LEBARAN 2019

Tren positif jual beli tebus emas sambut Lebaran

Pedagang menata perhiasan emas di sentral penjualan emas pusat Kota Lhokseumawe, Aceh, Senin (25/2/2019).
Pedagang menata perhiasan emas di sentral penjualan emas pusat Kota Lhokseumawe, Aceh, Senin (25/2/2019). | Rahmad /ANTARA FOTO

Sambut Lebaran 2019, tren jual beli dan menebus gadaian emas menunjukkan perubahan cenderung positif dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Tren jual dan gadai emas jelang lebaran 2019 cenderung meningkat. Sebaliknya, tren pembelian justru menurun, meski ada sedikit kenaikan di beberapa tempat. Ini menunjukkan perubahan pada tren kepemilikan dan pemanfaatan emas dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Di Palembang, menurut Ivan, salah seorang penjual perhiasan emas di Pasar Cinde, selama dua tahun terakhir masyarakat cenderung menjual emas sejak sekitar dua pekan menjelang lebaran. Peningkatannya sampai 80 persen dibanding hari biasa dengan perbandingan jual beli kira-kira 20:80.

Kata dia, terlepas dari untung rugi, tren pembelian emas cenderung stagnan di kisaran seperempat sampai satu suku atau 3-6,7 gram per orang, sedangkan penjualan bisa mencapai lima suku atau 30 gram per orang.

Padahal, lanjut Ivan, pada 2017 masyarakat masih membeli emas sebagai perhiasan saat Idulfitri dan menjualnya kembali usai lebaran.

Ia memprediksi sebagian besar dari 80 persen masyarakat yang menjual emas lebih mengalokasikan dananya untuk keperluan lebaran dan persiapan anak masuk sekolah. “Jarak momen keduanya jika diperhatikan memang berdekatan," ujar Ivan.

Ibnu, pedagang emas di ibu kota, juga mengakui penjualan emas tengah menurun bahkan mencapai 20 persen dibanding tahun lalu. "Penurunan, sepi, ada 15-20 persen(penurunan penjualan),” ujarnya.

Ia mengklaim kuantitas pembelian yang berkurang ini lantaran harga emas sedang naik. Selisih harganya pun terpaut hampir Rp50 ribu dibanding tahun lalu.

Saat ini, harga emas internasional memang tengah melambung dan telah memicu kekhawatiran akan terjadinya perlambatan ekonomi global.

Senin (3/6/2019) pukul 10.10 WIB, harga emas di pasar spot naik 6,86 poin atau 0,53 persen menjadi $1.312,44 per troy ounce. Di waktu bersamaan, harga emas untuk pengiriman Agustus 2019 di Commodity Exchange meningkat 6,20 poin atau 0,47 persen menuju $1.317,30 per troy ounce.

Kenaikan harga emas global itu didorong aksi investor yang beralih ke investasi safe haven alias dinilai lebih aman usai meningkatnya ketegangan perundingan dagang Amerika Serikat dan Tiongkok. Disusul kemudian Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman akan mengenakan tarif impor terhadap perdagangan Meksiko.

Meski begitu, terlepas dari perbedaan harga emas di tiap gerai penjualan, CNBC Indonesia mencatat, harga emas logam mulia acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) per 29-31 Mei cenderung stabil.

Begitu pula, menukil Bisnis.com, harga emas PT Pegadaian untuk cetakan Antam dan UBS per gram masih tetap stagnan pada tanggal 2 dan 3 Juni.

Dengan demikian, seperti ditulis CNBC, alih-alih terpengaruh kondisi global, penjualan emas yang menurun dan tak bergairah lebih disebabkan lesunya kondisi pasar keuangan domestik menjelang libur panjang Lebaran 2019.

Sebab, harga emas sejatinya dipengaruhi sejumlah faktor. Diantaranya nilai tukar rupiah, penawaran-permintaan, permintaan industri emas, isu global, tingkat inflasi, dan tingkat suku bunga.

Jadi tak mengherankan, berbeda dari penurunan penjualan emas di Palembang dan Jakarta, data yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri menunjukkan, hingga H-5 Lebaran 2019 jumlah pembeli perhiasan emas mencapai 30 persen. Naik dibanding tahun 2018 yang cuma sekitar 20 persen.

Namun, para pedagang emas di Kediri juga tak memungkiri kenaikan itu tidak terlalu signifikan dibanding jika lebaran tidak berdekatan dengan liburan persiapan sekolah. “Tahun ini antara yang membeli dan menjual hampir sama-sama meningkat,” ujar salah seorang pedagang.

Selain jual beli, tren yang juga kentara adalah tebus dan gadai emas.

Selama Ramadan, tim penyaluran pembiayaan Pegadaian Kanwil I Medan mencatat peningkatan barang gadai yang diagunkan nasabah 95 persennya didominasi emas dan perhiasan.

Menariknya lagi, Jelang hari raya Idulfitri, dimulai sejak Tunjangan Hari Raya (THR) cair lalu meningkat seminggu sebelum lebaran dan mencapai puncak di H-4 lebaran, tren menebus gadai emas di Pegadaian meningkat cukup signifikan hingga 7 persen.

Supriyanto, Pinwil Pegadaian Kanwil 12 Jawa Timur (3/6), mengatakan sejak tanggal 31 Mei barang tebusan sudah mencapai Rp23 miliar dan bakal terus bertambah.

Lebih luas lagi, Direktur Pemasaran dan Pengembangan Produk PT Pegadaian, Harianto Widodo, menambahkan di wilayah Surabaya saja akumulasi total tebusan dalam dua pekan sebelum 28 Mei sudah mencapai 1,5 triliun.

Sama seperti tahun lalu, banyak masyarakat menggadaikan emas di awal Ramadan untuk kebutuhan modal kerja atau konsumsi, lalu menebusnya untuk dipakai saat lebaran.

Namun, sambung Harianto, pola penebusan yang lebih masif juga menunjukkan adanya kelebihan likuiditas dan kesadaran kebutuhan kepemilikan barang.

Bisa dibilang, masyarakat yang mengakses layanan pegadaian kini bukan melulu karena terhimpit ekonomi atau pemenuhan konsumtif, tetapi sebagai ladang investasi anyar.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR