Tipis kemungkinan Donald Trump dimakzulkan

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tengah berjalan bersama Ibu Negara, Melania. Pria yang dikenal sebagai taipan properti itu sedang menghadapi ancaman pemakzulan.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tengah berjalan bersama Ibu Negara, Melania. Pria yang dikenal sebagai taipan properti itu sedang menghadapi ancaman pemakzulan.
© Susan Walsh /AP Photo

Belum enam bulan berkuasa, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sudah dihadapkan dengan ancaman terbuka pendongkelan yang dilontarkan oleh politikus Demokrat, Al Green.

Dalam jumpa pers yang digelar pada Senin (15/5), Green menyatakan bahwa keputusan taipan properti itu untuk memecat direktur Biro Investigasi Federal (FBI), James Comey, tergolong sebagai tindakan menghalangi hukum.

"Itu termasuk kejahatan dan pelanggaran berat," ujar Green dikutip situs berita Inggris, The Guardian.

Comey disingkirkan dari kursi kepemimpinan FBI setelah muncul tekanan kuat dari arah politisi dan publik ihwal penyelidikan atas kontroversi surat elektronik Hillary Clinton dan ikut campur Rusia dalam pemilihan presiden AS tahun lalu.

Selain itu, Presiden Trump pun ditusuk kabar lain mengenai kemungkinan bahwa dia telah membocorkan banyak informasi intelijen kepada Rusia, bukan kepada sekutunya sendiri, begitu Newsweek menulis.

"Dia jelas tak bisa berbicara seenak mulutnya sendiri dan merasa bahwa (omongannya) tak memancing konsekuensi tertentu," kata mantan direktur badan intelijen AS (CIA), Leon Panetta.

Bukan kubu Demokrat semata yang mengapungkan wacana untuk memakzulkan Trump. Justin Amash dari kubu Republik pun memberikan kata"ya" ketika wartawan bertanya kepadanya mengenai potensi pemakzulan atas Trump.

Meski 48 persen orang Amerika setuju bahwa Trump harus dimakzulkan, namun pada praktiknya itu bukan hal mudah, selain fakta bahwa pemakzulan tak menjamin seorang presiden kehilangan jabatannya.

Secara teknis, tulis The Independent, pemakzulan adalah gugatan formal atas seorang pejabat publik yang dituding telah melakukan pelanggaran etika profesi.

Pun begitu, Trump hingga ini belum menanggung tudingan kejahatan apa pun. Banyak lawannya memang menyebut bahwa pemilik kontes kecantikan itu tak pantas menjabat sebagai presiden. Namun, masalahnya, komentar itu sifatnya sebatas penilaian.

Selain itu, presiden yang menjadi objek pemakzulan belum tentu terlempar dari kantor kepresidenan. Konstitusi AS mengatur bahwa proses pemakzulan berjalan setelah mayoritas anggota DPR AS menyetujui pelbagai pasal pemakzulan yang disetujui komite.

Kemudian, proses beralih ke Senat untuk mendapatkan persetujuan dari dua per tiga anggotanya. Setelah melewati ini, presiden bakal kehilangan ruang kerjanya di Gedung Putih.

Di dua lembaga itu--DPR dan Senat--kubu pendukung Trump, yakni Partai Republik, menguasai kursi.

Sejauh ini, hanya dua Presiden AS yang pernah dimakzulkan: Bill Clinton pada 1998 dan Andrew Johnson pada 1868. Keduanya pun tetap meneruskan kekuasaannya karena pihak Senat mengampuni mereka.

Ada pula satu presiden yang sebelum terkena proses pemakzulan sudah keburu mengundurkan diri. Dia adalah Richard Nixon, sosok yang dianggap bertanggung jawab atas praktik kotor pemerintahannya saat itu. Kasusnya dikenal sebagai skandal Watergate.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.