PERANG DAGANG

Tiongkok berusaha manfaatkan ancaman pemakzulan untuk Trump

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadiri pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri India Narendra Modi di sela-sela Sidang Umum Tahunan PBB di New York City, New York, Amerika Serikat, Selasa (24/9/2019)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadiri pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri India Narendra Modi di sela-sela Sidang Umum Tahunan PBB di New York City, New York, Amerika Serikat, Selasa (24/9/2019) | Jonathan Ernst /Antara Foto/Reuters

Tiongkok menunjukkan gelagat untuk menolak perluasan kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat (AS). Mereka enggan mengubah kebijakan industri dan subdisi seperti permintaan AS menyusul ancaman pemakzulan (impeachment) untuk Presiden Donald Trump.

Kabar itu muncul menjelang pertemuan negosiasi perdagangan ke-13 antara AS dan Tiongkok di Washington pada Kamis (10/10/2019) kelak. Selain itu, menurut sumber Bloomberg yang dekat dengan urusan ini, Senin (7/10), Tiongkok juga akan menolak sejumlah usulan lain dari AS.

Kedua negara sudah terlibat negosiasi perdagangan selama berbulan-bulan. Pada Juli lalu, Vice Premier Tiongkok Liu He yang mewakili negaranya sudah menyatakan kepada dua orang pejabat AS bahwa komitmen mereka tidak akan meliputi kebijakan industri dan program subsidinya.

Kementerian Perdagangan Tiongkok belum memberi komentar soal perkembangan baru ini. Maklum, masyarakat Tiongkok sedang menjalani akhir pekan panjang hingga Senin (7/10) dan baru akan bekerja kembali pada Selasa (8/10).

Namun pasar bursa bereaksi pada perdagangan hari Senin (7/10). Pasar efek berjangka AS anjlok, sementara nilai tukar yen Jepang terhadap dolar AS naik 0,1 persen. Tetapi, nilai tukar yuan terhadap dolar AS turun 0,3 persen meski ini diduga karena ada akhir pekan panjang di Tiongkok.

"Belum ada yang pasti dan optimisme pada perdagangan terbukti berulang kali salah tempat," ujar Rob Carnell, Kepala Ekonom Asia-Pacific ING, kepada CNBC.

Para analis mengatakan sikap baru Tiongkok ini hadir setelah melihat posisi lemah Trump yang sedang terancam pemakzulan (impeachment). Satu di antara alasan ide pemakzulan adalah keputusan pemerintahan Trump untuk terlibat perang dagang dengan Tiongkok sehingga mengacaukan ekonomi AS.

Jude Blanchette, pakar politik Tiongkok dari Center for Strategic and International Studies, mengatakan Tiongkok paham benar persoalan yang dihadapi Trump sehingga berani memainkan kartu truf.

"Mereka menilai Trump butuh kemenangan (untuk menghindari pemakzulan) sehingga akan berkompromi dengan Tiongkok," ujar Blanchette.

Kubu Trump menyatakan tak ada kaitan antara pemakzulan dengan isu perang dagang. Trump juga berulang kali menyampaikan optimismenya bahwa Tiongkok akan menuruti permintaan AS meski ia sadar prosesnya tidak mudah.

"Kami punya pengalaman bagus dan buruk dengan Tiongkok. Sekarang, kami berada dalam tahapan sangat penting untuk mencapai kesepakatan. Namun, negosiasinya memang sangat berat. Jika kesepakatan tidak tercapai, berarti tidak akan terjadi," ujar Trump pada Jumat (4/10).

Kinerja perdagangan AS dengan Tiongkok tak pernah positif. Bahkan dalam hubungan dagang selama satu dekade terakhir, AS selalu defisit (lihat grafik).

Masih jauh dari usai

Negosiasi kedua negara pada April 2019 sebenarnya menghasilkan sejumlah komitmen dari Tiongkok. Misalnya AS meminta transparansi dari kebijakan subsidi Tiongkok yang akan makin luas, termasuk pada industri teknologi komputer dan otomotif.

AS sebenarnya berusaha menerapkan strategi seperti kesepakatan mereka dengan Jepang bulan lalu. AS dan Jepang sepakat pada urusan tarif agrikultur, perdagangan digital, dan produk industri lain. Namun, Trump sudah "menyerah" dengan menunda penerapan tarif impor untuk produk Tiongkok pada Juni lalu.

David Dodwell, Direktur Eksekutif Hong Kong-APEC Trade Policy Study Group dalam tulisannya di South China Morning Post, Senin (7/10), mengatakan bahwa Trump tidak mungkin berani menerapkan tarif impor untuk Tiongkok.

"Kebijakan tarif Trump justru membuat kalangan manufaktur AS kalah bersaing dengan Tiongkok. Lagi pula, kebijakan itu cuma memberi pengaruh kecil," tulisnya.

Dodwell lebih lanjut menyatakan bahwa perang dagang yang sudah berlangsung selama 15 bulan ini bakal jauh dari selesai. AS dan Tiongkok masih sama-sama keras kepala dan pernyataan Trump melalui Twitter bahwa "perang dagang itu bagus dan mudah dimenangi" pada 2 Maret 2018 ternyata tak terbukti.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR