PENCEMARAN LINGKUNGAN

Tumpahan minyak hitam cemari perairan Batam

(Ilustrasi gambar) Petugas mengumpulkan tumpahan minyak mentah yang tercecer di Laut Utara Karawang, Jawa Barat, Senin (12/8/2019).
(Ilustrasi gambar) Petugas mengumpulkan tumpahan minyak mentah yang tercecer di Laut Utara Karawang, Jawa Barat, Senin (12/8/2019). | M Ibnu Chazar /Antara Foto

Minyak hitam pekat mencemari Perairan Pulau Belakangpadang, Kota Batam. Minyak itu menggenangi sekitar pelabuhan, Dataran Lang Lang Laut, hingga pemukiman rumah warga yang berdiri di atas laut sejak Sabtu, 16 November 2019.

Camat Belakangpadang Yudi Admaji mengatakan bahwa perairan Pulau Belakangpadang mulai tercemar minyak sejak Sabtu (16/11). Ia menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup terkait pencemaran itu.

"Kepala Dinas Lingkungan hidup dan timnya sudah turun mengambil sampel dan melakukan pemetaan," kata dia dilansir dari Antaranews, Senin (18/11/2019).

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam Herman Rozie mengatakan bahwa petugas sudah mengambil sampel untuk mengetahui kandungan minyak hitam. Tim dari Pertamina Sambu dan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau juga sudah menyebarkan oil spill dispersant (OSD) untuk mengurangi dampak pencemaran minyak di sana.

Sebanyak enam petugas Marine Pertamina Pulau Sambu diterjunkan untuk membantu mensterilkan tumpahan minyak yang mencemari Pulau Belakang Padang. Berbekal kompresor portabel serta dispersant , satu persatu area yang tercemar tumpahan minyak mulai dilakukan pembersihan.

Zat kimia ini membantu menguraikan gumpalan besar minyak menjadi lebih kecil dan menyebar, membuatnya mudah dicerna oleh mikroba laut.

"OSD disemprot untuk mengurangi konsentrasi dan mengurai minyak agar tidak berbahaya bagi lingkungan," kata Herman Rozie.

Menurut Herman, cemaran minyak di tengah laut sudah menipis pada Minggu (17/11) tetapi di bagian pinggir air laut masih tampak hitam dengan gumpalan-gumpalan. Ia belum tahu asal minyak yang mencemari pulau yang berseberangan dengan Singapura itu.

"Kapal KPLP nomor lambung KNP 376 mengadakan patroli di seputar perairan tersebut," kata dia.

Bukan tumpahan dari Pertamina

PT Pertamina memastikan pencemaran minyak hitam yang terjadi di Pulau Belakangpadang bukan berasal dari fasilitas perusahaan di Pulau Sambu.

Unit Manager Communication Relation dan CSR Pertamina Marketing Operation Region I, Roby Hervindo. menegaskan, tidak ada kebocoran pada fasilitas Terminal Bahan Bakar Minyak di Pulau Sambu, yang berdekatan dengan perairan Pulau Belakangpadang, Batam.

"Setelah ditelusuri dipastikan genangan tersebut tidak berasal dari fasilitas Terminal BBM," ujarnya.

Tumpahan minyak ini diduga berasal dari kapal yang melintas di perairan perbatasan Batam - Singapura. Kejadian ini kerap terjadi terutama menjelang musim angin utara.

Menimbulkan kerugian

Warga yang tinggal di Pulau Belakangpadang mengeluhkan genangan minyak hitam yang mencemari wilayah perairan pulau penyangga Kota Batam tersebut. Seorang warga Pulau Belakangpadang, Azhar, mengeluhkan alat tangkap nelayan banyak yang rusak akibat tercemar minyak.

"Banyak sekali kerugian kami, rumah, kapal jadi hitam, bau minyak," kata Azhar, Senin, menambahkan bahwa alat tangkap nelayan pun jadi kena cemaran minyak.

Warga Belakangpadang lainnya, Ardi, berharap pemerintah segera menemukan pembuang limbah dan menindaknya sesuai ketentuan yang berlaku.

"Mudah-mudahan segera diketahui pelakunya dan ditindak sesuai hukum yang berlaku," kata dia.

Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kepri mencatat Pulau Batam dan Pulau Bintan menjadi daerah yang rentan terkena tumpahan minyak.

Pada tahun 2018, Gubernur nonaktif Nurdin Basirun membentuk satgas gabungan yang terdiri dari Dinas Lingkungan Hidup, TNI AL, Bakamla, KSOP, Bea Cukai dan Pertamina untuk mengantisipasi dan menanggulangi pencemaran laut yang diakibatkan tumpahan minyak (oil spill).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR