PERANG DAGANG

Trump desak Tiongkok cabut tarif impor produk pertanian AS

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (kanan), Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, penasehat keamanan nasional AS John Bolton dan Presiden China Xi Jinping (kiri) menghadiri jamuan makan malam setelah ktt pemimpin negara G20 di Buenos Aires, Argentina, Sabtu (1/12/2019).
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (kanan), Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, penasehat keamanan nasional AS John Bolton dan Presiden China Xi Jinping (kiri) menghadiri jamuan makan malam setelah ktt pemimpin negara G20 di Buenos Aires, Argentina, Sabtu (1/12/2019). | Kevin Lamarque /Antara Foto/Reuters

Perundingan dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) diklaim telah mengalami kemajuan yang baik. Presiden AS, Donald Trump, mengatakan dia telah meminta Presiden Tiongkok, Xi Jinping, untuk segera menghapus semua tarif pada produk-produk pertanian AS.

Sebagai gantinya, ia menunda rencana untuk mengenakan tarif 25 persen pada barang-barang asal negeri tirai bambu pada Jumat (1/3/2019), sesuai jadwal sebelumnya.

"Saya telah meminta Tiongkok untuk segera menghapus semua tarif pada produk-produk pertanian kami (termasuk daging sapi, babi, dll.) berdasarkan fakta bahwa kami bergerak dengan baik dalam berbagai diskusi perdagangan," kata Trump melalui Twitter.

Trump pun menunjukkan bahwa ia belum menaikkan tarif barang-barang Tiongkok menjadi 25 persen dari 10 persen pada 1 Maret sesuai rencana.

Setelah pembicaraan selama sepekan yang diperpanjang hingga akhir pekan, Trump mengatakan tarif itu tidak akan naik untuk saat ini. Dalam cuitannya di Twitter, dia mengatakan kemajuan telah dibuat untuk beberapa sektor --termasuk perlindungan kekayaan intelektual, transfer teknologi, pertanian, layanan jasa, dan mata uang.

Status Trump di Twitter muncul beberapa jam setelah kantor Perwakilan Dagang AS mengabarkan penundaan kenaikan tarif yang dijadwalkan untuk barang-barang Tiongkok senilai AS $200 miliar.

"Ini sangat penting bagi petani-petani besar kami - dan saya!" Kata Trump.

Petani adalah konstituen utama Partai Republik yang berada di balik Trump, dan perang dagang Presiden AS dengan Tiongkok telah berdampak besar pada mereka. Tahun lalu, Tiongkok memasang tarif pada impor kedelai, sorgum biji-bijian, daging babi, dan barang-barang lain serta memangkas jumlah produk pertanian Amerika ke Tiongkok.

Menteri Pertanian AS, Sonny Perdue, mengatakan minggu ini para negosiator perdagangan AS telah meminta Tiongkok untuk menurunkan tarif etanol AS. Namun ia tidak segera menjelaskan apakah Beijing bersedia untuk memenuhinya.

Rencana kenaikan tarif dari 10 persen menjadi 25 persen pada awalnya dijadwalkan berlaku pada 1 Januari 2019. Tetapi setelah percakapan yang produktif dengan Xi Jinping, pemerintahan Trump mengeluarkan perpanjangan 90 hari dari tenggat waktu.

Trump pun mengatakan pada hari Minggu lalu bahwa dia akan kembali menunda kenaikan karena ada kemajuan dalam pembicaraan.

Pengumuman itu merupakan sinyal paling jelas bahwa Tiongkok dan AS akan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dagang yang telah terjadi selama berbulan-bulan hingga mengganggu kondisi pasar ekonomi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Kantor berita Xinhua mengatakan dalam komentarnya bahwa hasil perundingan semakin mendekati akhir. Tetapi tahap akhir justru diperkirakan menjadi proses tersulit.

Ancaman kenaikan tarif berpengaruh signifikan bagi tim Jinping karena Tiongkok sedang berusaha menstabilkan ekonomi negaranya.

"Kami tidak dapat memastikan apakah ini merupakan peluang besar atau sukses, karena kami tidak tahu detail yang telah dinegosiasikan.

"Namun persetujuan untuk memperpanjang negosiasi beberapa pekan lagi jelas merupakan kepentingan Tiongkok. Pada titik ini, AS kemungkinan mendapat semua yang keluar dari Tiongkok," kata Scott Kenedy, Ahli Ekonomi Tiongkok Pusat Studi Strategis dan Internasional di Washington, AS.

Dikutip dari Channel News Asia, ahli strategi pasar J.P. Morgan Asset Management, Tai Hui, mengatakan langkah itu menunjukkan kedua belah pihak menginginkan penyelesaian sengketa. Pasalnya, kenaikan tarif lebih lanjut akan menambah kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi AS.

Pertumbuhan ekonomi AS hingga kuartal keempat tahun lalu tercatat 2,6 persen. Realisasi ini jauh lebih lambat dibandingkan 3,4 persen pada kuartal sebelumnya.

Dilansir dari Voice of America, perlambatan pertumbuhan ekonomi AS ini semakin jauh dari target Trump yang mengincar kenaikan 3 persen. Padahal ia telah melancarkan program pemotongan pajak demi mendorong perekonomian.

Trump selalu menggembar-gemborkan ekonomi sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam masa jabatannya. Ia bahkan berjanji akan mengerek pertumbuhan ekonomi negara terbesar di dunia tersebut hingga 4 persen.

Namun, alih-alih meningkat, pertumbuhan ekonomi AS kuartal keempat 2018 malah berakhir lesu di posisi 2,6 persen. Pun begitu, pertumbuhan sepanjang tahun lalu ialah yang terkuat sejak 2015 dan tetap masih lebih baik dibandingkan 2,2 persen pada 2017.

Data ekonomi pada Desember 2018 menyebut penjualan ritel, ekspor, dan pembangunan kembali rumah, serta pengeluaran bisnis di AS melemah tajam. Tak cuma itu, sebagian besar manufaktur pun melunak pada Januari dan Februari, termasuk berkurangnya permintaan kendaraan bermotor.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR