PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Uni Eropa tak bermaksud melarang minyak sawit

Pekerja memuat tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Pematang Raman, Kumpeh, Muarojambi, Jambi, Jumat (15/2/2019).
Pekerja memuat tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Pematang Raman, Kumpeh, Muarojambi, Jambi, Jumat (15/2/2019). | Wahdi Setiawan /Antara Foto

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Guerend, menyampaikan pembelaan soal rancangan legislasi tentang energi terbarukan yang menjadi polemik sejumlah negara pengekspor minyak sawit, termasuk Indonesia. Mereka tak bermaksud melarang minyak sawit masuk Benua Biru.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Beritagar.id, Kamis (21/3/2019), Kedutaan Besar Uni Eropa untuk Indonesia menjelaskan, arahan energi terbarukan (Renewable Energy Directive II/RED II) yang dituangkan dalam regulasi turunan (delegated act) dari Komisi Eropa tersebut bukan akhir dari proses kebijakan.

Uni Eropa berkomitmen untuk memastikan keberlanjutan bioenergi, dan terus maju untuk memenuhi target energi dan iklim 2020 dan 2030. Bahkan mereka terus menuju Energy Union dengan memanfaatkan energi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari kerangka kebijakan komprehensif, Uni Eropa menargetkan penggunaan energi terbarukan untuk tahun 2030, sekurang-kurangnya 32 persen. Target itu telah disetujui oleh Parlemen Eropa dan Negara-negara Anggota Uni Eropa pada Juni tahun lalu melalui REDII.

Dalam REDII juga disebutkan bahwa mulai Januari 2024 akan ada pengurangan bertahap penggunaan biofuel dari jenis bahan baku tertentu. Untuk mengimplementasikan arahan tersebut, Komisi Eropa telah meloloskan regulasi turunan (delegated act) pada 13 Maret 2019 lalu.

Dalam kurun dua bulan masa pengkajian, lembaga ini memiliki hak untuk menyatakan keberatan. Bila tidak ada keberatan, maka setelah kurun waktu tersebut, aturan ini akan disahkan atau diterbitkan dalam Jurnal Resmi Uni Eropa (Official Journal of the European Union).

Nilai impor minyak sawit Uni Eropa dari Indonesia pada tahun 2018 menurun sebesar 22 persen dibandingkan tahun 2017. Namun sebagian minyak sawit yang biasa diekspor ke Uni Eropa untuk diproses, pada tahun 2018 telah diubah menjadi biodiesel di Indonesia dan dijual ke Uni Eropa.

Walaupun harga minyak sawit jatuh, nilai gabungan ekspor minyak sawit Indonesia dan biodiesel ke Uni Eropa pada 2018 hanya turun sebesar 2 persen dibanding tahun 2017.

Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah tim Lokadata Beritagar.id, ekspor minyak sawit ke Eropa dari Indonesia terjadi penurunan pada 2018 menjadi 4,8 juta ton atau senilai $3 miliar AS. Nilai ekspor ini menurun 15,99 persen dari tahun sebelumnya, $3,5 miliar AS. Tiga negara tujuan ekspor terbanyak di Eropa adalah Spanyol, Belanda, dan Italia.

Biofuel merupakan elemen penting dari kebijakan energi terbarukan Uni Eropa. Namun, harus ada aturan yang memastikan bahan baku (feedstock) biofuel merupakan bahan berkelanjutan dan tidak menyebabkan deforestasi melalui perubahan penggunaan lahan tidak langsung (indirect land use change/ILUC).

Arahan energi terbarukan akan menentukan pendekatan baru guna memastikan bahwa tanaman yang digunakan untuk memproduksi biofuel tidak berkaitan dengan deforestasi. Terkait kebijakan tersebut, Uni Eropa berdalih tidak ada biofuel atau bahan baku tertentu yang menjadi target pelarangan.

"Semua minyak nabati diperlakukan setara dan minyak sawit tidak diperlakukan sebagai bahan bakar nabati yang buruk," sebutnya, seraya menyebutkan bahwa pasar Uni Eropa (28 negara anggota) sepenuhnya terbuka bagi minyak sawit. Tidak ada sama sekali larangan terhadap minyak sawit.

Dia mengklaim, Uni Eropa juga merupakan pasar kedua untuk sawit Indonesia (di bawah India dan di atas Tiongkok). Sebagian besar minyak sawit Indonesia memasuki Uni Eropa dengan tarif nol atau tarif yang sangat rendah (22 persen tanpa bea masuk dan 55 persen di bawah bea 5,1 persen).

Hingga April 2018 dari catatan Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah tim Lokadata Beritagar.id, nilai ekspor minyak kelapa sawit Indonesia mencapai $5,87 miliar AS. Minyak kelapa sawit merupakan 10 komoditas utama ekspor nonmigas yang masuk dalam komoditas industri pengolahan.

India merupakan negara tujuan ekspor minyak kelapa sawit terbesar mencapai $1,06 miliar AS atau 18,1 persen dari total nilai ekspor minyak kelapa sawit Indonesia. Kemudian negara tujuan ekspor terbesar kedua adalah Tiongkok $839,9 juta AS. Dari 10 negara ini, ada tiga negara yang berasal dari Uni Eropa yaitu Belanda $242 juta AS, Spanyol $233,1 juta AS, dan Italia $215,4 juta AS.

Boikot produk Eropa

Pemerintah Indonesia saat ini mempertimbangkan untuk memboikot sejumlah produk dari negara-negara Uni Eropa, termasuk melawan diskriminasi komoditas kelapa sawit selama ini lewat Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO).

"Kami serius mempertimbangkan ini. Kalau sekarang 20 juta rakyat (petani sawit) kita menjadi sengsara gara-gara itu, ayo! Presiden tidak mau rakyatnya sengsara gara-gara itu dan presiden bilang lawan!" ujar Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan di Bekasi, Jawa Barat, Senin (25/3), dikutip Tempo.co.

Sebelumnya, Luhut menegaskan Indonesia tidak akan ciut dengan perlakuan diskriminatif Uni Eropa terhadap produk sawit dan turunannya. Indonesia siap membalas, kata Luhut dalam jumpa pers di Ruang Nusantara II, Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta Pusat, Rabu (20/3).

Luhut menekankan, hubungan dagang Indonesia dengan Uni Eropa tak melulu tentang sawit--komoditi yang saat ini mendapat predikat merah di Benua Biru itu. Sebaliknya, sejumlah negara anggota Uni Eropa juga banyak yang menggantungkan pasar Indonesia untuk memasarkan produknya.

Indonesia catatan Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah tim Lokadata Beritagar.id, paling banyak mengimpor komoditas dari Jerman dengan nilai $3,9 miliar AS atau setara dengan 28,08 persen (dari total impor negara Uni Eropa). Impor terbanyak kedua dari Italia $1,84 miliar AS (13,01 persen), disusul oleh Prancis sebanyak $1,66 miliar AS (11,70 persen), dan Belanda senilai $1,23 miliar AS (8,76 persen).

"Kita harus tegas. Jangan mau didikte. Kepentingan nasional tetap diutamakan, masa kalau kelapa sawit kita mati mau dibiarkan. Kita akan pertimbangkan untuk boikot produk Uni Eropa," tegas Luhut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR