E-COMMERCE

Transaksi e-commerce capai Rp13 triliun per bulan

Foto Ilustrasi. Seorang ibu rumah tangga sedang mencari perbandingan harga di dua aplikasi e-commerce Indonesia. Bank Indonesia (BI) mencatat, terjadi peningkatan transaksi e-commerce yang bisa mencapai Rp13 triliun per bulan.
Foto Ilustrasi. Seorang ibu rumah tangga sedang mencari perbandingan harga di dua aplikasi e-commerce Indonesia. Bank Indonesia (BI) mencatat, terjadi peningkatan transaksi e-commerce yang bisa mencapai Rp13 triliun per bulan. | Rommy Roosyana /Beritagar.id

Sektor ekonomi digital di dalam negeri terus mengalami pertumbuhan. Seperti yang dicatat Bank Indonesia (BI), terjadi peningkatan transaksi di platform e-dagang (e-commerce) yang bisa mencapai Rp13 triliun per bulan.

Deputi Gubernur BI, Mirza Adityaswara seperti dikutip Merdeka.com mengatakan, sektor ekonomi digital, khususnya e-commerce terus mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu.

"Kalau sekarang kita lihat aktivitas sektor real yang sudah lewat digital ekonomi ini kelihatan meningkat," kata Mirza, Jumat (1/3/2019).

Dia mengakui jika dibandingkan dengan total transaksi sektor riil, maka transaksi e-commerce memang belum terlalu besar. Namun pertumbuhan transaksinya sangat signifikan.

"Misalnya data transaksi yang diperoleh BI, menunjukkan peningkatan melalui e-commerce itu paling tidak yang BI capture sekarang setiap bulan itu sekitar Rp 11 triliun sampai Rp 13 triliun per bulan. Kalau setahun kan bisa Rp 140-an triliun," jelasnya.

Pertumbuhan yang cepat tersebut sebut Mirza, ingin dimanfaatkan BI untuk membantu usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) hingga produksinya dapat diekspor. "Saat ini sudah ke arah situ, tapi tentu perjalanannya ada crossborder payment dan sebagainya," ujarnya seperti dinukil Kumparan.com.

BI saat ini sedang mengkaji peraturan yang terkait perkembangan ekonomi digital. Mirza memastikan BI ingin memfasilitasi digital ekonomi.

Sebelumnya, Presiden Joko "Jokowi" Widodo mengklaim bahwa pemerintah terus mendorong UMKM untuk melebarkan bisnisnya melalui jalur online (daring).

Menurut Jokowi, saat ini terdapat 56 juta UMKM di Indonesia, namun hanya 4 juta saja yang sudah memasarkan produknya di lapak online.

Pemerintah mengakui, tak mudah membangun ekosistem bisnis online yang mudah diikuti pelaku UMKM. Para pelaku usaha masih banyak yang menghadapi kendala seperti membangun brand, membuat desain, hingga mendapatkan modal.

"Ini tidak segampang yang kita bayangkan..masih ada sisa 52 juta, dan itu bukan sesuatu yang mudah. Banyak yang belum siap untuk masuk (online)," ucap Jokowi, Kamis (10/1).

Menyisir data iprice yang diolah Lokadata Beritagar.id terkait rata-rata pengunjung laman e-commerce di Indonesia pada kuartal IV, ternyata Tokepedia memiliki jumlah kunjungan paling banyak yakni 168 juta pengunjung. Tokopedia juga menempati ranking kedua berdasarkan appstore.

Sedangkan posisi kedua pengunjung terbanyak ditempati Bukalapak (116 juta pengunjung), posisi ketiga ditempati Shopee dengan banyak pengunjung 67,7 juta (ranking 1 appstore).

Diprediksi sentuh 12 miliar dollar AS di 2020

Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia ( idEA), Ignatius Untung S menyebutkan, sejak beberapa tahun terakhir e-commerce terus bermunculan di Tanah Air dan pertumbuhannya sangat drastis.

"Kita lihat, pertumbuhan e-commerce masih sangat pesat. Dalam empat tahun terakhir tumbuh mencapai 500 persen," ungkap Ignatius, dikutip Kompas.com.

Menurut Ignatius, adanya pertumbuhan itu akan memberikan dampak dan pengaruh besar pada sisi transaksi penjualan/pembelian dalam e-commerce. Sebab, pengguna internet di Indonesia terbilang besar yakni sekitar 130 juta orang.

"Jadi luar biasa pesat. Indonesia diprediksi akan punya 12 miliar transaksi e-commerce di tahun 2020," sebutnya.

Angka transaksi di e-commerce secara online sambungnya, kini belum sebanding dengan jumlah pengguna internet yang mencapai 130 juta orang. Karena hanya 11,5 persennya yang menggunakan internet untuk bertransaksi dalam perdagangan elektronik.

"Artinya, walaupun penggunannya sudah 11,5 persen, tapi kalau dari value transaksinya masih ketinggalan. Maka dari itu butuh upaya untuk bagaimana caranya orang bisa digenjot (lebih sering bertransaksi di e-commerce)," imbuhnya.

Dia menambahkan, saat ini Indonesia sudah menempati posisi utama untuk pasar e-commerce kawasan Asia Tenggara dan diperkirakan akan menjadi market terbesar. "Data yang kami peroleh, rata-rata pembelanjaan per user selama setahun itu masih sekitar Rp1.000.000-an dan diprediksi sampai tahun 2023 sampai Rp1.500.000," pungkasnya.

Merujuk riset yang dilakukan Google dan Temasek (November 2018) yang bertajuk 'e-Conomy SEA 2018', menghitung potensi gross merchandise value (GMV) e-commerce di kawasan Asia Tenggara mencapai $23 miliar AS (sekitar Rp323,4 triliun) pada 2018, naik nyaris lima kali lipat dari 2015 yang berada pada posisi $5 miliar AS (sekitar Rp70 triliun).

Potensi itu diprediksi akan kembali tumbuh pada 2025 menjadi $102 miliar AS (sekitar Rp1.434,2 triliun).

Indonesia memimpin GMV tertinggi untuk bisnis e-commerce. Pada 2018, Indonesia berhasil memperoleh kenaikan hingga 94 persen GMV, yakni dari $1,7 miliar AS menjadi $12,2 miliar AS. Pada 2025, Indonesia diprediksi bisa mendapatkan sekitar $53 miliar AS dari bisnis e-commerce. Nilai itu setara dengan Rp745,2 triliun.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR