PEREKONOMIAN DUNIA

Trump bantah akan ada resesi ekonomi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (tengah) melambaikan tangannya saat berjalan bersama Ibu Negara Melania Trump dan putra mereka Barron di Halaman Selatan Gedung Putih di Washington DC, Minggu (18/8/2019).
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (tengah) melambaikan tangannya saat berjalan bersama Ibu Negara Melania Trump dan putra mereka Barron di Halaman Selatan Gedung Putih di Washington DC, Minggu (18/8/2019). | Yuri Gripas /Antara Foto/Reuters

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan perekonomian negaranya baik-baik saja dan tak percaya akan ada resesi. Menurut Trump, resesi justru terjadi di dunia dan bukan di negaranya.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh penasehat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow. "Saya tak melihat (tanda-tanda) resesi," katanya dalam BBC, Senin (19/8/2019).

Resesi biasanya terjadi ketika indikator perekonomian sebuah kawasan atau dunia menurun dalam dua triwulan beruntun. Pekan lalu, pasar keuangan menunjukkan resesi segera hadir.

Indeks Dow Jones sempat anjlok 808 poin pada perdagangan hari Rabu (14/8) di bursa efek New York, AS. Indeks terburuk dalam perdagangan sepanjang 2019 itu dipicu oleh pemotongan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS untuk tenor 10 tahun sehingga potensi keuntungannya kalah dari obligasi tenor 2 tahun atau terjadi inversi yield.

Sementara bulan lalu, Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) menurunkan tingkat suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2008 dan diperkirakan penurunan masih akan terjadi. Aksi The Fed dipicu oleh indikator global, misalnya perlambatan ekonomi Inggris dan Jerman.

Namun, Trump menyatakan itu bukan tanda resesi karena perekonomian AS sedang bagus-bagusnya. Trump juga menyebut kebanyakan ekonom tak melihat akan ada resesi, kecuali terhadap dunia.

"Konsumen kami kaya, saya memotong pajak, dan kami banyak uang," kata Trump kepada jurnalis, Minggu (18/8). Trump juga menunjukkan jaringan gerai supermarket Walmart, yang kerap disebut terbesar di dunia, meraih keuntungan pekan lalu dan menggambarkan daya konsumsi AS sangat kuat.

Trump boleh saja yakin bahwa negaranya tak ada mengalami resesi. Sementara di Eropa, kekhawatiran makin terasa menyusul sikap Bundesbank --Bank Sentral Jerman.

Bundesbank, Senin (19/8), memperkirakan Eropa akan mengalami resesi mulai musim gugur tahun ini atau pada September. Dalam laporan bulanan terbarunya, Bundesbank mengatakan perekonomian Jerman --terbesar di Eropa-- akan menyusut pada triwulan kedua 2019 (Juli-September).

"Alasan utamanya, kinerja kalangan industri (termasuk pabrik mobil) terus turun. Sementara konsumsi domestik telah melemahkan ekonomi, pasar tenaga kerja juga melemah, dan sektor jasa menurun," kata Bundesbank dikutip The Guardian.

Pekan lalu, data menunjukkan Produk Domestik Bruto Jerman turun 0,1 persen pada triwulan kedua 2019. Ini adalah penurunan kedua setelah pada triwulan pertama sehingga tanda resesi nyata adanya.

Di sisi lain, Euostat melaporkan inflasi di seluruh kawasan Eropa ternyata tidak seburuk perkiraan awal. Harga-harga komoditas hanya naik sekitar 1 persen pada Juli, bukan 1,1 persen seperti diperkirakan.

Artinya angka inflasi menurun dari 1,3 persen pada Juni. Adapun inflasi masih dipicu oleh kenaikan harga sektor makanan dan jasa, sementara harga sektor energi dan komoditas industri melemah.

Kenaikan harga misalnya terjadi pada produk makanan, alkohol, dan rokok (sekitar 1,9 persen) serta jasa (1,2 persen). Sedangkan energi dan komoditas industri hanya naik 0,5 persen dan 0,4 persen.

Sementara itu dari perdagangan saham di bursa efek Frankfurt, para investor memperkirakan pemerintah Jerman akan mengeluarkan kebijakan paket stimulus fiskal. Sentimen positif ini membuat indeks perdagangan saham di Jerman dan Inggris pada Senin (19/8) menjadi hijau; masing-masing naik 1,1 persen dan 0,9 persen.

Menteri Keuangan Jerman Olaf Scholz menegaskan negaranya harus bisa mengumpulkan dana hingga €50 miliar sesuai kerugian saat krisis keuangan beberapa waktu lalu. "Kami harus bisa dan kami bisa," katanya.

Meski begitu, lanjut Scholz, persoalan terbesar adalah ketidakpastian, termasuk perang dagang antara AS dengan Tiongkok. Ini pula yang menjadi dasar sikap Bundesbank.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR