INTERNASIONAL

Tiongkok mulai ditekan soal perlakuan terhadap muslim Uighur

Wakil Gubernur Xinjiang Erkin Tuniyaz (kiri) menghadiri pertemuan Dewan Hak Asasi Manusia di kantor PBB di Jenewa, Swiss, Selasa (25/6/2019).
Wakil Gubernur Xinjiang Erkin Tuniyaz (kiri) menghadiri pertemuan Dewan Hak Asasi Manusia di kantor PBB di Jenewa, Swiss, Selasa (25/6/2019). | Marina Depetris /Antara Foto/Reuters

Lebih dari 20 negara di dunia mengajukan kecaman tertulis kepada para pemimpin badan hak asasi manusia (HAM) PBB. Mereka mengecam perlakuan Tiongkok terhadap etnis muslim Uighur dan kalangan minoritas lain di kawasan Xinjiang, bagian barat negeri itu yang penuh dengan padang pasir dan pegunungan.

Menurut BBC, Rabu (10/7/2019), kecaman resmi dari dunia internasional ini belum pernah terjadi --kecuali hanya dari para aktivis HAM dan demokrasi. Kecaman tertulis itu ditandatangani oleh duta besar 22 negara, termasuk Inggris, Jerman, dan Jepang.

Di dalam suratnya, para dubes mengutip laporan "skala besar penahanan terhadap etnis Uighur dan kalangan minoritas di Xinjiang, termasuk perlakuan ala penjara seperti mengawasi dengan kamera CCTV dan sewenang-wenang".

AFP (h/t The Guardian), Kamis (11/7), menyebut para diplomat di PBB jarang mengirim surat kritikan terbuka kepada 47 negara anggota di badan HAM seperti ini. Surat kepada Presiden Badan HAM Coly Seck dan Ketua Komisi HAM Michelle Bachelet itu diharapkan menjadi dokumen resmi Badan HAM PBB dalam sesi rapat ke-41 di Jenewa, Swiss, Jumat (12/7).

Mereka mendesak Tiongkok agar "memberi akses penuh" kepada PBB dan pemantau independen ke Xinjiang. Namun, surat ini kemungkinan tidak akan berarti banyak.

Tetapi seorang diplomat di PBB mengatakan kepada Reuters bahwa surat kecaman ini hanya sekadar formalitas karena tak akan menjadi resolusi. Faktor kekuatan politik dan ekonomi Tiongkok bisa menjadi tembok untuk melanjutkannya ke pemungutan suara (voting).

Tiongkok membantah

Segala perlakuan otoritas Tiongkok terhadap warga Uighur disebut sebagai tindakan cuci otak dan penghapusan etnis. Tiongkok juga menerapkan kebijakan transmigrasi untuk etnis Han agar "menguasai" Xinjiang.

Namun, Tiongkok membantah membawa etnis Uighur ke kamp pengasingan atau ke lokasi cuci otak. Mereka hanya membawa masyarakat Uighur ke sekolah keterampilan (vokasi) untuk menghapus paham radikalisme dan separatisme.

"Etnis Uighur tetap menjalankan kebebasan beragama di Xinjiang. Jadi hal-hal yang disebut media tidak ada," ujar Hua Chunying, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Tiongkok.

Para aktivis dan akademi terus melawan sehingga Tiongkok agak melunak. Tiongkok mengakui ada sekolah-sekolah yang digunakan untuk membina kembali para kriminal dan orang-orang yang terpapar radikalisme serta separatisme.

"Para siswa di sini terpengaruh radikalisme agama. Kami ingin menghapus itu dari mereka," ujar Buayxiam Obliz, pengajar di Moyu Center, Xinjiang, kepada BBC yang bersama sejumlah media terpilih diundang mengunjungi Xinjiang pada Juni 2019.

Media dan para aktivis kemudian menunjukkan bukti bahwa sekolah yang disebut Tiongkok tak beralasan. Sebagian bangunan justru mirip penjara dibanding sekolah karena memiliki menara penjaga dan kamera pengawas (CCTV).

Zhang Zhisheng dari kantor Hubungan Luar Negeri Xinjiang mengatakan mereka menangani orang-orang yang memiliki indikasi membunuh. Sementara Xu Guixiang, Kepala Departemen Propaganda Xinjiang, menyatakan mereka "menyembuhkan" orang-orang yang punya potensi kejahatan sebelum dikembalikan ke masyarakat.

"Apakah kami harus menunggu sampai ada korban? Atau kami perlu mengantisipasi?" kata Zhisheng.

Wilayah Xinjiang di sebelah barat Tiongkok.
Wilayah Xinjiang di sebelah barat Tiongkok. | Concil on Foreign Relation

Siapa etnis Uighur

Uighur adalah suku minoritas di Tiongkok yang merupakan keturunan bangsa Turki. Saat ini populasinya sekitar 40 persen dari total 21,8 juta penduduk Xinjiang dan sebagian besar adalah muslim.

Bahasa ibu Uighur bukan mandarin seperti orang Han. Selain bahasa Turki, sebagian dari mereka juga berbahasa Kazakhstan dan Uzbekistan karena wilayahnya berdekatan dengan dua negara tersebut di sebelah barat.

Menurut Vox dalam videonya yang dilansir ke Youtube pada 7 Mei 2019, etnis Uighur mendominasi demografi Xinjiang pada 1945 dengan jumlah 82,7 persen dan orang Han sebagai etnis pribumi Tiongkok hanya 6,2 persen.

Namun, pada 2008, populasi etnis Uighur menurun hingga 46,1 persen dan warga Han naik menjadi 39,2 persen. Meski masih mayoritas, etnis Uighur mengalami diskriminasi dalam mencari pekerjaan sehingga kebanyakan hanya bisa bertani.

Mereka bukan cuma mendapat diskriminasi pekerjaan, tapi juga penindasan. Vice dalam videonya menyebutkan ada lebih dari satu juta etnis Uighur ditahan sejak kekerasan sektarian dengan etnis Han berlangsung dalam satu dekade terakhir di Xinjiang.

Mereka ditangkap dan ditahan dengan alasan radikalisme dan separatisme. Sementara Pemerintah Amerika Serikat menyebut mereka ditahan dalam kamp pengasingan.

Sejumlah laporan dokumenter menunjukkan bahwa Xinjiang adalah wilayah paling dijaga di Tiongkok. Kamera pengawas (CCTV) ada di mana-mana.

Sementara seorang polisi kepada Vice mengatakan masyarakat di Xinjiang tak boleh meladeni pertanyaan media tanpa izin pemerintah. Sedangkan seorang warga Uighur mengatakan ada larangan melakukan kegiatan agama di tempat umum.

Warga Uighur yang ditahan di kamp pengasingan juga mendapat penyiksaan. Seorang perempuan yang sudah keluar dari kamp dan kini tinggal di Kazakhstan mengatakan kakinya pernah diborgol selama sepekan dan kadangkala dipukul atau disetrum.

"Bahkan jika saya mengadukan hal ini ke orang lain di dalam kamp, saya diancam hukuman lebih berat," kata perempuan yang tak diungkap namanya kepada BBC.

Orang-orang ini membantah telah melakukan tindakan kriminal atau radikalisme. Mereka juga tak pernah diadili.

Di dalam kamp yang makin banyak dibangun sejak 2017, menurut Council on Foreign Relations mencapai 1.200 bangunan, mereka memang diajari keterampilan seperti komputer, menari, menyanyi, atau kegiatan vokasi lain. Namun, mereka juga harus menyanyikan lagu-lagu propaganda komunis Tiongkok --termasuk sebelum makan.

"Kami tidak mencuci otak sepenuhnya, hanya bagian radikalisme saja," ujar Obliz agak melunak dalam tuduhan cuci otak ala pemerintahnya.

Mengapa ini terjadi

Xinjiang terletak di pegunungan dan bersebelahan dengan Mongolia, Afghanistan, Tajikistan, dan Kyrgisztan. Kawasan ini merupakan ruang vital Jalur Sutra pada masa dinasti Han, Sui, dan Tang.

Namun sejak Portugal menguasai Afrika pada era 1500, rute ini terbengkalai dan rute perdagangan dunia digantikan oleh jalur maritim. Sementara mulai pertengahan abad 18, ajaran Islam mulai masuk Xinjiang saat dinasti Qing berkuasa.

Semenjak Uni Soviet pecah pada 1991, Tiongkok mulai mengembalikan perhatian ke melihat wilayah Xinjiang yang vital. Sekarang Xinjiang, tiga kali seluas Prancis, memiliki jalur transportasi berkualitas baik yang terhubung dengan jaringan nasional.

Bahkan jalur kereta cepat pun sudah mencapai Xinjiang. Tidak heran, pertumbuhan ekonomi cukup pesat, apalagi Xinjiang memiliki cadangan batu bara dan gas bumi terbesar di Tiongkok, termasuk cadangan 25 persen produksi energi hidrokarbon.

Xinjiang, menurut The Nation, menyumbang 15 persen minyak dan 25 persen gas kepada kebutuhan energi Tiongkok sehingga ketergantungan terhadap impor menurun. Saat ini otoritas Tiongkok pun sibuk membangun infrastruktur sumber daya angin, solar, dan hidro elektrik.

Karena peran Xinjiang sebagai jalur vital menuju Asia dan Eropa, Tiongkok diduga ingin kemakmuran dinikmati oleh etnis asli Han dan bukan etnis Uighur. Sejauh ini, menurut Komisi HAM dunia, itu sudah terjadi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR