PASAR TRADISIONAL

Transformasi pasar tradisional bantu kinerja e-commerce

Pedagang melayani pembeli di Pasar Mataram peradaban Liyangan kuno di kawasan lereng gunung Sindoro kompleks situs Liyangan, Purbosari, Ngadirejo, Temanggung, Jateng, Minggu (24/2/2019).
Pedagang melayani pembeli di Pasar Mataram peradaban Liyangan kuno di kawasan lereng gunung Sindoro kompleks situs Liyangan, Purbosari, Ngadirejo, Temanggung, Jateng, Minggu (24/2/2019). | Anis Efizudin /AntaraFoto

Presiden Joko “Jokowi” Widodo meminta Kementerian Perdagangan segera memulai transformasi digital pasar tradisional dalam negeri.

Hal ini dimaksudkan agar pelaku usaha kecil memiliki platform dan marketplace menuju era transaksi perniagaan elektronik yang saat ini mulai menjamur.

Bukan tanpa sebab. Jokowi mengambil contoh beberapa pusat perbelanjaan yang akhirnya tutup lantaran tak mampu bersaing dengan industri digital.

“Ini hati-hati. Saya minta Kementerian Perdagangan untuk mulai. Di pasar tradisional kita mulai bangun ekosistem online, tapi juga tetap harus ada perbaikan offline-nya,” kata Jokowi saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Perdagangan di ICE BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (12/3/2019).

Menurutnya, ada dua perbaikan yang bisa dimulai. Pertama, perbaikan pengemasan produk yang akan dijual. Pengemasan ini tak hanya berlaku bagi produk-produk yang dijual di pasar saja, melainkan juga hasil pertanian dan perikanan.

Proses pengemasan, sambung Jokowi, selayaknya turut melibatkan peran pemerintah daerah (pemda) khusunya dalam mengalokasikan anggaran untuk membantu industri kecil.

Kedua, memperbaiki pelabelan dari setiap produk. “Sehingga, saat masuk ke pasar barang itu enak dilihat dan enak dijual,” ujarnya.

Jokowi optimistis, jika seluruh pasar tradisional bergerak melakukan transformasi digital maka kekuatan ekonomi besar akan terbentuk. Selanjutnya, daya saing Indonesia di kancah perdagangan global pun ikut terkerek dan berimbas pada peningkatan ekspor Indonesia.

“Tidak hanya fisik pasar, tapi juga omset bisa naik,” tegasnya.

Kinerja ekspor Indonesia memang patut menjadi sorotan. Posisi neraca perdagangan Indonesia per Januari 2019 masih defisit sebesar $1,16 miliar AS. Defisit ini tercatat sebagai yang terparah sejak 2014.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut sumbangan defisit terbesar datang dari sektor migas dan nonmigas, masing-masingnya $450 juta AS dan $750 juta AS.

Defisit tersebut berasal dari capaian ekspor sebesar $13,87 miliar AS berbanding dengan impor yang sebesar $15,03 miliar AS.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengklaim beban ekspor Indonesia yang masih tinggi disebabkan lantaran komponen impor saat ini masih didominasi bahan baku dan modal. Jumlahnya nyaris setara 90 persen dari keseluruhan nilai impor.

“Beberapa impor seperti buldozer, mesin derek, baja, dan alumunium. Salah satunya untuk kebutuhan infrastruktur kita,” kata Enggar.

Selain itu, Enggar juga menyebut ketidakpastian ekonomi global sebagai salah satu faktor yang turut memperberat kondisi ekonomi Indonesia. Kendati memang, dibanding negara lainnya, kinerja perdagangan Indonesia tidak terlalu terpuruk.

Di luar masalah ekspor, Enggar memastikan bahwa pihaknya tetap berkomitmen dalam melakukan revitalisasi serta pembangunan pasar-pasar tradisional di seluruh provinsi Indonesia.

Sampai 2018, jumlah pasar tradisional yang telah terbangun mencapai 4.211 unit dan bakal dituntaskan lagi sebanyak 1.307 unit pada tahun ini.

Bukan hanya membangun pasar, Enggar mengklaim jajarannya turut memberikan pelatihan manajemen pengelolaan pasar. Dari pelatihan tersebut, rerata kenaikan volume transaksi pada pasar tradisional yang telah direvitalisasi berhasil mencapai 20,4 persen.

Hasil Survei Profil Pasar tahun 2018 menunjukkan jumlah pasar tradisional mendominasi jenis pasar di Indonesia, 88,5 persen dari total pasar. Ada alasan mengapa jumlah pasar tradisional mendominasi dan terus bertambah. Dari survei yang sama diketahui bahwa masyarakat lebih menyukai transaksi perdagangan di lokasi yang tak jauh dari domisili mereka.

Selain itu, harga di pasar tradisional relatif lebih murah dibanding di pusat perbelanjaan dan proses jual beli barang masih menggunakan metode tawar menawar.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR