SIARAN TELEVISI

TVRI masih sulit ditonton dengan antena terestrial

Sebuah antena UHF/VHF untuk menangkap siaran TV terestrial tampak berdiri di atap rumah.
Sebuah antena UHF/VHF untuk menangkap siaran TV terestrial tampak berdiri di atap rumah. | M. Rinandar Tasya /Shutterstock

Ada kabar menggembirakan bagi penggemar Liga Primer Inggris (EPL) di Indonesia. TVRI akan menyiarkan langsung sejumlah pertandingan sepak bola dari kompetisi paling populer di dunia tersebut mulai 10 Agustus 2019.

Artinya, semakin banyak penggemar sepak bola di Indonesia yang bisa menyaksikan siaran pertandingan EPL secara langsung tanpa bayar. Mendapatkan lisensi dari pemegang hak siar Premier League di Indonesia, Mola TV, TVRI akan menyiarkan dua pertandingan dalam sepekan lewat siaran analog dan digital.

Siaran langsung EPL menjadi inovasi baru stasiun TV berstatus Lembaga Penyiaran Publik (LPP) yang sebagian anggarannya ditanggung negara ini. Sejak pertengahan 2018 mereka telah berupaya menghadirkan berbagai acara, termasuk tayangan langsung olahraga, untuk kembali menarik perhatian warga.

Kehadiran TV swasta dan kabel, serta menjamurnya internet, membuat perhatian terhadap stasiun TV nasional itu makin berkurang. Survei AC Nielsen pada 2017 mencatat rating TVRI hanya 1,2-1,4 persen, terendah di Indonesia.

Perbaikan kualitas program dan penayangan program populer seperti EPL diharapkan bisa meningkatkan popularitas stasiun TV yang berdiri sejak 24 Agustus 1962 tersebut. Dalam koridornya sebagai televisi publik; memberikan pelayanan informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial, serta melestarikan budaya.

"We fight back, kami kembali. Kembali untuk bekerja lebih keras," tegas Helmy Yahya, direktur utama LPP TVRI, dalam wawancara dengan wartawan senior Beritagar.id, Yusro Santoso, bulan lalu.

Akan tetapi, benarkah siaran TV yang berusia lebih dari setengah abad itu sudah dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia?

Saat ini TVRI memiliki 1 stasiun nasional dan 29 stasiun daerah. Penyebaran sinyalnya didukung oleh 376 satuan transmisi (transmitter) yang menyebar di sebagian besar wilayah Indonesia.

Semua itu, menurut Helmy Yahya, membuatnya bisa menjangkau 60 persen dari 264 juta penduduk Indonesia, atau sekitar 160 juta orang. Jangkauan luar biasa jika berbicara soal jumlah penonton.

Namun, berbeda halnya jika melihat tingkat sebaran siaran TVRI ke seluruh wilayah Indonesia. Data Potensi Desa (Podes) dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 menunjukkan bahwa siaran TVRI belum menjangkau wilayah Indonesia secara merata. Masih terpusat di Jawa.

Angka penonton TVRI yang disebut Helmy Yahya di atas, bisa dipastikan sebagian besar berasal dari Pulau Jawa, yang dihuni 53 persen dari 264 juta penduduk Indonesia.

Mayoritas desa/kelurahan di Jawa, 73,4 persen dari 25.269 desa/kelurahan, bisa menikmati siaran TVRI hanya dengan membeli antena terestial (UHF/VHF) yang berharga murah, mulai sekitar Rp30 ribuan.

Tetapi jangkauan terestrial itu turun jauh, bahkan hingga di bawah 50 persen pada berbagai pulau lain.

Sinyal TV terestrial memang sulit menembus daerah yang ditutupi bukit atau pegunungan. Stasiun TV harus memasang lebih banyak transmitter atau warga mesti mengangkat antena mereka setinggi-tingginya.

Walau demikian, bukan berarti mereka sama sekali tidak bisa menikmati siaran TVRI. Data BPS menunjukkan 93 persen atau 78.627 desa/kelurahan bisa mengakses TV pemerintah itu. Namun, 64 persen dari jumlah tersebut mengaku harus menggunakan parabola atau berlangganan TV berbayar untuk nonton TVRI.

Artinya, lebih banyak warga yang harus mengeluarkan uang ekstra untuk bisa nonton TVRI. Sialnya lagi, para pengguna parabola dan TV kabel kemungkinan besar takkan bisa menyaksikan siarang langsung Liga Inggris. Terkait hak siar, siaran TVRI di parabola/TV kabel akan diacak saat laga EPL berlangsung.

Ada hal menarik lain yang ditemukan tim Lokadata Beritagar.id saat menelusuri data BPS terkait akses TV warga yang hanya menggunakan antena terestrial. Beberapa desa bisa menyaksikan siaran TV swasta, tetapi tak bisa mengakses TVRI.

Di Jawa Timur, misalnya, ada 62 desa/kelurahan yang penduduknya bisa nonton TV swasta tapi sama sekali tak bisa menyaksikan TVRI.

Walau demikian, dalam data BPS itu tidak disebutkan apakah TV swasta yang disaksikan warga desa/kelurahan itu adalah TV swasta nasional--seperti RCTI, SCTV, ANTV, dan Indosiar--ataukah TV swasta daerah, misalnya JTV di kawasan Jawa Timur.

Saat ini TVRI berupaya untuk memperluas jangkauan dan memperbaiki kualitas siaran dengan mengembangkan siaran berbasis digital. Mereka, seperti dikutip dari situs web Kementerian Komunikasi dan Informatika, memasang target untuk bisa menjangkau 72 persen wilayah Indonesia dan 88 persen penduduk pada akhir 2019.

Catatan redaksi: Artikel ini telah dimutakhirkan, khususnya mengenai penjelasan fungsi dan peran TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik atau LPP (7/7/2019)
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR