MUDIK 2019

Transportasi favorit pemudik 2019

Sejumlah penumpang peserta 'Mudik Bareng KAI' menaiki gerbong kereta api Brantas jurusan Blitar, Jawa Timur di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Minggu (26/5/2019).
Sejumlah penumpang peserta 'Mudik Bareng KAI' menaiki gerbong kereta api Brantas jurusan Blitar, Jawa Timur di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Minggu (26/5/2019). | M Risyal Hidayat /ANTARA FOTO

Mahalnya tiket pesawat terbang sekaligus lonjakan jumlah pemudik 2019 berimbas pada prediksi naiknya jumlah penumpang transportasi darat dan laut.

Jalur laut menjadi pilihan favorit pemudik antar pulau, dan Jalur darat lebih dipilih pemudik di Pulau Jawa dengan angkutan bus sebagai moda terfavorit.

Menurut data Kementerian Perhubungan dan Masyarakat Transportasi Indonesia olahan Lokadata Beritagar.id, moda transportasi mudik paling favorit dua tahun berturut-turut pada 2017 dan 2018 adalah sepeda motor.

Dalam periode sama, terlepas dari perkiraan jumlah pemudik 2018, pesawat menduduki posisi kedua transportasi mudik terfavorit. Disusul kereta api, bus, kapal penyeberangan (ASDP), mobil pribadi, serta kapal laut di posisi buncit.

Namun, jika merunut hasil evaluasi angkutan lebaran 2018, data Kemenhub menyimpulkan angkutan umum jauh lebih diminati dibanding angkutan pribadi. Moda udara adalah paling favorit dengan kenaikan 5,7 persen dari 5,96 juta pada 2017 menjadi 6,31 juta penumpang.

Dari dua data tadi, merujuk survei perbandingan biaya transportasi mudik tahun 2017 oleh Kemenhub, bisa disimpulkan pemudik lebih memilih sepeda motor lantaran biayanya paling hemat, dan justru memilih pesawat yang harganya paling mahal kemungkinan besar karena efisiensi waktu.

Namun, mengingat harga tiket pesawat tidak lagi terjangkau, dan ruas tol trans-Jawa sudah beroperasi penuh bakal semakin menyingkat perjalanan, tak mengherankan terjadi perubahan dalam prediksi transportasi favorit pemudik 2019.

Kemenhub memperkirakan sekitar 30 persen pemudik yang biasa menggunakan pesawat akan beralih memakai kendaraan pribadi. Secara menyeluruh, total pemudik dengan kendaraan pribadi diprediksi naik 13,09 persen dibandingkan tahun 2018, menjadi 10,61 juta jiwa.

Pemudik dengan mobil sebanyak 3,76 juta jiwa dan pemudik motor meningkat 10,7 persen menjadi 6,85 juta jiwa—942.621 di antaranya berasal dari wilayah Jabodetabek.

Meski begitu, Kemenhub tengah gencar melakukan sosialisasi keselamatan dalam berkendara dengan menyediakan transportasi mudik gratis. Lewat kebijakan tersebut masyarakat diharapkan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, terutama roda dua.

Dengan demikian, penggunaan angkutan umum untuk mudik tampak bakal tetap juara. “Total pemudik yang menggunakan transportasi umum diprediksi 22,83 juta jiwa atau ada peningkatan sebesar 4,14 persen dibandingkan tahun lalu" jelas Dirjen Perhubungan Darat (Hubdat) Budi Setiyadi (7/5).

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, memang memprediksi bakal terjadi lonjakan pemudik tahun ini dibanding tahun 2017 dan 2018. "Pada 2017 itu ada 20 juta pemudik, lalu 2018 ada 21,6 juta, di mana kenaikannya 6 persen. Kenaikan akan terjadi lagi tahun ini... kurang lebih 23 juta orang yang mudik," ujarnya.

Ia pun memperkirakan arus puncak mudik terjadi selama tiga hari mulai 31 Mei hingga 2 Juli.

Ditinjau dari moda angkutan, sambung Budi Setiyadi (22/4), survei teranyar Badan Litbang Kemenhub terhadap 14,9 juta pemudik dari wilayah Jabodetabek, mencatat bus sebagai moda terfavorit. Posisi berikutnya diikuti mobil pribadi, kereta api, pesawat udara, dan terakhir sepeda motor.

Moda terfavorit ditentukan berdasarkan persentase kenaikan jumlah penumpang paling tinggi.

Senada dengan survei Kemenhub, riset internal situs pelesiran Traveloka mengungkap, permintaan terhadap moda transportasi darat meningkat signifikan, yaitu mencapai 30 persen untuk kereta api dan 300 persen untuk bus antar kota dibandingkan dengan periode normal.

"Tahun ini diperkirakan 4,6 juta atau meningkat 3,88 persen yang pakai bus. Cukup meningkat karena tiket pesawat mahal dan kereta terbatas," kata Budi Setyadi (7/5).

Iko Putera, Head of Growth Management Traveloka (14/5), menambahkan pilihan mudik dengan bus juga bisa menghemat anggaran mudik.

Sementara pemudik kereta Api , sambung Menhub, berdasarkan survei menunjukkan peningkatan hingga 3,4 Persen dari 6,2 juta penumpang per 2018, mencapai 6,4 juta penumpang pada mudik 2019.

Berlandaskan prediksi tersebut, Ditjen Perkeretaapian Kemenhub bersama perwakilan PT Kereta Api Indonesia (KAI) di sejumlah daerah telah melakukan antisipasi. Misal dengan menambah jumlah tempat duduk, penambahan gerbong kereta hingga mengubah kelas gerbong.

Tak hanya angkutan darat, dalam keterangan pers (28/5), Kemenhub memperkirakan jumlah penumpang angkutan laut mencapai 1,9 juta, naik 4,8 persen dibanding angkutan mudik 2018.

Bahkan, PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) memprediksi angkutan laut bakal menjadi transportasi favorit mudik dibanding angkutan darat. Khususnya bagi pemudik antar pulau dari Kalimantan, Sulawesi, dan Batam-Belawan.

Jika tahun 2018 jumlah penumpang hanya 604.202 orang, Pelni memperkirakan tahun ini jumlahnya menembus angka 625.599 orang. "Kenaikan penumpang lebaran sekitar ‎3,5 persen,” ujar Kepala Kesekretariatan Perusahaan PT Pelni (Persero), Yahya Kuncoro.

Pihaknya memprediksi jumlah kenaikan tersebut ‎berdasarkan animo pengguna jasa kapal Pelni jauh hari sebelum Ramadan. “Setiap bulan sejak Oktober kita mengalami kenaikan sebesar 38 persen," terang Yahya.

Mengantisipasi lonjakan penumpang lebaran, PT Pelni sudah mulai menambah frekuensi pelayaran kapal sejak 23 Mei 2019, dan Kemenhub menyiapkan 113 kapal perintis.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR