Tren pernikahan tradisional di mata milenial

Model menampilkan riasan pernikahan melihat pada pameran Royal Wedding Expo di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (24/11/2018).
Model menampilkan riasan pernikahan melihat pada pameran Royal Wedding Expo di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (24/11/2018). | Yulius Satria Wijaya /ANTARA FOTO

Kalangan milenial masih melirik pernikahan tradisional. Walau belum tentu menyertakan ritual atau tradisi konvensional lain, mereka berusaha tidak mengubah adat. Bagaimanapun, media sosial merupakan faktor kunci.

Simpulan ini diungkap para pengamat pernikahan dan sejumlah survei.

"Dari jumlah kunjungan setiap tahunnya, kita dapat melihat pernikahan tradisional masih diminati para calon pengantin, khususnya para milenial," kata Tommy Yoewono, Managing Director Parakama Organizer, dalam jumpa media Gebyar Pernikahan Indonesia (GPI) ke-11 di Balai Kartini, Jakarta (19/6).

Danny Iskandar dari Yayasan Merajut Nusantara, bahkan mengungkap adanya peningkatan tren pernikahan tradisional menggunakan pakem adat.

“Tren untuk pernikahan tradisional jauh meningkat dari tahun sebelumnya. Sekarang pakem-pakem adat malah ada peningkatan di 2019. Mulai dari acara syukuran hingga pesta pernikahan," kata Danny (5/4).

Di Indonesia, data dari The Ritz-Carlton menunjukkan peminat pernikahan tradisional terus meningkat sejak 2010 (10 persen) menjadi 40 persen pada 2017, dan diprediksi bakal mencapai 50-60 persen pada 2018.

Menurut Chief Operating Officer Weddingku, Reza Paramita, di tahun 2018 tren ini memperlihatkan peningkatan dan pada dasarnya mengandalkan kreativitas dalam memadukan konsep modern dan tradisional, walau sering kali tidak menyertakan ritual adat.

Hal sama juga terlihat di negara-negara lain.

April 2019, New York Times melaporkan peningkatan konsep pernikahan tradisional menggunakan berbagai upacara adat di berbagai belahan dunia berdasarkan statistik dari perusahaan WeddingWire.

Menurut perusahaan tersebut, memasukkan tradisi adat dalam pernikahan menjadi lebih umum bukan hanya karena ada lebih banyak pasangan milenial yang kini menikah antar budaya. Akan tetapi, lantaran milenial lebih menginginkan momen pernikahannya lebih berkesan dan tampak berbeda.

Sejauh ini, preferensi pasangan milenial (23-38 tahun) tentang pernikahan memang identik dengan konsep-konsep baru dan kekinian.

Survei tahunan yang dirilis situs The Knot pada 2018 menunjukkan, berbeda dari generasi-generasi sebelumnya yang gemar menggelar resepsi di hotel dan tempat perjamuan lainnya, dalam delapan tahun terakhir pasangan milenial lebih memilih tempat-tempat pernikahan tak lazim semisal wilayah pertanian, pinggir pantai, sampai perpustakaan bersejarah.

Perubahan yang sama juga terlihat pada pilihan dekorasi, busana hingga aksesori pengantin. Secara umum, pengantin milenial lebih suka terlibat langsung dalam memesan atau merancang segala kebutuhan pernikahan yang sesuai keinginannya.

Bahkan, survei yang dihelat oleh Dealspotr Influencer Marketplace menyimpulkan pengantin milenial cenderung kurang tertarik pada pilihan-pilihan konvensional dalam merencanakan pernikahan, dan menggantinya dengan memanfaatkan kemudahan teknologi. Survei itu juga menyebut milenial menganggap pernikahan sebagai urusan yang lebih sekuler.

Kendati demikian, Tommy berpendapat kalangan muda Indonesia justru memiliki pola pikir pernikahan adalah hal yang sakral. Itu pula yang mendorong mereka memilih pernikahan tradisional.

Senada, Decy Widhiyati, pemilik Fabrin House of Betawi menambahkan, pernikahan tradisional bagaimanapun turut menyesuaikan perubahan tren. Menurutnya, tak masalah bila terdapat perubahan dan modifikasi dalam banyak hal selama norma adat istiadatnya tidak berubah sama sekali.

Ia mencontohkan pada bahan pakaian, "Untuk busana adat Betawi, misalnya. Dulu mempelai wanita dan pria mengenakan baju berbahan beludru. Namun saat ini mulai bergeser ke bahan sutra, hingga variasi lainnya," ujarnya.

Soal riasan, lanjut dia, untuk pernikahan adat Betawi masih menonjolkan warna putih dan merah.

Pemandu adat rias pengantin di Jakarta, Ira Juniardhi, menjelaskan, perias pengantin adat zaman sekarang memang perlu lebih banyak mengakomodir keinginan pengantin ketimbang menerapkan riasan yang betul-betul sesuai pakem adat.

Ira memberi contoh video perias mengebulkan asap rokok ke wajah pengantin perempuan yang viral awal Juni lalu. Kata dia, jika tradisi ritual Jawa Kuno untuk membuka aura pengantin itu masih diterapkan tanpa diminta calon pengantin, maka kemungkinan kecil jasa perias pernikahan tersebut bakal diminati.

Menanggapi perubahan-perubahan tersebut, sejumlah pengamat dan perencana pernikahan di Barat berpendapat pasangan milenial sebetulnya semakin menjauhi konsep pernikahan tradisional yang sesungguhnya.

Akan tetapi, mereka juga memahami milenial memiliki kontrol lebih untuk memilih sesuatu yang mencerminkan kepribadian sekaligus keinginan.

Alasannya jelas. Milenial bukan hanya lebih matang soal usia menikah dibanding generasi sebelumnya, tapi juga memprioritaskan karier dan kesuksesan finansial, sembari mencari pasangan yang tepat.

Terlebih lagi, situs The Lyst dalam wedding report 2019, menemukan media sosial memiliki dampak yang semakin penting terhadap tren pernikahan di seluruh dunia. Menurut platform pencarian mode global asal Inggris itu, pengguna dari kalangan milenial menjadikan tagar di instagram sebagai sumber rujukan untuk merencanakan pernikahan mereka.

Danny pun setuju media sosial telah mendorong peningkatan pernikahan tradisional di Indonesia. “Misalnya ada figur publik yang menikah secara adat, mulai dari siraman, akad nikah, hingga resepsi, semua itu melakukan adat," pungkasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR