INTERNASIONAL

Turki temukan cairan diduga pelumat jasad Khashoggi

Aktivis berpakaian sebagai Putra Mahkota Saudi Mohammad bin Salman dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saling berjabat tangan dalam aksi demo menyerukan sanksi bagi Arab Saudi dan memprotes hilangnya jurnalis Saudi Jamal Kashoggi, di depan Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat, Jumat (19/10/2018).
Aktivis berpakaian sebagai Putra Mahkota Saudi Mohammad bin Salman dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saling berjabat tangan dalam aksi demo menyerukan sanksi bagi Arab Saudi dan memprotes hilangnya jurnalis Saudi Jamal Kashoggi, di depan Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat, Jumat (19/10/2018). | Leah Millis /AntaraFoto/Reuters

Pencarian jasad jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, oleh kepolisian Turki dihentikan.

Keputusan diambil setelah petugas menemukan cairan asam hidrofluorat dan bahan kimia lainnya di salah satu ruang tempat Khashoggi dieksekusi di Kedutaan Besar Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Laporan Aljazeera (Sabtu, 10/11/2018) menyebut, temuan cairan asam dan bahan kimia ini memperkuat teori bahwa jasad Khashoggi benar dimutilasi dan dilenyapkan.

Asam hidroflourat yang terbentuk dari hidrogen flourida adalah senyawa kimia sangat berbahaya karena bersifat korosif dan beracun ketika bertemu dengan udara. Gas ini dapat merusak tubuh dengan sangat cepat.

Penyelidikan awal menduga jasad Khashoggi dihancurkan dengan senyawa kimia ini dan kemudian dibuang melalui saluran air. Oleh karenanya, meski pencarian jasad dihentikan, penyelidikan terkait motif pembunuhan akan tetap dilanjutkan.

Sebelum bertolak ke Paris untuk menghadiri peringatan 100 tahun Perang Dunia I, Sabtu sore waktu Istanbul, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan dirinya telah membagikan rekaman yang terkait dengan pembunuhan Khashoggi kepada Amerika Serikat (AS), Inggris, Arab Saudi, Jerman, dan Prancis.

Erdogan tidak memerinci apa isi rekaman yang dibagikannya tersebut. Namun, penyerahan rekaman diyakini dapat menjadi bukti tambahan pembunuhan kolumnis The Washington Post ini.

Rekaman ini juga bisa membuat posisi Arab Saudi semakin tersudut. Arab Saudi memang mengakui bahwa Khashoggi dibunuh, namun tetap mengelak adanya keterlibatan putra mahkota Mohammed bin Salman (MBS).

Di sisi lain, Erdogan tidak pernah menuduh sang pangeran terlibat, namun tetap bersikeras membongkar motif di balik pembunuhan ini.

Erdogan percaya, 15 pria Arab Saudi yang tiba di Istanbul tak lama sebelum kematian Khashoggi berangkat atas misi terencana. Apalagi, seluruh pria yang diduga terlibat ternyata memiliki kedekatan dengan putra mahkota.

"Kami telah menyerahkan rekaman itu. Mereka akan mendengarkan percakapan itu, mereka mengetahuinya. Tak perlu mendistorsinya," tegas Erdogan, dikutip dari laporan VOA.

Kepada The New York Times, Gedung Putih AS menolak mengatakan apakah pihaknya sudah memiliki rekaman yang dibagikan oleh Turki. Penolakan ini dimaklumi. Rekaman percakapan ini bisa menimbulkan kecanggungan di antara Presiden AS Donald Trump dengan Arab Saudi.

Jika rekaman itu benar menunjukkan pembunuhan Khashoggi oleh Arab Saudi, maka sikap Trump yang enggan memberikan sanksi tegas kepada sekutunya itu bisa menjadi bumerang.

Dua pekan setelah pembunuhan Khashoggi, Trump pernah meminta bukti rekaman pembunuhan, baik suara maupun gambar, kepada Turki. Namun, ungkapan keras Trump seolah hanya sebuah retorika belaka.

Trump menyebut pembunuhan Khashoggi tidak bisa dibenarkan, namun dirinya tak lantas memberi sanksi tegas. Alih-alih, Trump hanya memberikan sanksi ringan seperti memblokir pengisian bahan bakar minyak untuk jet tempurnya dalam misi di Yaman.

AS juga mengelak mengatakan keterlibatan MBS dalam pembunuhan Khashoggi. Padahal, sejumlah diplomat dan penyidik senior menyatakan bahwa operasi pembunuhan liar (rogue killing) ini tidak akan bisa terlaksana tanpa persetujuan "kerajaan".

Lemahnya sikap AS disinyalir karena kedekatan hubungan MBS dengan menantu Trump, Jared Kushner.

Trump mengaku akan mengambil sikap tegas atas kejadian pelanggaran hak asasi manusia (HAM) ini setelah mendengar hasil penyelidikan independen oleh pemerintah Arab Saudi yang rencananya akan diumumkan pada pekan depan.

"Aku akan menyampaikan opini yang lebih tegas terkait insiden ini pekan depan. Kita bekerja sama dengan semua pihak, Kongres, Turki, dan juga Arab Saudi," kata Trump dalam jumpa pers, Selasa (6/11/2018).

Trump juga dijadwalkan akan hadir dalam peringatan 100 tahun Perang Dunia I. Belum diketahui, apakah Trump akan memiliki sesi perbincangan khusus dengan Erdogan terkait rekaman pembunuhan tersebut.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan | STR /EPA-EFE

Sementara itu, Turki terus mempertanyakan komitmen Arab Saudi untuk bekerja sama mengungkap konspirasi keji ini. Sejak awal kasus ini mencuat, Arab Saudi selalu mengubah narasi pembunuhan.

Awalnya, Arab Saudi tak mengakui pembunuhan dengan menyebut Khashoggi sudah keluar dari konsulat dan kemudian menghilang. Setelah itu, Khashoggi disebut tewas akibat perkelahian dengan petugas di dalam konsulat. Terakhir, Arab Saudi akhirnya mengakui Khashoggi dibunuh dalam misi terencana.

Perubahan narasi itu disusul dengan kesediaan Arab Saudi menggelar investigasi bersama Turki. Namun belakangan, Erdogan menyebut sejumlah pejabat Arab Saudi kerap berkilah dan menutup-nutupi kejadian pembunuhan.

"Mereka (pejabat Arab Saudi) juga menolak permohonan Turki untuk melakukan pemeriksaan sekali lagi di rumah duta besar Arab Saudi, setelah ditemukan sampel bahan kimia yang sama di halaman rumahnya," lapor jurnalis Aljazeera, Jamal Elshayyal.

Seorang jaksa penting Arab Saudi, Saud al-Mojeb, juga dilaporkan telah meninggalkan Istanbul dengan alasan penyelidikan gabungan ini adalah bentuk kekecewaan bagi kedua belah pihak.

"Pihak Arab Saudi sepertinya hanya datang ke Istanbul untuk mengorek informasi yang dimiliki Turki terkait pembunuhan, bukan untuk membagi informasi yang dibutuhkan dalam kasus ini," tukas penasihat Erdogan, Yasin Aktay.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR