PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Tim Cook ungkap penyebab anjloknya kinerja Apple

CEO Apple Tim Cook berbicara dalam konferensi privasi Uni Eropa di Parlemen Uni Eropa di Brussels, Belgia, Rabu (24/10).
CEO Apple Tim Cook berbicara dalam konferensi privasi Uni Eropa di Parlemen Uni Eropa di Brussels, Belgia, Rabu (24/10). | Yves Herman /Antara Foto/Reuters

Awal 2019 mungkin akan menjadi masa yang kurang menguntungkan bagi perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS), Apple Inc. Perusahaan tersebut menurunkan proyeksi pendapatannya pada kuartal pertama tahun ini setelah melihat ada perlambatan permintaan di Tiongkok.

Dalam surat untuk para investor, Chief Executive Officer (CEO) Apple, Tim Cook, menyebut perusahaannya menurunkan target pendapatan menjadi $84 miliar AS (Rp1.210 triliun) dari $89 miliar hingga $93 miliar yang diperkirakan sebelumnya. Semua disebabkan penjualan ponsel pintar andalan Apple, iPhone, yang tidak sesuai harapan.

Pernyataan Cook membuat saham Apple langsung anjlok pada perdagangan Rabu (2/1/2019) waktu setempat. Harga saham Apple pada bursa Wall Street terkoreksi hingga 7,6 persen selama masa perdagangan ketika terjadi pengumuman melambatnya permintaan di Tiongkok.

Cook menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi perlambatan kinerja Apple tahun ini. Pertama, Cook menyadari jangka waktu peluncuran iPhone seri terbaru tahun ini tidak semasif tahun lalu.

Alhasil, ada pengaruh terhadap perbandingan kinerja jika diukur secara tahunan (year on year). September tahun lalu, Apple meluncurkan tiga seri iPhone terbaru; , iPhone XS, iPhone XR dan iPhone XS Max.

Kedua, penguatan dolar AS terhadap beberapa mata uang dunia juga menjadi salah satu penyebab penurunan pendapatan Apple hingga 200 poin jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Ketiga, Cook menyebut adanya kendala pasokan di sejumlah negara terhadap produk Apple. Beberapa produk yang dibatasi penjualannya adalah Apple Watch Series 4, iPad Pro, AirPods, dan MacBook Air.

"Faktor keempat, kami memperkirakan kelesuan ekonomi di beberapa pasar negara berkembang. Ini ternyata memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kami proyeksikan," jelasnya.

Cook menjelaskan lesunya permintaan tak hanya untuk pembeli pertama saja, tetapi juga semakin sedikit konsumen Apple di Tiongkok yang melakukan peningkatan kualitas (upgrade) pada produk iPhone mereka.

Perekonomian Tiongkok mulai melambat pada paruh kedua tahun 2018. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang dilaporkan pemerintah Tiongkok hingga September adalah yang terendah kedua dalam 25 tahun terakhir.

"Kami percaya lingkungan ekonomi di Tiongkok dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan (perang) dagang dengan AS. Peningkatan ini meningkatkan ketidakpastian yang telah membebani pasar keuangan. Efeknya tampaknya menjangkau konsumen juga," ujar Cook dikutip Kamis (3/1).

Namun, terlepas dari tantangan tersebut, Cook melihat pasar Tiongkok masih memiliki masa depan cerah. Menurutnya, komunitas pengembang iOS di Tiongkok adalah salah satu yang paling inovatif, kreatif, dan bersemangat di dunia.

"Kami bangga berpartisipasi di pasar Tiongkok," ujar Cook.

Penurunan penjualan di Tiongkok juga dinilai sebagai buntut dari sengketa hukum yang turut melibatkan perusahaan peranti cip, Qualcomm. Tahun lalu, Apple disebut melanggar hak paten teknologi yang memungkinkan orang untuk mengubah ukuran foto di telepon serta mengelola aplikasi dengan menggunakan layar sentuh.

Qualcomm mengklaim Apple telah melanggar dua patennya pada iPhone 6S, iPhone 6S Plus, iPhone 7, iPhone 7 Plus, iPhone 8, iPhone 8 Plus, dan iPhone X.

Pada Oktober 2018, pengadilan di Tiongkok pun memutuskan melarang penjualan dan impor sebagian besar model iPhone. Akibatnya, model-model iPhone di atas tak boleh diimpor dan dijual ke Tiongkok.

Padahal, tipe iPhone yang dilarang dijual di Tiongkok itu menghasilkan 10-15 persen dari pendapatan Apple di negara Tirai Bambu. Demikian diungkap analis di Wedbush Securities, Daniel Ives, dalam laporan CNBC.

Keputusan ini, disebut-sebut sempat memperkeruh ketegangan perang dagang antara AS dengan Tiongkok.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR