PILPRES 2019

TKN tak gubris survei, BPN perkuat potensi suara

Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) mencopot alat peraga kampanye (APK) Capres-Cawapres Jokowi-Amin saat penertiban di jalan Protokol pusat Kota Lhokseumawe, Aceh, Selasa (19/3/2019).
Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) mencopot alat peraga kampanye (APK) Capres-Cawapres Jokowi-Amin saat penertiban di jalan Protokol pusat Kota Lhokseumawe, Aceh, Selasa (19/3/2019). | Rahmad /AntaraFoto

Survei elektabilitas yang dirilis Litbang KOMPAS, Selasa (20/3/2019), tak sepenuhnya menguntungkan bagi Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko “Jokowi” Widodo-Ma’ruf Amin.

Dalam survey, Jokowi-Ma’ruf sebenarnya memang masih unggul 11,8 persen dibanding Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Akan tetapi, persentase elektabilitas pasangan calon dengan nomor urut 01 itu turun dibandingkan survei sama lima bulan sebelumnya.

Oktober 2018, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf ada pada posisi 52,6 persen berbanding 32,7 persen untuk Prabowo-Sandi. Sekarang, elektabilitas 01 merosot ke posisi di bawah 50 persen, tepatnya 49,2 persen. Sementara 02 berhasil naik menjadi 37,4 persen.

Jokowi menekankan bahwa hasil survei yang ada saat ini akan dijadikan bahan evaluasi untuk mengoreksi kekurangan yang ada di dalam tim.

“Kalau hasil survei yang baik justru akan melemahkan kita. Jadi tidak waspada. (Sebaliknya) Hasil survei yang kecil bisa memicu relawan dan kader untuk bekerja lebih militan lagi,” ucap calon presiden petahana ini di Kantor Sekretariat DPD PDIP Jakarta, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (20/3/2019).

Sementara, Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menilai hasil survei tidak mencerminkan kenyataan di lapangan.

Lagipula pada 2014, hasil rekapitulasi suara KPU menunjukkan kemenangan Jokowi hanya berbeda 5 persen dari Prabowo.

“Semua lembaga survei kan ada margin error-nya. Dengan selisih 13,6 sampai 26 persen, artinya sudah semakin flat. Die hard kedua paslon melalui kampanye benar-benar sudah memberikan dukungan maksimal,” kata Hasto.

Wakil Ketua TKN Asril Sani juga berpendapat serupa. Menurutnya, disparitas angka dalam berbagai survei elektabilitas merupakan hal yang wajar dan dinamis. Apalagi survei itu merupakan potret sesaat.

Kendati begitu, Asrul melihat potensi menarik dari survei-survei yang ada, yakni pada kisaran angka undecided voters alias calon pemilih yang belum memutuskan. Menurutnya, saat ini fokus tim akan mengarah ke sekitar 13,4 persen suara itu.

“Kalau katakanlah selama ini rata-rata sekitar 50 persen kemudian turun, ya itu tidak usah juga kita sikapi dengan berbantah-bantahan mana yang lebih valid,” tutur Asrul dalam KOMPAS.com.

Tentu saja, hasil survei ini disambut positif oleh kubu seberang. Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Andre Rosiade optimistis menyatakan bahwa survei ini adalah cerminan dari kekalahan Jokowi.

“Jokowi decline, dan sudah di bawah 50 persen. Kalau di bawah 50, sudah nggak mungkin menang ya. Karena tren Jokowi sudah terus terun, Prabowo naik terus,” kata Andre, dikutip dari detikcom.

Namun, Andre tak menegaskan bahwa timnya sudah puas dengan hasil ini. Berdasarkan survei KOMPAS, Prabowo unggul di kalangan pemula (gen Z) dan pemilih intelektual. Untuk itu, timnya akan meminta relawan untuk terus memaksimalkan potensi dari suara ini.

"Caranya gimana? Kita sampaikan pesan-pesan positif tentang Prabowo-Sandi. Soal pertumbuhan ekonomi, soal bagaimana Prabowo-Sandi hadir untuk membuka lapangan kerja dan memastikan harga-harga kebutuhan bahan pokok terjangkau, termasuk kasus Novel selesai 100 hari," tuturnya.

Survei KOMPAS dilakukan pada 22 Februari-5 Maret 2019 dengan melibatkan 2.000 responden secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi Indonesia. Margin of error survei dari hasil survei ini +/- 2,2 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Dari hasil survei, 47 persen pemilih pemula yang berusia kurang dari 22 tahun memilih Prabowo-Sandi. Jumlah ini meningkat dari survei pada Oktober 2018 sebesar 44,8 persen.

Perolehan suara paslon nomor urut 02 itu selisih tipis dengan Jokowi-Ma'ruf yakni 42,2 persen. Jumlah ini juga meningkat dari survei pada Oktober 2018 sebesar 39,3 persen.

Sedangkan pada kategori milenial muda usia 22-30 tahun, Jokowi-Ma'ruf lebih unggul ketimbang Prabowo-Sandi. Paslon petahana itu meraih 43,3 persen suara pada Oktober 2018 dan meningkat 49,1 persen pada Maret 2019.

Sementara perolehan suara Prabowo-Sandi justru merosot di kalangan milenial muda sebesar 42,4 persen menjadi 41 persen pada Maret 2019.

Selain KOMPAS, empat survei lain yang dilakukan hingga periode Februari 2019 antara lain:

1. SMRC
Waktu: 24-31 Januari 2019
Jumlah responden: 1.620
Margin of error: +/- 2,65 persen (tingkat kepercayaan 95 persen)
Hasil:
- Jokowi-Ma'ruf: 54,9 persen
- Prabowo-Sandiaga: 32,1 persen
- Undecided Voters: 13,0 persen

2. PolMark Indonesia
Waktu: Oktober 2018-Februari 2019
Jumlah responden: 440 di masing-masing 72 dapil
Margin of error: +/- 4,8 persen dan 880 responden di 1 dapil dengan margin of error+/- 3,4 persen (tingkat kepercayaan 95 persen)
Hasil:
- Jokowi-Ma'ruf: 40,4 persen
- Prabowo-Sandiaga: 25,8 persen
- Undecided Voters: 33,8 persen

3. Konsep Indonesia (Konsepindo Research and Consulting)
Waktu: 17-24 Februari 2019
Jumlah responden: 1.200
Margin of error: +/- 2,9 persen (tingkat kepercayaan 95 persen)
Hasil:
- Jokowi-Ma'ruf: 54,8 persen
- Prabowo-Sandiaga: 34,1 persen
- Undecided Voters: 11,1 persen

4. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA
Waktu: 18-25 Februari 2019
Jumlah responden: 1.200
Margin of error: +/- 2,90 persen (tingkat kepercayaan 95 persen)
Hasil:
- Jokowi-Ma'ruf: 58,7 persen
- Prabowo-Sandiaga: 30,9 persen
- Undecided Voters: 9,90 persen.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR