SERBA-SERBI PILEG 2019

Tragedi komedi hasil koalisi partai

Selisih kursi legislatif 2019 dan 2014 menurut wilayah.
Selisih kursi legislatif 2019 dan 2014 menurut wilayah. | Lokadata /Lokadata

Politik terkadang tak membutuhkan kesetiaan, namun momentum yang tepat. Rasa hormat patut dipujikan kepada Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kurun dua Pilpres bersetia mendukung Prabowo Subianto dan hasil Pileg 2019 melambungkan suaranya dengan 50 kursi di DPR RI, periode sebelumnya 40 kursi.

Keyakinan model bisnis PKS menjadi oposisi sepanjang pemerintahan Joko Widodo mampu memikat pemilih dan melesatkan perolehan kursinya hingga 25 persen. Bahkan secara persentase kenaikan jumlah kursi PKS mengalahkan Partai Gerindra dengan kenaikan kursi sekitar 6,8 persen atau dari 73 kursi menjadi 78 kursi.

Namun keteguhan atas pilihan koalisi dan hasil kursi tidak berlaku bagi Partai Amanat Nasional (PAN). Berjalan beriringan untuk kali kedua dengan PKS, Gerindra, Partai Demokrat dalam barisan Koalisi Indonesia Adil Makmur, kian menenggelamkan partai berlambang matahari terbit ini. Dalam Pileg 2019, jumlah kursi perwakilannya berkurang hingga minus 10,2 persen atau dengan perolehan kursi 44, padahal periode sebelumnya 49 kursi.

PAN tidak sendirian, hasil serupa diikuti Partai Demokrat. Tak ada yang abadi dalam politik, meski dua periode menjadi partai papan atas. Kali ini capaian kursinya menurun hingga minus 11,5 persen atau 54 kursi di DPR RI berkurang tujuh kursi dari Pileg sebelumnya.

Kemenangan pasangan Jokowi-Ma’ruf adalah tragedi sekaligus komedi bagi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Kemenangan pasangan calon presiden yang diusungnya nyaris tak berdampak hasil partai mereka.

Partai dengan lambang Kakbah yang berbalik arah dari Prabowo ke Jokowi malah tergerus 20 kursi. Periode sebelumnya jumlah kursi PPP berjumlah 39 kursi, namun setelah pindah haluan menjadi 19 kursi atau tergerus hingga minus 51,2 persen.

Namun di atas semua itu, kemenangan pahit didapatkan Hanura dengan kehilangan 100 persen kursinya di Parlemen, tidak lolos ambang batas—merampas segala identitas Hanura di Senayan.

Slogan mengakar hingga ke bawah, bukan jaminan untuk Golkar. Dengan Pemilu sistem proporsional terbuka kali ini, jumlah kursi partai beringin tergerus minus 6,6 persen. Capaian suara Golkar terburuk sepanjang sejarah Pemilu, dari 91 kursi menjadi 85 kursi pada 2019.

Dalam barisan Koalisi Indonesia Kerja, pemenang Pileg sesungguhnya adalah Partai Nasional Demokrat (NasDem) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Bukan PDI Perjuangan (PDIP), meski menang total untuk jumlah kursi perwakilan.

Menang secara pertumbuhan jumlah kursi, peningkatan suara NasDem (68,6 persen) dan PKB (23.4 persen) menunjukkan capaian terbesar keduanya. Bahkan dua partai itu terus menempel kadang menggerus suara PDIP di sejumlah wilayah, kecuali di Jawa Tengah dan Yogyakarta nyaris sapu bersih.

Hasil suara dan capaian kursi PDIP adalah ironi, dengan peningkatan suara 17,4 persen. Meski kader partainya menjadi Capres dan pemenang, kenaikan suara partainya tak naik hingga 50 persen dari periode sebelumnya.

Tak percuma oposisi dalam dua periode Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan panen hasil sejak Pileg 2014 hingga saat ini. Jumlah kursinya terbanyak dari semua partai yakni 128 kursi, bertambah 19 kursi dari periode sebelumnya.

Selisih kursi legislatif 2019 dengan 2014 di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Selisih kursi legislatif 2019 dengan 2014 di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. | Lokadata /Lokadata

Hanya modal nebeng popularitas Jokowi, NasDem dan PKB mampu mengkonversinya menjadi kemenangan di beberapa tempat di Jawa, khususnya Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Selain dengan siasat jitu dan realistis dalam mengambil hati pemilih.

Tak salah dengan adagium politik Indonesia, Jawa adalah kunci. Khususnya tiga provinsi itu adalah wilayah dengan populasi pemilihnya mencapai 46 persen pada Pileg 2019. Selebihnya, tiga wilayah itu terkenal dengan pemilih fluktuatif.

Tak heran jika NasDem dan PKB menempel kemenangan PDIP. Bahkan NasDem bisa mendapatkan empat kursi di Jawa Barat, PKB satu kursi, dan saat bersamaan PDIP tergerus lima kursi.

Menang kalah Capres yang diusung bukan jaminan partai koalisi untung atau rugi. Terlepas dari kemenangan pasangan Jokowi-Ma’ruf, peningkatan suara partai terbanyak adalah NasDem (68,6 persen), PKS (25 persen), dan PKB (23,4 persen).

Jika kesetiaan adalah puncak dari loyalitas, seharusnya kemenangan juga mengguyur partai koalisi pengusung Capres pemenang. Momentum dan siasat yang tepat untuk memenangkannya, sebab bakti partai saat elektoral adalah kemenangan, bukan pada Capres yang diusung.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR