yang berteknologi canggih dan bisa merekam gambar dengan jelas hingga jarak 10 meter. Kamera itu akan beroperasi selama 24 jam setiap hari.

Tangkapan kamera tersebut terus dipantau oleh para petugas di Traffic Management Center (TMC) Polda Metro dan akan dianalisis apakah benar telah terjadi pelanggaran atau tidak. Jika terbukti melanggar, surat tilang beserta keterangan denda yang harus dibayar akan dikirmkan kepada pemilik kendaraan melalui pos.

"Kalau lewat dari seminggu tidak dibayar juga, kami akan memblokir STNK pelanggar. Nanti pada saat membayar pajak (mereka tak bisa melakukannya) sebelum tagihan denda tilangnya dilunasi," papar Yusuf kepada Kompas.com.

Agar mudah menghubungi pelanggar lalu lintas, kepolisian berencana untuk menambahkan data berupa nomor ponsel dan alamat surat elektronik (e-mail) pemilik kendaraan di dalam Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB).

Dua data baru itu, menurut Yusuf, akan dicantumkan dalam BPKB kendaraan baru atau yang melakukan perubahan mulai 1 Oktober.

Selama masa percobaan penerapan e-Tilang, mengutip WartaKotaLive.com, Polda Metro Jaya akan menempatkan CCTV pada lima tempat di sepanjang jalur Thamrin Sudirman, yaitu:

  1. Simpang Patung Kuda, yang merupakan pertemuan antara Jalan Medan Merdeka Selatan, MH Thamrin, Budi Kemuliaan, dan Medan Merdeka Barat;
  2. Simpang Kebon Sirih, pertemuan antara Jl MH Thamrin dan Kebon Sirih;
  3. Simpang Sarinah, pertemuan antara Jl Wahid Hasyim dan MH Thamrin;
  4. Bundaran Hotel Indonesia;
  5. Simpang Patung Pemuda, pertemuan antara Jl Senopati, Sudirman, Pattimura, dan Sisingamangaraja.

Satu kendala yang saat ini tengah dibicarakan oleh pihak terkait, menurut Yusuf kepada JawaPos.com, adalah peradilan pidana bagi pengendara yang melanggar.

"Masalah sistem peradilan pidana saja. Antara itu, antara kendaraan dengan yang melanggar sendiri itu. Kira-kira subjek hukumnya itu bagaimana, bisa enggak ditindak?" kata dia.

Namun ia menyatakan bahwa pada prinsipnya semua pemangku kepentingan yang terkait dengan sistem peradilan pidana dan penegakan hukum sudah mendukung diberlakukannya tilang elektronik ini.

"Intinya semuanya mendukung terkait kegiatan ini, dan tidak perlu lama-lama lagi kalau hanya ada satu, dua poin, yang masih dalam kategori dikoordinasikan. Ini dilaksanakan sambil jalan," jelasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR