UJIAN NASIONAL

Tingkat kecurangan ujian nasional SMA diproyeksi turun

Sejumlah siswa sujud syukur kelulusan setelah menerima hasil Ujian Nasional 2016 di SMA Bhinneka Karya 2 Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu (7/5).
Sejumlah siswa sujud syukur kelulusan setelah menerima hasil Ujian Nasional 2016 di SMA Bhinneka Karya 2 Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu (7/5). | Aloysius Jarot Nugroho /Antara Foto

Hasil evaluasi ujian nasional (UN) tingkat sekolah menengah atas (SMA) menunjukkan adanya penurunan pada nilai rata-rata sekitar 2,9 juta peserta dibandingkan dengan capaian 2015. Tahun lalu, rataan nilai mencapai 61,29 atau 6,51 poin lebih rendah dari hitungan umum 2016 yang mencapai 54,78.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, penurunan itu terjadi karena peningkatan indeks integritas sekolah. "Kita tahu selama bertahun-tahun pelaksanaan UN ada ketidakjujuran yang masif, dan 2016 ini kita serius menata masalah integritas. Jadi, tingkat kejujuran untuk mencerminkan kinerja yang sebenarnya," ujarnya dikutip CNN Indonesia.

Peralihan medium ujian dari kertas dan pensil menjadi komputer dalam hematnya juga berpengaruh. "Jika pada 2015, persentase sekolah yang berada di kuadran empat untuk SMA IPA sebanyak 56,6 persen, sementara pada 2016 persentase sekolah di kuadran itu menurun 41,7 persen," ujarnya dikutip Antara. Di lingkung IPS, persentase sekolah kuadran empat pada 2015 mencapai 51,3 persen, dan tahun ini menjadi 37,8 persen.

Pada pelaksanaan UN SMA dan Sederajat 2016 ini, sebanyak 19.952 sekolah menjalani UN, dan 1.297 di antaranya menggunakan UNBK (UN Berbasis Komputer) dan selebihnya menggunakan UNKP (Ujian Nasional Kertas Pensil). Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN) SMA rata-rata dihimpun dari seluruh sekolah yang menggunakan UNKP.

Dilansir laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Anies mengatakan IIUN SMA 2016 mencapai 64,05, "lebih tinggi dari IIUN SMA tahun 2015, yaitu 61,98." Peningkatan 2,06 poin itu menurutnya menunjukkan "perubahan perilaku pada anak-anak SMA)" yang dipandang "semakin jujur" melaksanakan UN.

Kemdikbud menyingkap adanya penurunan signifikan sekolah-sekolah yang sebelumnya menempati kuadran empat, yakni yang nilai UN tinggi, namun IIUN rendah. Bila pada pelaksanaan UN tahun 2015 sekolah SMA yang masuk di kuadran empat sebanyak 56,6% (7.041 sekolah), maka pada UN 2016 turun signifikan menjadi 41,7% (4.880 sekolah).

Sementara sekolah-sekolah di kuadran 2, yakni yang nilai UN rendah, namun IIUN tinggi meningkat dari UN 2015 sebanyak 7,5% (935 sekolah) menjadi 8,3% (973 sekolah) pada UN 2016.

Untuk diketahui, otoritas pendidikan membagi indeks integritas (IIUN) ke dalam empat kuadran: Kuadran pertama (IIUN tinggi, angka UN tinggi), kuadran kedua (IIUN tinggi, angka UN rendah), kuadran ketiga (IIUN rendah, angka UN rendah), dan kuadran empat (IIUN rendah dan angka UN tinggi).

Indeks diluncurkan menyusul tingginya tingkat kecurangan dalam ujian nasional. Keculasan berwujud peredaran bocoran soal dan jawaban. Produk yang diluncurkan oleh Menteri Kemdikbud Anies Baswedan ini selaras dengan model tes berbasis komputer yang "akan mempermudah pelacakan kebocoran soal dan kecurangan."

Selain punya indeks integritas ujian nasional tertinggi, pemerintah bakal mengumumkan senarai terendah pada 2016. Tujuan pemakluman adalah agar para orang tua dapat menimbang calon sekolah yang bakal dimasuki oleh anaknya.

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menolak wacana pemerintah yang ingin mengumumkan indeks integritas terendah dari hasil Ujian Nasional (UN) 2016. Menurut Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti, pengumuman akan bersifat kontraproduktif karena"orang cenderung bangga kalau berprestasi bukan yang terjelek."

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), M Qudrat Nugraha menyatakan tidak mempermasalahkan rencana pengumuman sekolah dengan dengan indeks integritas terendah. Dalam hematnya, segala pembaruan dan perbaikan akan selalu didukung selama sesuai dengan kondisi pendidikan Indonesia, "asal persepsinya tidak memojokkan guru nantinya."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR