Edwin, Tim Sukses Dildo, saat mengobrol dengan Beritagar.id di Klaten, Jawa Tengah.
Edwin, Tim Sukses Dildo, saat mengobrol dengan Beritagar.id di Klaten, Jawa Tengah. Beritagar.id / Reza Fitrianto
BINCANG MINI

Tim Sukses Dildo, Edwin: Saya buzzer rakyat

Ia bersemuka pelbagai tantangan dalam kampanye Nurhadi-Aldo. Mulai dari manuver politik yang membonceng kepopuleran Dildo hingga perkara menyatukan Tim Sukses.

Edwin, 20 tahun, mengaku baru selesai membaca Aksi Massa karya Tan Malaka. ABC Anarkisme dari Alexander Berkman jadi buku lain yang berkesan baginya.

"Aku bukan pembaca ulung. Sesekali dengar atau ikut diskusi. Dan kebanyakan mikir," begitu kelakarnya, saat saya bertanya tentang buku-buku bacaannya.

Nama Edwin mengemuka beberapa pekan terakhir. Mahasiswa yang tengah studi di Yogyakarta itu merupakan salah seorang Tim Sukses Nurhadi-Aldo.

Dua nama terakhir merupakan calon presiden dan wakil presiden fiktif di media sosial. Akun satire bikinan Edwin dan tujuh kawannya itu berhasil mencuri perhatian pada permulaan tahun politik ini.

Kurang dari sebulan, pasangan yang populer dengan aktronim Dildo tersebut sudah punya ratusan ribu pengikut di Facebook dan Instagram. Warganet seperti menemukan oase di tengah ribut-ribut dua kubu politik.

Namun, dalam wawancara bersama jurnalis senior, Rosianna Silalahi (Kompas TV), Edwin terpeleset omong. Saat itu, ia sempat membenarkan agenda golput di balik Dildo.

"Aku mengakui itu blunder. Habis terlalu tegang nanya-nya," kata dia.

Hari-hari terakhir, Edwin banyak menghabiskan waktu di pelosok Klaten, Jawa Tengah.

Ia mengaku sedang menepi dari rutinitas di Yogyakarta. Tempat menepinya itu merupakan area hijau dengan hamparan persawahan nan dominan di selingi permukiman warga.

Kala kami mengobrol, sesekali fokus Edwin berpindah ke layar ponsel. Dia mengecek pesan dari di grup obrol Tim Sukses Dildo, hingga kabar dari kekasihnya.

Kehebohan Dildo, kata Edwin, telah menyita waktunya untuk Sang Kekasih. "Dia sering kesal karena aku sibuk main hape. Tapi dia mengerti kok," ujarnya.

Dua kali saya dan Edwin bertukar cakap. Pada 12 Januari 2019 di sebuah gerobak angkringan. Besoknya bergeser ke satu warung gorengan.

Berikut beberapa kutipan percakapan dari dua pertemuan itu.

Edwin itu nama asli?
Itu nama yang baguskan. Enggak terlalu kampung dan enggak terlalu kota. Cocok buat anonim.

Edwin lantas menunjukkan tanda pengenal yang menuliskan nama aslinya.

Apakah pasangan Dildo mendukung gerakan golput?
Enggak. Kami cuman mau jadi hiburan rakyat. Silakan lihat video kami pada awal kemunculan Dildo.

Itu berupa parodi. Mau mencoblos siapapun pada Pilpres 2019, suaranya pasti jatuh ke kami. Pesannya jelas: jangan sampai golput.

Kalian sudah menduga bakal dituduh golput?
Kami sudah antisipasi kalau akun ini dituduh gerakan golput. Ternyata benar ada tuduhan begitu.

Terus, bagaimana dengan pernyataanmu dalam wawancara dengan Rosi di Kompas TV?
Aku mengakui itu blunder. Habis nanya-nya tegang banget. Di sini juga hujan dan susah cari sinyal. Posisinya tidak menguntungkan.

Emosiku terpancing, sejak muncul pertanyaan dalam wawancara itu yang seolah-olah menuduh kami buzzer Jokowi.

Bukankah itu pertanyaan yang wajar? Atau memang benar kamu buzzer Jokowi?
Bukan. Saya buzzer rakyat lewat Nurhadi-Aldo. Buzzer humor politik.

Namun beberapa pendukung Jokowi sempat bikin populer tagar #UdahNurhadiAja, termasuk anak presiden...
Mereka mau cari muka di atas ketenaran kami. Ada saatnya kami comeback. Kemarin ada juga politisi yang sok-sokan ikutan euforia guyonan rakyat ini. Langsung kami jernihkan.

Edwin merujuk pada sebuah foto rekayasa yang menampilkan Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji dibonceng oleh Nurhadi.

Kasus lain datang dari kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dara Nasution, yang menuliskan “#McQueenYaQueen” di Instagram. Kedua aksi itu mereda, setelah Tim Sukses Dildo membalas dengan komentar sinis.

Tim Sukses enggak pernah dikontak atau kenal dengan politisi?
Kami enggak kenal politisi. Yang ajak kenalan banyak, tapi kami jual mahal. Hahaha.

Kalau Pakdhe (sapaan Nurhadi) banyak yang kontak. Mungkin ada yang takut suaranya tergerus. Tapi, alhamdulillah, hubungan Pakdhe dengan kami sangat baik. Jadi sejauh ini aman.

Kenapa kalian pakai gaya vulgar dalam kampanye Dildo?
Sebenarnya kami mengadopsi gaya Pakdhe di Facebook. Isi statusnya sama dengan jokes kami. Pakdhe enggak tabu pakai istilah-istilah seperti Tronjal-Tronjal dan k**tol di media sosial.

Tapi sebagian orang mengkritik gaya vulgar Dildo?
Itu gaya khusus komunitas kami. Terserah kami mau jokes gimana. Konteksnya bercanda bukan merendahkan orang lain. Lagi pula, ada banyak pesan terselip di dalamnya.

Gaya itu bisa menyatukan masyarakat yang terpecah akibat kubu-kubu politik di media sosial. Paling tidak bisa meredam konflik di masyarakat.

Edwin, Tim Sukses Nurhadi-Aldo, berpose untuk Beritagar.id di Klaten, Jawa Tengah.
Edwin, Tim Sukses Nurhadi-Aldo, berpose untuk Beritagar.id di Klaten, Jawa Tengah. | Reza Fitrianto /Beritagar.id

Kalian punya grup relawan, Perserikatan Relawan Nurhadi–Aldo (13 ribu pengikut)...
Kalau dua kubu lain punya pasukan media sosial, kami juga harus punya donk.

Lantas, apa fungsi grup itu?
Di situ kami mengatur strategi kampanye. Para relawan juga bisa melapor kalau ada postingan fiktif atau kampanye buruk tentang kami.

Kalau kami dilaporkan sebagai spam, mereka akan membela kami. Kami juga mendengar usulan mereka di situ.

Bagaimana pembagian kerja dalam Tim Sukses Dildo?
Kami tidak punya ketua. Semuanya sama rata. Kalau soal pembagian kerja ada yang fokus bikin desain, foto, kutipan lucu, balas komentar, dan lain-lain.

Aku paling banyak mengurusi program kritis. Kalau aku terlalu serius, teman-teman lain menyeimbangkan dengan guyonan.

Berarti program Petani-PNS kamu yang buat?
Iya. Aku khawatir saat lihat keluarga petani. Ada stigma buruk pada mereka: enggak mapan dan melarat.

Anak-anak mereka enggak mau jadi petani. Mereka malah mau jadi dokter, polisi, dan lain-lain. Makanya kami tampilkan program yang bisa menghapus stigma buruk terhadap petani.

Ada juga guyonan soal mitigasi bencana. Menampilkan pipa yang terhubung ke laut untuk mengembalikan tsunami…
Iseng aja. Capres-cawapres resmi belum ngomong soal mitigasi bencana. Mungkin, dengan sindiran itu, mereka jadi mengangkat isu mitigasi bencana.

Kalian juga membawa isu alih fungsi lahan sawit jadi ladang ganja...
Ganja banyak faedahnya. Misal buat obat-obatan. Sudah banyak negara yang melegalkan ganja untuk kesehatan. Dibanding sawit, ganja lebih berfaedah.

Kalian beberapa kali memelesetkan gagasan Karl Marx sebagai guyonan. Kamu membaca karya-karyanya?
Kalau kujawab diciduk, enggak? Hahaha. Bacalah dikit-dikit. Enggak sampai habis.

Bertemu Edwin, sosok di balik Nurhadi Aldo /Beritagar ID

Beberapa orang menduga kalian pro-LGBT...
Silakan simpulkan dari konten kami. Kalau aku sebut, nanti ereksibilitas Dildo turun.

Isu ini menarik. Ada parpol yang berani menolak poligami. Alasannya kekerasan terhadap perempuan. Tapi enggak berani angkat isu LGBT.

Padahal, kalau bicara kekerasan, mereka yang punya kecenderungan seksual berbeda (LGBT atau minoritas seksual) juga sering jadi korban.

Program-program kalian cenderung berani, seperti memutarbalikan logika politik...
Kami memang coba membawa masalah agraria, hak asasi manusia, lingkungan hidup, dan isu-isu lain yang enggak berani dibicarakan elite politik.

Kami juga mendekati isu kemanusiaan, dengan mempromosikan penggalangan dana untuk korban bencana dan orang-orang yang membutuhkan.

Apa tantangan terbesar dalam mengelola Dildo?
Tim Sukses ada delapan orang. Punya latar belakang berbeda. Enggak selalu sama melihat persoalan. Paling rumit, menyatukan pandangan-pandangan atas sesuatu.

Kenapa Tim Sukses Dildo menutup identitas?
Ini bagian dari strategi kami. Semakin penasaran, semakin banyak yang suka.

Dildo juga milik semua orang. Ini hiburan rakyat.

Punya pesan kepada rival politik Dildo...
Sebaiknya elite politik jangan ikut campur dengan hiburan rakyat ini.

Kami capek dan jengah dengan perpecahan politik. Biarkan kami bersenang-senang dalam pesta democrazy.

*) Sila baca juga laporan khas kami, "Cerita di balik kampanye satire Nurhadi-Aldo", dan wawancara khusus "Nurhadi 'Dildo': Cita-cita saya menjadi Arnold Schwarzenegger".
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR