BURUH MIGRAN

TKI akhirnya pulang setelah 12 tahun dikurung di Yordania

Ilustrasi penyekapan
Ilustrasi penyekapan | Tinnakorn jorruang /Shutterstock

Setelah terkurung di Amman, Yordania, selama 12 tahun, Diah Anggraini, akhirnya bertemu lagi dengan keluarganya di Malang, Jawa Timur, pada Selasa (19/2/2019). Perempuan berusia 36 tahun itu berhasil berjuang keluar dari sekapan sang majikan.

"Bahagia ya, terima kasih atas bantuan orang-orang yang telah membantu saya, saat tidak bisa balas apa-apa selain mendoakan mereka. Terima kasih banyak sudah ditolong ketemu dengan keluarga," kata Diah, dikutip Merdeka.com.

Ia baru saja diserahkan oleh Pos Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (P4TKI) kepada keluarga di Kota Malang.

Diah bercerita bahwa dia mengadu nasib sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Yordania sejak 5 Oktober 2006. Berangkat sebagai pekerja melalui PT Safina Daha Jaya. Namun bukan cerita manis hasil kerja kerasnya yang dibawa pulang.

Sejak awal bekerja, Diah mengaku sama sekali tak mendapatkan hak-haknya sebagai pekerja. Ia menyatakan tak pernah disiksa secara fisik, tetapi upahnya tidak dibayarkan, dilarang keluar rumah, bahkan hanya diberi kesempatan mandi sekali sebulan.

Perlakuan serupa tetap diterimanya saat pindah majikan ketika tuan rumah pertamanya meninggal dunia. Ia dipindahkan ke rumah menantu mendiang majikan awalnya tanpa melalui proses yang sah.

Perlakuan yang sama berulang di rumah majikan barunya, hingga ia berhasil kabur pada Oktober 2018. Saat itu, si majikan rupanya lupa mengunci rumah.

"Begitu bisa keluar rumah, (Diah) mencari taksi dan minta tolong diantar ke KBRI (Kedutaan Besar RI). Saat datang pertama kali (ke KBRI) Diah tidak mampu berbahasa Indonesia, bahkan sudah tidak tahu di mana keluarganya," kata Suseno Hadi, Atase Ketenagakerjaan KBRI Amman, kepada CNNIndonesia.com (19/2).

Diah kemudian ditampung di KBRI dan investigasi dilakukan. Hasilnya, KBRI menemukan dokumen Diah tak pernah diurus lagi sejak 2014. Tak ada pula kejelasan soal gaji dan hak-haknya selama 12 tahun.

Menurut KBRI, setelah sempat dua kali mengelak, majikan Diah akhirnya mengakui perbuatan mereka. Melalui proses mediasi, mereka bersedia membayar gaji untuk masa 12 tahun kerja sebesar 9.000 dolar AS (sekitar Rp127 juta pada kurs saat ini). Selain itu, si majikan juga membayarkan biaya tiket pulang Diah ke Indonesia.

"Sejumlah 2/3 gajinya telah dibayarkan, tinggal sisa 1/3 lagi yang belum dibayarkan serta denda izin tinggal yang sampai saat ini belum dibayarkan majikannya," jelas Suseno, seperti dikutip Antaranews, Selasa (19/2).

Sambil menunggu proses pemulangan, Diah yang ditampung di Griya Singgah KBRI Amman sempat dibekali dengan berbagai keterampilan, termasuk pijat kesehatan dan bahasa Indonesia. Ya, belajar bahasa Indonesia karena Diah menyatakan sudah lupa terhadap bahasa ibu itu.

Diah tiba di Jakarta pada 18 Februari malam hari, bersama dengan empat pekerja migran Indonesia (PMI) lainnya. Kehadirannya disambut Kepala Pos Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (P4TKI) Malang, Muhammad Iqbal bersama dengan Disnaker Kota Malang di Jakarta.

Menanggapi kasus Diah Anggraini, Kepala P4TKI Malang Muhammad Iqbal sempat mengungkapkan, Yordania bukan lagi negara tujuan pengiriman TKI. Keputusan ini dibuat sejak 2011.

Pemerintah kembali menegaskan larangan itu usai dua TKI bernama Siti Zainab dan Karni Tarsim dieksekusi mati pada April 2015 lalu. Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri melarang adanya pengiriman TKI ke-21 negara di kawasan Timur Tengah, di antaranya Arab Saudi, Aljazair, Irak, Iran, Kuwait, Lebanon, Mesir, Oman, Bahrain, Palestina, Uni Emirat Arab, Yaman, Yordania, dan Suriah.

Karena itu, muncul kecurigaan adanya kemungkinan Diah diberangkatkan secara nonprosedural atau ilegal.

PT Safina Daha Jaya, perusahaan yang disebut memberangkatkan Diah, pada situs Pantau PJTKI memiliki izin nomor 384 Tahun 2012, yang disahkan pada 31 Mei 2012. Penanggung jawabnya bernama Umar Abdul Aziz.

Namun, pada 2015 situs berita Republika.co.id melansir, nama PT Safina Daha Jaya masuk ke dalam daftar 28 perusahaan penyalur TKI atau pelaksana penempatan tenaga kerja Indonesia swasta (PPTKIS) yang dicabut izinnya oleh pemerintah sejak 2014.

Beritagar.id mencoba menghubungi perusahaan tersebut via nomor telepon yang tertera pada situs Pantau PJTKI, tetapi tidak ada jawaban.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR